Penulis: Didik Hendri Telisik Hati
BN News.com – Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia memborong enam predikat “4 Stars” atau penghargaan tertinggi dalam konvensi internasional 27TH Asia Pacific Quality Organization (APQO).
Terpisah, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, Kamis (29/9) menyampaikan bahwa, prestasi ini menjadi bukti bahwa inovasi yang telah dilakukan Petrokimia Gresik tidak hanya memberikan added value sehingga berdampak pada perolehan laba-rugi perusahaan, tapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik.

“Inovasi bagi Petrokimia Gresik tidak lagi sebatas budaya dan tata nilai di perusahaan, tapi sudah menjadi DNA bagi seluruh Insan Petrokimia Gresik, sehingga inovasi yang kami lahirkan mampu menginspirasi dan memberikan kontribusi positif bagi industri di dalam negeri, dan juga internasional,” tandas Dwi Satriyo.
Keenam inovasi Petrokimia Gresik yang berhasil membawa pulang predikat “4 Stars” yaitu, pertama Petroport yang merupakan aplikasi digital untuk pengelolaan pelabuhan Petrokimia Gresik. Aplikasi ini memiliki fungsi pengawasan, pencatatan, pelaporan serta penentuan rekomendasi keputusan secara digital dan otomatis (automatic decision systems) yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja bongkar muat Pelabuhan Petrokimia Gresik.
Benefit yang dirasakan dari pengaplikasian Petroport diantaranya mengurangi biaya tenaga kerja bongkar muat, mengurangi kerugian perusahaan dari denda demurrage karena keterlambatan bongkar muat, serta memberikan potensi penghematan bagi perusahaan sebesar Rp23,5 miliar/tahun.
Kedua, Petrokimia Gresik melalui QCC P2O5 mampu menciptakan desain baru untuk Heat Exchanger E-2502 di Pabrik Asam Fosfat. Inovasi ini mampu menurunkan potensi penyimpangan kualitas kandungan P2O5 dari 11,67 kali menjadi nol kali dalam sebulan, sekaligus menurunkan biaya komsumsi steam sebesar Rp1,2 miliar/bulan.
Ketiga, inovasi Petrokimia Gresik berikutnya dengan predikat “4 Stars” adalah Petrostar, yang merupakan aplikasi admisnitrasi Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui digitalisasi ini, mampu mengehemat biaya pengadaan maupun maintenance alat presensi karyawan sebesar Rp1,4 miliar. Selain itu, Petrostar juga mampu meminimalisasi risiko penyebaran virus Covid-19.
Inovasi keempat adalah digitalisasi sistem magang dalam menciptakan SDM Indonesia unggul yang dilaksanakan oleh QCP Prakerin. Melalui inovasi ini pengembangan kompetensi mahasiswa siap kerja mencapai 6.331 peserta, serta menurunkan risiko risiko penyebaran Covid-19.
Kelima, Petrokimia Gresik melalui QCC OPTIMA berhasil menciptakan sistem baru “Bagging Optima System” (BOS) yang terbukti mampu menurunkan potensi kerugian yang timbul akibat downtime pada bagging system sebesar Rp 5.6 miliar/bulan.
Terakhir, Papaliso yang merupakan enzim dari getah pepaya memiliki fungsi sebagai bio desinfektan pada produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) milik Koperasi Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik (K3PG). Enzim ini terbukti mampu meningkatkan kualitas produk air minum lebih higienis, sehat, aman dan ramah lingkungan.
Dwi Satriyo menambahkan, konvensi internasional ini sekaligus menjadi wadah untuk sharing knowledge bagi Insan Petrokimia Gresik karena tim inovasi terbaik dari berbagai dunia tampil dalam event ini. Untuk itu, ia berharap, prestasi ini dapat memotivasi Insan Petrokimia Gresik lainnya untuk terus berinovasi.
Sebagai informasi, keikutsertaan Petrokimia Gresik di ajang APQO kali ini merupakan yang ketiga kalinya. Dimana pada APQO ke-27 ini diikuti oleh puluhan perusahaan dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik, dan Petrokimia Gresik berhasil mempertahankan predikat tertinggi selama keikutsertaannya.

“Inovasi ini merupakan persembahan Petrokimia Gresik untuk seluruh stakeholder khususnya para petani agar mendapatkan produk Petrokimia Gresik yang kompetitif dan berkualitas dalam mendukung kedaulatan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani,” pungkas Dwi Satriyo. (Didik Hendri Telisik Hati)
















