Penulisš Mbah Singo/Telisik Hati
BN News.com – Menulis figur seorang pemimpin mungkin sangat mudah buat sebagian orang yang diberikan kelebihan Allah pernah menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin sebuah organisasi, pemimpin lembaga non pemerintah maupun pemerintah. Namun akan beda cerita jika yang menulis adalah seseorang yang tidak diberikan kelebihan pernah menjadi seorang pemimpin atau juga tidak diberikan kelebihan menjadi seorang penulis seperti saya.
Saya akan menulis ala kadarnya sesuai dengan isi hati, perasaan dan fikiran saya. Jika ada benarnya itu murni atas petunjuk-Nya. Jika salah, itulah saya dengan segala kekurangannya.
Pemimpin, satu kata penuh makna. Di mana di setiap perkumpulan, di setiap komunitas, di setiap kampung, desa, kota, sampai negara bahkan perkumpulan antar negara negara butuh seorang pemimpin. Sebagaimana penggalan ucapan Umar bin Khattab “Laa Islama illa bil Jamaah, wala jamaata illa bil imaroh.” Tidak ada (tidak terwujud) Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak dikatakan berjamaah, kecuali dengan berpemimpin.
Begitu pentingnya keberadaan seorang pemimpin, sehingga peribasa mengatakan, rakyat tanpa seorang pemimpin bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Atau bagai seorang musafir yang kehilangan arah, tidak tahu ke mana kaki hendak melangkah. Sebab pemimpin adalah tempat mengadu dari segala persoalan yang dialami rakyatnya. Tempat berlindung dari mara bahaya.
Pemimpin juga bagaikan Ruh dalam tubuh manusia, jika rakyat adalah jasadnya. Ruh tidak boleh sakit, sebab jika ruhnya sakit, sakit pula jasadnya. Ia juga bagai pelita masyarakat di saat gelap gulita. Begitulah seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari disebuah masyarakat.
2024 sebentar lagi rakyat Gresik akan melakukan pesta demokrasi, pemilihan pemimpin daerah. Seperti biasa, sebagai mana musim-musim pemilu sebelumnya, tokoh-tokoh kita akan saling berebut untuk mendapatkan kursi sebagai pemimpin di kota Santri kota Industri.
Sebagai kaum muda, mari menjadi Agent Of Change “Agen Perubahan”. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
Kita harus selektif, jangan biarkan kota santri jatuh pada orang yang kurang tepat, yaitu orang yang suka menipu masyarakat. Orang yang suka membohongi masyarakat dengan janji – janji politik yang tidak ia tepati. Orang yang menghalalkan segala cara demi tercapai maksud dan tujuannya. Orang yang diawal pasti berani beli suara, mengeluarkan pundi – pundi rupiah, dan ketika jadi modal harus kembali.
Lur, Gresik ora didol, jangan dijual apalagi cuma senilai seratus dua ratus, uang habis dalam hitungan sehari, risiko yang didapatkan rakyat sampai nunggu pilihan lagi.
Saya akhiri tulisan saya ini dengan sepenggal kalimat “Keadilan tanpa pemimpin itu mustahil adanya, pemimpin tidak adil akan sengsara rakyatnya.”
*Mbah Singo (PenaHidup), 01 April 2023
















