Penulis M. Ihwan/Telisik Hati
BN News.com – Saya teringat pengajaran dari guru-guru dan juga pengalaman beberapa teman bagaimana seorang pemimpin memimpin pengikutnya untuk melewati halimbubu krisis, ya krisis karena wabah seperti pandemi Covid-19 yang lalu, bisa diakibatkan perang, dapat juga karena bencana alam, operasional bisnis, dan lain-lain. Kira-kira saya mencatat beberapa hikmah dan pembelajaran untuk dapat menjadi tajuk diskusi kita mengenai hal ini.
Pertama, pemimpin dalam situasi krisis harus mulai dengan asumsi bahwa problem is worse than it appears. Sehingga langkah mengatasinya termasuk merumuskan plan A, B, C, bahkan contingency plan-nya harus kuat. Bukan untuk membuat jadi pesimis atau malah lewah pikir, tapi realistis dan memiliki hitungan yang cermat lagi presisi. Sehingga aksinya dalam menangani krisis jadi cepat dan tepat. Prinsipnya, jangan menyepelekan sesuatu ketika krisis datang.
Kedua, saat krisis datang, seorang pemimpin harus tampil, mesti show up!.. Show that we are the one who set the tone!, Sebagai pemimpin, setiap hari kita memiliki kesempatan untuk ‘set the tone’ bagi tim dan organisasi kita, ini berkaitan dengan membangun suasana hati atau karakter tertentu untuk sesuatu yang akan menentukan sikap atas suatu peristiwa, dan menentukan cara peristiwa atau aktivitas itu akan berlanjut, terutama suasana hati orang-orang yang terlibat. Memimpin dalam situasi krisis udah nggak boleh lagi di belakang layar apalagi meminta orang lain yang memimpin. Tim penanganan bisa dan boleh saja dibentuk, tapi yang tampil dan berkomunikasi dengan pengikutnya haruslah pemimpin itu sendiri.
Ketiga, meminjam istilahnya Handry Satriago, CEO GE Indonesia, dalam situasi krisis, seorang pemimpin harus “be Transparent. Candid”. Saya suka istilah ini. Ia harus mengetahui masalah dengan jelas dan disampaikan kepada pengikut dan juga timnya dengan transparan, “how i understand the problem”. Agar ada chemistry diantara pengikutnya dan tidak terjadi panik kalau masalah disampaikan dengan kejelasan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengatasinya. Komunikasi saat krisis ini super duper penting sehingga seorang pemimpin dapat men-deliver pesan krisis keseluruh jajaran di bawahnya sehingga menjadi pemahaman dan kewaspadaan bersama. Jangan sampai Ketika seorang pemimpin mendeklarasikan situasi krisis, ada unit yang malah berpesta, malah tidak turut prihatin.
Keempat, memimpin dengan fokus. Walaupun kadang tidak populis, tapi suatu keputusan saat krisis harus segera diambi. Ulangi, harus segera diambil. Bila terjadi polemik, tinggal komunikasikan saja rasionalitasnya. Segera setelah itu program-program dieksekusi dengan tingkat monitoring yang sangat tinggi. Selalu akan ada orang yang tidak senang, “that’s ok.. we cannot satisfy everybody, but it is our job to navigate the ship through the danger”. Itu yang sering kita dengar dari Donald Trump, mantan Presiden Amerika.
Kelima, bertindak dengan kerendahan hati!. “Power is dangerous unless you have humility.”, itu kata Richard Joseph Daley, mantan Walikota Chicago yang menjabat selama 21 tahun, terlama dalam sejarah Amerika. Pemimpin harus selalu siap belajar dan mendengarkan masukan. Jangan khawatir terlalu banyak mendengarkan nanti bingung mengambil keputusan. Jangan gentar dengan adagium “too much informations will kill you”, yang dikhawatirkan dr. Devid Lewis, seorang neuropsychologist dari Prancis. Pemimpin yang handal saat menghadapi krisis pada akhirnya akan bisa memilah masukan dan kemudian memutuskan. Output dari kepemimpinan adalah keputusan.
Keenam, pemimpin yang baik saat memimpin organisasi melewati krisis biasanya jadi malah tambah kreatif dalam memilah dan memilih langkah-langkah mencari solusi. Situasi sulit biasanya memberikan kemampuan untuk memilkirkan hal yang tidak terpikirkan. Saat krisis datang, ia akan mempergunakan hal itu. Jangan jadikan doa dan harapan sebagai strategi. Doa perlu selalu dilakukan, harapan harus selalu dihidupkan, tapi itu bukan strategi mengatasi krisis.
Ketujuh, seorang pemimpin dalam situasi krisis harus punya resiliensi. Punya daya tahan dalam menghadapi krisis, istilah ekologinya punya daya lenting. Hantaman pasti akan selalu datang dari kiri dan kanan. Pemimpin yang baik akan selalu fokus pada langkah yang dilakukan. Tidak perlu jaim apalagi baper atau bahkan blaming others. Saat krisis tidak ada waktu untuk itu. (*)
*Penulis Muhammad Ihwan
Muhammad Ihwan. Kelahiran Yogyakarta, tinggal di Gresik. Suka membaca dan menulis, seneng marketing dan public relations. Pernah menjadi Juru Bicara Perusahaan dan mengelola penjualan retail untuk seluruh wilayah Indonesia, serta mengelola program TJSL, CSR, dan comdev. Saat ini bertugas mengembangkan produk-produk baru perusahaan.
















