JALU KARYAKU
Oleh : Anang Prasetyo
“Ada berarti berhubungan, karena hubungan adalah inti dari keberadaan… tidak ada sesuatu tanpa adanya yang lain”.
(Swimme & Berry, via E.B Johnson)
Ketika sahabat saya, Arik S. Wartono, pembina Daun art school menyodorkan nama murid binaannya untuk dituliskan dalam katalog, hati saya terkesiap. Dari namanya, Samurai Jalu, menunjukkan bagaimana karakter anak ini. Batin saya mengatakan lirih, bahwa pasti ada sesuatu dari anak ini. Bukankah samurai adalah ksatria Jepang? Sementara Jalu dari bahasa Jawa, yang bahasa Indonesianya adalah taji. Taji, atau jalu dalah “senjata” ayam jago. Maka ananda Samurai Jalu, adalah calon ksatria yang senjatanya adalah jalu atau taji itu.
Ternyata benar, dari karya – karyanya terungkap siapa sosok pelukis berusia 10 tahun ini. Goresan karyanya demikian dinamis, menggeliat. Sapuan kuasnya benar-benar menunjukan keberanian dalam mengungkap garis secara tegas . Ditunjang dengan warna yang berani dan ngejrenk. Semakin menunjukkan kepribadian pelukis yang kuat dan tak mudah menyerah. Selayaknya semangat bushido yang dimiliki ksatria samurai.
Ini juga menarik diungkap, kekayaan warna dalam setiap karyanya menunjukkan konsistensi Jalu dalam berkarya. Sensibilitas warnanya demikian kokoh. Penempatan komposisinya juga sangat mendukung terhadap keberanian menumpahkan warna- warni cat acrylik nya.
Maka, jujur saja, sudah beberapa nama anak sanggar Daun yang saya tulis. Baik tentang pelukis dan karya-karya mereka. Yang saya dapatkan, hampir seluruhnya menunjukkan kekayaan talenta yang luar biasa. Inilah kekuatan yang dimiliki oleh anak- anak Sanggar Daun.
Walhasil, tatkala saya menuliskan catatan pengiring ini murni sebagai catatan perjalanan anak – anak Daun dalam menapak jejak mereka semenjak dini dalam berkesenian. Sekaligus sebagai saksi, bahwa karya – karya anak anak ini memang , mengutip kata-kata Dr. Djuli Djatiprambudi, anak ajaib.
Akhirnya, saya pun ikut bergembira dan berbinar hati menyambut permintaan saudara Arik S. Wartono untuk memberikan catatan kreatifitas ananda Samurai Jalu ini.
Sebagian kita mungkin banyak yang tidak tahu, kecuali bagi pelukis yang tentu sudah mafhum, betapa pameran tunggal adalah impian setiap seniman. Betapa banyak pelukis ingin menggelar pameran tunggal, namun betapa banyak tantangan, rintangan serta kendalanya.
Sebab, pameran tunggal merupakan wujud dan hakikat berkesenian itu sendiri.
Itulah mengapa pelukis Masdibyo demikian getol menggelar pameran tunggal hingga ke 44 kali. Sebab ia adalah catatan kisah dan perjalanan kehidupan itu sendiri. Dedikasi dan kecintaan kepada kesenian secara total ditumpahkan dalam menjaga semangat dan ritme dalam berkesenian.
Maka, jangankan pelukis muda dan tua, bisa dimaklumi, tidak banyak yang berani mengambil pameran tunggal sebagai wujud eksistensi diri seniman. Terlebih ini adalah anak-anak. Samurai Jalu saya rasa demikian. Di usia 10 tahun ia justru meluangkan waktu bermainnya justru melalui melukis itu sendiri. Cat yang ia torehkan di kanvas adalah temannya. Garis dan bentuk yang ia gores adalah sahabatnya. Sehingga tatkala teman-temanya hadir melihat pameran ini misalnya, maka disitulah mediumisasi pertemanan ia bangun.
Sekali lagi, tidak banyak pelukis yang menggelar karya pameran tunggal. Meskipun bagi yang belum berpameran tunggal, secara apologetik, mengatakan bahwa pameran tunggal bukan ukuran dalam berkesenian.
Maka jika kali ini Samurai Jalu menggelar karya-karyanya melalui pameran tunggal ini, maka ini adalah suatu langkah ksatria, bernas dan bertaji.
Menjadi pelukis di usia anak-anak dengan tempaan penuh hangat dan dinamis dari seorang guru Arik S. Wartono yang menjadi mentor, sekaligus sahabat yang memaiyahi (baca : membersamai) Samurai Jalu, maka hal ini sama artinya, perwujudan tangan dingin si Guru.
Saya yakin, pak Guru bernama Arik S. Wartono ini sesungguhnya memainkan peranan sebagaimana pendidik Amerika, Elaine B Johnson katakan :
“Kita tidak dapat mengajar anak -anak yang tidak kita kenal. kita tidak dapat memotivasi remaja (anak), jika kita tidak tahu mereka hebat dalam hal apa. Apa yang sulit bagi mereka, dan apa minat mereka.
(Sehingga dalam konteks ini Sekolah, baca : Sanggar Daun, pen) bisa menjadi tempat bersemayam kegembiraan, tempat harapan, bukan keputus asaan, tempat keberhasilan bukan kekalahan, jika para pendidik memberikan perhatian aktif terhadap setiap pribadi siswa”.
Demikianlah, pameran tunggal, menurut hemat saya, adalah salah satu cara untuk memotivasi Samurai Jalu demi meraih kegembiraan yang akan ia alami dan rasakan. Sekaligus sebagi wujud keberhasilan dan perhatian aktif terhadap diri pribadi Samurai Jalu. Baik oleh orang tuanya, maupun bagi gurunya.
Pada akhirnya, menggelar pameran tunggal, sebagaimana pameran bersama, adalah suatu kejutan estetik dan progres berkesenian yang artistik kreatif. Pertama bagi peta kesenirupaan Indonesia dan dunia. Setidaknya hal itu, memberikan harapan baru bahwa generasi emas Indonesia benar-benar mewujud.
Sebagai penutup, saya teringat dengan kata-kata saya dalam buku Menggambar dengan Memori Bahagia (2016:15) ” Maka pilihan satu-satunya dalam pembelajaran adalah membangun mental positif dan menggiring anak kepada suatu pengalaman yang membahagiakan diri anak tersebut. Pengalaman yang membahagiakan dan menggembirakan merupakan modal utama dalam proses belajar mengajar”.
Semoga gelaran pameran tunggal ini membahagiakan sekaligus menjadi pengalaman yang mengokohkan konsep diri Samurai Jalu secara pribadi, dan utamanya mampu menggembirakan para penonton karya-karyanya.
Semoga…
(Penulis adalah pelukis dan pemateri Workshop Menggambar Kebahagiaan dengan metode AMB Aktivitasi Memori Bahagia. Tinggal di Tulungagung)
Kamis , 16 Muharam 1445/3 Agustus 2023
Sumber bacaan :
1. Anang Prasetyo, Menggambar dengan Memori Bahagia, penerbit Paramarta, 2016
2.Elaine B Johnson , Contextual Teaching and Learning, Mizan Learning Centre, 2007
















