Penulis📰✍️ Humas DKG/Telisik Hati
BN News – Masyarakat Islam Jawa sudah sejak lama memiliki kebiasaan unik terhadap hewan kurban. Salah satunya dengan cara merawat dan menghias hewan kurban untuk diantar menuju tempat penyembelihan.
Di Kabupaten Gresik, sebagian warga memiliki tradisi unik yang dilakukan pada saat perayaan Idul Adha. Seperti halnya di kompleks Kalitutup Kecamatan Gresik, para warga mempopulerkan sebuah kegiatan bertajuk Culture And Traditions Eid Adha Kalitutup dengan rangkaian inti Arakan Kurban atau Kontes Kambing.
Dalam perhelatan tersebut, para warga berkumpul menyaksikan hewan kurban (khususnya kambing) yang telah dihias rapi, untuk kemudian diarak bersama-sama mengelilingi kampung di kawasan perkotaan.
Mereka berjalan sejauh 2 km dengan rute Kelurahan Sukodono, menuju Desa Kemuteran dan berhenti di Finish di Langgar Maghfur Kalitutup, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Giat meriah dalam rangka menyambut hari besar islam tersebut menghadirkan berbagai jenis kambing yang sudah dihias rapi.
Ketua pelaksana Arakan Kurban, Muhammad Nuruddin (25) mengungkapkan, bahwa tradisi ini diadakan sejak tahun 2020 yakni ketika dilanda pandemi covid.
“Tahun ini menjadi tahun ke 5 diadakannya kontes kambing, tahun 2023 kemarin total ada 300 kambing dan domba yang ikut serta,” ungkapnya, Minggu (16/6/2024).
Ada berbagai jenis kambing yang dihias dalam giat akbar Parade Kurban ini. Mulai dari etawa, gibas, hingga kambing berjenis biasa.
“tujuannya adalah untuk syiar agar warga memiliki semangat berkurban,” tuturnya.
Kontes kambing ini diadakan pada H-1 sebelum pelaksanaan Hari Raya Kurban. Masyarakat secara terbuka bisa ikut serta mengikuti parade besar arak-arakan kambing. Tak hanya diminati para remaja dan orang dewasa, anak-anak bahkan dibuat terkesan dengan fenomena langka tersebut.
Terkait adanya Arakan Kurban ini, Ali Murtadho selaku pengurus bidang Litbang Dewan Kebudayaan Gresik menyampaikan pandangannya. Secara Medis, pengarakan kambing sebelum disembelih ini baik dilakukan untuk membuat darah lebih segar untuk kesehatan ternak.
Selain itu, menurutnya, kegiatan menghias dan mengarak hewan kurban semacam ini juga sudah ada sejak lama. Namun diselenggarakan dalam lingkup kegiatan kecil.
“Barangkali masih bisa diingat, di masa kecil kita dulu, kerap kita jumpai orang yang hendak berkurban memandikan hewan kurbannya, menghiasnya menjadi cantik, dibuatkan kalung bunga dan diberi wewangian, kemudian diantar ramai-ramai ke tempat penyembelihan kurban. Konon, dengan begitu si hewan kurban akan dengan ikhlas merelakan dirinya dijadikan (tumbal) kurban, dan akan berpengaruh baik kepada si empunya,” tuturnya.
Lelaki yang berlatar belakang pendidikan sejarah itu juga berharap agar kegiatan ini menjadi sarana peningkatan budaya di Kabupaten Gresik.
“Kegiatan semacam ini bisa berpotensi menjadi tradisi baru di masyarakat. Dan semoga acara tersebut bisa berjalan dengan sukses tiap tahunnya,” pungkasnya. (Humas DKG/Telisik Hati)
















