Penulis📰✍️ Didik Hendri Telisik Hati
Gresik, BN News – Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Bungah mengadakan Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Madrasah Ibtidaiyah tentang Penyusunan Modul Ajar Mapel Umum dan Agama Kurikulum Merdeka, Rabu (4/12/2024).
Kegiatan ini berlangsung di MI Manbaul Ulum, Bungah, dengan menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, H. Pardi, didampingi oleh Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Gresik, Hj. Masfufah, serta sejumlah pengawas madrasah, yakni Fahrurrozi, Mabrur, Khofiyul Arif, dan Mukhlas, yang juga bertindak sebagai narasumber dan pendamping.
Acara yang dihadiri oleh 90 peserta, terdiri atas kepala madrasah dan guru KKMI Kecamatan Bungah, dibuka oleh Ketua KKMI Bungah, Ali Sodiqin. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari upaya mendukung program pendidikan di Kabupaten Gresik, khususnya di Kecamatan Bungah. “Semoga kehadiran kita di sini menjadi bagian dari ibadah,” ujarnya.
Dalam sambutannya pada Workshop Penyusunan Modul Ajar Kurikulum Merdeka, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, H. Pardi, menyampaikan bahwa kegiatan workshop adalah sebuah proses kerja untuk menghasilkan produk berupa modul ajar yang inovatif dan relevan. Modul ajar tersebut, menurut beliau, harus menyesuaikan dengan gaya belajar siswa, bukan sekadar pembaruan, melainkan penyegaran bagi para pendidik dalam menyusun strategi pembelajaran.
Beliau juga menekankan bahwa tujuan pembelajaran harus dibalut dengan tiga prinsip utama: mindful, meaningful, dan joyful.
1. Mindful mengacu pada pembelajaran yang merangsang pengembangan psikomotorik dan afektif siswa, menyegarkan memori mereka, serta menguji kemampuan berpikir secara holistik.
2. Meaningful menitikberatkan pada pembelajaran yang bernilai, salah satunya adalah mencakup P5RA (Profil Proyek Penguatan Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil Alamin), yang mengedepankan moderasi beragama, wawasan kebangsaan, dan sikap toleransi. Sikap-sikap negatif, seperti kekerasan dan bullying, harus dihindari dengan cermat. Sementara itu,
3. Joyful menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, di mana guru menyapa siswa dengan senyum, sapa, salam, dan salim, serta menghargai keberadaan setiap siswa.
H. Pardi juga menggarisbawahi peran guru sebagai teladan yang tidak tergantikan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter, adab, dan akhlak siswa. “Semoga madrasah-madrasah di Kecamatan Bungah dan Kabupaten Gresik dapat menjadi madrasah yang maju, bermutu, dan mendunia,” ujar beliau, menutup sambutannya dengan harapan besar untuk masa depan pendidikan madrasah.
Setelah pembukaan, materi dilanjutkan oleh Hj. Masfufah dan pengawas madrasah, dengan fokus pada penyusunan modul ajar yang relevan dengan Kurikulum Merdeka.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi guru madrasah, terutama dalam menghadapi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka.
Dengan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya bermutu tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. (Didik Hendri Telisik Hati)
















