Penulis📰✍️ Mbah Singo/Telisik Hati
BN News – Malam menuju lebaran adalah malam yang dirindukan oleh umat Islam di seluruh dunia tak terkecuali warga muslim Desa Lowayu Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik. Pasalnya pada malam ini, Minggu (30/3/2025) mereka berbondong-bondong menuju halaman masjid Nurul Huda guna malaksanakan tradisi Takbir Keliling, sebuah tradisi mengingat kebesaran Allah, mengumandangkan kalimat takbir bersama – sama dengan cara berjalan menyusuri jalan poros desa.
Kegiatan ini telah menjadi bagian dari tradisi yang mampu memperkuat rasa solidaritas antar warga, antar lembaga, antar organisasi kemasyarakatan yang ada di desa tersebut.
“Ini adalah ungkapan rasa gembira, rasa syukur warga desa Lowayu kepada Allah SWT atas limpahan karunia berupa kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh. Sebagaimana firman-Nya dalam kitab agung yang artinya: ‘Dan selesaikanlah bilangan (puasa) dan bertasbihlah kepada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur,” tutur Hj. Nazilah Ketua BKMM Nurul Huda Lowayu.
Sementara, Muhammad wildan selaku Panglima Tinggi Remaja Masjid mengatakan, bahwa kegiatan ini punya nilai historis. Mulanya kegiatan ini hanya dilakukan oleh 2 lembaga pesantren dan secara terpisah (sendiri – sendiri), agar bisa utuh dan bisa membangun nilai – nilai persaudaraan seluruh warga, seluruh lembaga dan organisasi kemasyarakatan di desa, maka pengurus takmir masjid Nurul Huda berinisiatif untuk menyelenggarakan Takbir Keliling yang diikuti seluruh lembaga, seluruh organisasi dan jamaah musholla – musholla yang ada di desa.
“Alhamdulillah, kegiatan ini yang dulunya hanya dilakukan 2 lembaga pesantren dan secara terpisah/sendiri – sendiri, sekarang menjadi tradisi masyarakat atas inisiatif pengurus takmir masjid dan menjadi program kegiatan takmir yang digawangi oleh remaja masjid setiap malam jelang hari raya Idul Fitri,” ungkap Wildan penuh semangat.
Sementara Muhammad Muslihan, selaku Ketua Takmir Masjid Desa Lowayu menuturkan, bahwa kegiatan ini mengandung dua nilai besar, yaitu nilai kemasyarakatan dan nilai keislaman.
“Ada nilai kemasyarakatan dan nilai keislaman dalam kegiatan takbir keliling. Nilai kemasyarakatan karena ada nuansa kebersamaan, guyub, rukun dan gotong royong untuk melakukan kegiatan takbir keliling. Namun dari sisi nilai keislaman masih butuh penyempurnaan, jauh api dari panggang orang bijak berkata, karena takbir keliling yang kita lakukan masih banyak kita dapati menggunakan musik – musik dengan sound sistem besar, sehingga mengesankan bahwa yang mengumandangkan kalimat takbir adalah musiknya bukan orangnya. Harapan besar kami kedepannya, silahkan memakai sound besar asal jangan memakai musik, tapi murni lantunan takbir dari suara para peserta takbir keliling,” tutur Ustadz Muslihan.
Seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar dan sukses. Dengan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, Takbir Keliling sedot perhatian tidak hanya masyarakat setempat, namun juga warga desa tetangga.
“Saya berharap, acara sebagus ini terus terselenggara, menjadi tradisi tahunan yang mempererat rasa kebersamaan serta menambah makna dalam perayaan hari besar Islam,” tutur Agus suntikno tokoh warga RT 23 ditemani sang ananda tercinta, Muhammad Zakaria Al Ishaqi sebagai penutup acara liputan. (Mbah Singo/Telisik Hati)
















