Gresik, BN News – Hiruk-pikuk remaja SMA yang biasanya ramai dengan tugas sekolah dan urusan cinta monyet, pagi ini berubah arah. Aula SMA Negeri 1 Kebomas menjadi ruang dialog yang serius tapi santai: soal gender, bullying, dan relasi antara laki-laki dan perempuan. Tema besar kegiatan ini: “Pelatihan Gender Mainstreaming di Lingkungan Sekolah.”
Sebanyak 50 siswa mengikuti pelatihan yang digelar atas kolaborasi antara KUA Kebomas, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, dan Yayasan Lohjinawi. Satu per satu siswa tampak mengangguk saat istilah “gender” dijelaskan—bukan sekadar jenis kelamin, tapi peran sosial yang sering kali dibentuk oleh budaya, media, bahkan tugas rumah tangga yang dibagi tidak adil.
“Terima kasih atas inisiatif ini. Kami dari sekolah sangat menyambut positif,” kata Hj. Lilis, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, membuka acara. “Pendidikan tidak hanya soal nilai akademis, tapi juga cara memperlakukan sesama dengan adil dan hormat.”
Senada dengan itu, Ibu Nurul, perwakilan dari Yayasan Lohjinawi menekankan pentingnya pelatihan seperti ini di lingkungan sekolah. “Remaja sedang membentuk identitas. Kalau tidak dibekali pemahaman yang setara, mereka bisa tumbuh dengan bias yang membahayakan relasi sosial.”
Namun sorotan paling tajam datang dari H. Khalili, Kepala KUA Kebomas, yang membuka sambutannya dengan kutipan ayat suci Al-Qur’an:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13).
Menurut Khalili, pelatihan ini menjadi penting karena maraknya persoalan di kalangan pelajar: bullying, penyalahgunaan gadget, hingga relasi yang keliru antara lawan jenis. “Anak-anak sekarang perlu tahu, batas dan adab dalam pergaulan bukan soal mengekang, tapi menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan martabat,” katanya, Senin (26/5/2025). (Telisik Hati)
















