Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
BN News – Kita hidup di tengah gelombang ceramah, kajian, dan potongan ayat-hadits yang bertebaran di media sosial. Namun di sisi lain, kita menyaksikan banyak orang yang mudah marah, ringan mencaci, dan merasa paling benar. Bukankah agama datang untuk menenangkan, bukan menegangkan?
Dakwah hari ini tampil canggih—ada di podcast, video pendek, siaran langsung. Tapi, semakin sering orang mendengar agama, mengapa semakin jarang kedamaian terasa?
Tulisan ini mengajak kita menengok ke dalam: barangkali dakwah hari ini lebih sibuk tampil ketimbang membentuk. Lebih banyak bicara, tapi lupa mendidik akal, memperbaiki hati, dan menanam akhlak.
Lupa Mendidik Akal
Konten satu menit yang menggetarkan emosi lebih viral dibanding penjelasan yang menuntun akal. Penceramah dikenal bukan karena keluasan ilmunya, tapi karena status viral dan gaya retorikanya. Akibatnya, dakwah menjadi tontonan emosional, bukan proses pembelajaran.
Laporan Mafindo (2024) mencatat lebih dari 2.000 hoaks tersebar di media sosial—sepertiga di antaranya soal politik dan agama. Banyak hoaks ini tersebar lewat potongan ceramah yang seolah Islami tapi sesat arah.
Data PPIM UIN Jakarta (2022) menegaskan: mayoritas pelajar muslim tak terbiasa mengkritisi isi ceramah, lebih percaya tokoh ketimbang dalil.
Artinya, akal umat belum terlatih menimbang. Yang dibangun bukan nalar, tapi reaksi. Padahal, dakwah semestinya bertumpu pada hikmah—penyampaian yang logis, terang, dan sesuai kesiapan pendengar. Ketika hikmah ditinggalkan, emosi mengambil alih. Dan dakwah pun kehilangan arah.
Lupa Menanam Akhlak
Tak hanya krisis nalar, kita juga menyaksikan kemerosotan akhlak dalam dakwah. Tak sedikit yang berdakwah sambil mencaci. Retorikanya tajam, tapi adabnya tumpul. Akhlak menjadi korban.
Dakwah Rasulullah SAW adalah dakwah kasih sayang, bukan kemarahan. Yang beliau sapa adalah hati, bukan sekadar telinga.
Ketika dakwah hanya menyampaikan informasi tanpa menanamkan adab, yang muncul adalah penghakiman. Kita sibuk menyalahkan orang lain, lupa membersihkan diri sendiri.
Imam al-Ghazālī pernah mengingatkan: ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Tapi hari ini, bahkan ilmu dan amal bisa kehilangan makna jika tidak membentuk akhlak.
Kita butuh lebih banyak teladan—mereka yang bukan hanya bisa bicara, tapi juga bisa hidup dengan nilai yang diajarkan.
Sapu Kotor yang Menggurui Kebersihan
Kadang kita heran: mengapa ada dai yang fasih bicara soal kebersihan akhlak, padahal hidupnya sendiri jauh dari bersih? Seperti sapu kotor yang sibuk menyapu lantai.
Ucapan keras, isi ceramah galak, tapi kalau ditilik keseharian, justru membuat orang bingung: ini dakwah atau drama?
Allah SWT berfirman:
“Sangat dibenci di sisi Allah, kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS al-Ṣaff: 3)
Tapi ini bukan seruan untuk diam. Kalau tahu kebenaran, sampaikan. Tapi sambil menyampaikan, bersihkan diri.
Kalau sapumu masih kotor, ya bersihkan sebisanya. Jangan menunggu jadi sempurna baru mau berdakwah. Terus belajar, sambil tetap menyapu. Karena dunia memang butuh suara kebaikan—asal dari hati yang jujur dan rendah hati.
Menengok Arah Dakwah
Surah al-Naḥl ayat 125 menjadi kompas dakwah:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Tiga pilar utama: hikmah (logika yang tertata), mau‘izhah ḥasanah (nasihat yang lembut), dan mujadalah (debat dengan cara terbaik).
Dakwah bukan tempat membentak. Bukan juga ajang unjuk emosi. Dakwah adalah seni menyampaikan dengan kelembutan dan kejujuran, demi perubahan batin yang bertahap.
Kalau prinsip ini ditinggalkan, lahirlah kebingungan sosial. Dakwah berubah menjadi gema suara, bukan cahaya yang menerangi.
Penutup
Dakwah sejatinya menanam akal sehat, hati lembut, dan akhlak mulia. Bila isi dakwah hanya jargon, tapi lakunya tak mencerminkan nilai, maka dakwah kehilangan ruh.
Ini bukan soal jumlah ceramah atau panggung, tapi soal arah dan kedalaman. Jika tidak berbenah, kita hanya mencetak generasi yang fasih jargon agama, tapi asing dari hikmah. (*)
*Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku, Kedamean, Gresik dan Anggota Komisi Fatwa dan Hukum MUI Kabupaten Gresik
















