Foto dan narasi oleh Arik S. Wartono
BN News – Semalam, langit Nusantara telah berlangsung gerhana bulan total, fase awal gerhana bulan penumbra dimulai 7 September 2025 pukul 22.28 WIB, pukul 23.267 WIB, awal gerhana bulan sebagian. 8 September 2025 pukul 00.30 WIB awal gerhana bulan total, pukul 01.11 WIB adalah moment puncak gerhana bulan total, pukul 01.52 WIB akhir gerhana bulan total, pukul 02.56 akhir gerhana bulan sebagian, dan pukul 03.55 moment akhir gerhana bulan penumbra.
Sejauh ini, ilmuwan muslim Indonesia yang berusaha menggunakan data astronomi untuk kepentingan ibadah umat Islam baru Prof. Sartono dari Muhammadiyah. Itu pun gagasan dan data-data riset astronomi dari beliau belum sepenuhnya diterima oleh PP Muhammadiyah, apalagi oleh umat Islam Indonesia secara umum. Lalu apalah saya ini yang cuma fotografer astrofisika (astrofotografer), mungkin malah tak digubris samasekali.
Maka jika saya memberi peringatan tentang penanda alam melalui foto langit malam, yang oleh leluhur Nusantara hal ini sebenarnya telah dijadikan “ilmu titen” selama ribuan tahun, juga mungkin tak akan digubris samasekali oleh sebagian besar umat Islam, apalagi oleh umat manusia zaman ini.
Umat Islam yang merasa dirinya tidak sekuler pun, sebagian besar pikirannya sudah jauh dari kemampuan menghubungkan antara mikro kosmos dan makro kosmos, terlebih mereka yang sekarang sudah banyak terkontaminasi ajaran anti nalar dalam beraqidah, tambah parah tidak mampu melakukan pemahaman ilmu di luar doktrin tekstual.
Umat Islam saat ini menurutku sudah merasa dirinya adalah alien di jagad kosmik, tidak lagi merasa dirinya adalah bagian tak terpisahkan (meski secara fisik kecil banget) dari makro kosmos.
Padahal, Rasulullah telah memberi contoh ibadah wajib yang paling sentral bagi ajaran Islam adalah sholat, dan sholat sudah jelas terikat jadwal dengan posisi kosmik bukan cuma matahari dan bulan, tapi juga yang lebih dalam dari itu, yakni tentang bayang-bayang benda (shadow) di permukaan bumi, tentang bias cahaya di atmosfer bumi, dll.
Lalu dengan semua fakta ini mengapa kita tidak berusaha memahaminya bahwa manusia bukan alien di jagad kosmik? Kita adalah bagian tak terpisah dari kosmos yang maha luas.
Sebenarnya, saat kita melakukan sholat paling khusuk terutama sholat tahajjud sendirian di tengah malam, apakah kita tidak sedang mengikatkan diri secara fisik dan dan non fisik (mental, jiwa, ruh) kepada kosmos yang lebih besar? Bukankan realitas itu tidak flat, melainkan ia berlapis-lapis?
Maka jika kita sedang melakukan sholat paling khusuk, apakah fisik kita secara realitas hanya menapak bumi? Apakah kita tidak mampu berpikir tentang realitas paralel yang berlapis-lapis?
Padahal Rasulullah lebih dari telah menjelaskan tentang perjalanan sebuah malam yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Bukankah tidur dan kematian hanyalah proses perpindahan dari realitas satu ke realitas lain?
Kita sebenarnya merupakan umat yang dituntut untuk selalu berpikir, banyak ayat Al-Quran yang secara jelas menuntut kita untuk menggunakan nalar sehat kita, maka mestinya kita memikirkan semua ini dengan pembacaan atas realitas yang kompleks.
Sesungguhnya dalam kondisi khusuk sholat, itu ruang apa yang sedang kita masuki? Juga waktu yang bagaimana yang sedang kita jalani?
Teori fisika saat ini sudah sampai pada “ruang dan waktu yang ternyata bisa dilengkungkan” tentang blackhole, dimensi ke-4 dll, lah mosok kita umat yang hampir 1.500 tahun telah dikasih pemahaman oleh Rasulullah masih saja berkutat pada pemahaman realitas yang flat?
Kita ini harusnya tumbuh sebagai umat yang cerdas, karena Rasulullah telah menjelaskan banyak hal tentang realitas yang berlapis-lapis, tentang ruang dan waktu yang tidak linier, dan banyak kompleksitas dalam posisi kita sebagai bagian dari makhluk kosmik.
Maka ketika terjadi gerhana bulan dan matahari, Rasulullah melakukan sholat, sekaligus mengajak umatnya untuk melakukan hal yang sama.
Jika kejadian kosmik tidak berpengaruh samasekali dengan mikro kosmos dalam diri setiap manusia, ngapain pake melakukan sholat segala?
Lalu dengan begini apakah kita tidak mampu berpikir tentang komet, meteor, pergerakan bintang-bintang dan semua benda langit itu memiliki pengaruh terhadap kosmik yang dalam, pada diri kita sebagai spesies yang tidak biasa?
Faktanya kita umat manusia adalah spesies yang tidak biasa, kita ini bukan alien di jagad kosmik, melainkan kita ini makhluk kosmik, artinya, setiap diri kita adalah bagian dari kosmik yang maha luas, maka apapun yang terjadi di luar sana: posisi matahari, bulan, bintang-bintang, meteor, asteroid, komet, blackhole, kejadian dan pergerakannya pasti bepegaruh langsung pada diri kita sebagai spesies yang tidak biasa, yang faktanya bukan alien di jagad kosmik
Itukah sebabnya mengapa umat Islam melakukan sholat gerhana. Tentu saja bukan cuma perlu, tapi sangat perlu, demi menjaga kesadaran diri sebagai makhluk kosmik, bukan spesies biasa.
Berikut penjelasan ilmiah mengapa penampakan bulan pada moment Gerhana Bulan Total merah darah (bloody moon)
Pada awalnya bulan purnama akan berwarna normal seperti purnama pada umumnya, yakni bulan berwarna keabu-abuan.
Namun pada saat gerhana, warna bulan berubah karena cahayanya mesti melewati lapisan atmosfer Bumi yang lebih tebal di dekat horizon (cakrawala).
Cahaya dengan gelombang pendek (biru-ungu) lebih banyak terhambur, sementara cahaya dengan gelombang panjang (merah-jingga) lebih mudah menembus lapisan atmosfer cakrawala Bumi yang lebih tebal, membuat cahaya bulan berwarna merah darah.
Penjelasan foto
Gerhana Bulan Total 8 September 2025 tadi malam
Foto 1: moment puncak gerhana bulan total, 8 September 2025 pukul 01.11 WIB

Foto 2: moment Halo Bulan, sebelum terjadi gerhana, Halo Bulan merupakan. fenomena optik indah yang menghasilkan cincin cahaya di sekitar bulan, terjadi karena cahaya bulan dibiaskan dan dipantulkan oleh kristal es di awan tinggi seperti awan cirrus.

Foto 3: gerhana bulan total di sebuah pantai di langit Tuban, Jawa Timur, Indonesia

Foto 4 moment bulan purnama tertutup mendung tipis pada horizon setelah gerhana selepas subuh.

Foto bulan diambil dengan kamera Nikon D810 lensa 70-200mm, sedangkan foto landscape menggunakan lensa 14-24mm
Lokasi foto: Tuban, Jawa Timur, Indonesia
*Penulis adalah seorang Fotografer Astro Fisika atau Astrofotografer
















