Oleh: Syafi’ Hoo
GRESIK, BN News – Gelombang BoikotTrans7 sedang mengguncang jagat maya. Tayangan di salah satu program televisi nasional itu dinilai melecehkan martabat pesantren dan para kiai, dengan narasi yang menggiring opini negatif: santri dianggap tunduk secara membuta, kiai ditampilkan seolah haus penghormatan dan kemewahan.
Bagi warga pesantren, tayangan seperti ini bukan sekadar kesalahan redaksional. Ia menyentuh sisi terdalam dari kehormatan (‘izzah) dan adab, dua nilai utama yang menjadi fondasi kehidupan santri.
Di pesantren, penghormatan kepada kiai bukanlah bentuk perbudakan spiritual, tetapi cerminan cinta dan penghargaan kepada guru sebagaimana adab para sahabat kepada Rasulullah ﷺ.
Reaksi keras pun bermunculan. Banyak tokoh Nahdlatul Ulama, GP Ansor, hingga lembaga hukum PBNU menyatakan sikap tegas dan menyiapkan langkah hukum. Mereka menilai permintaan maaf Trans7 tidak cukup untuk mengobati luka batin umat yang merasa dilecehkan. Di sisi lain, sebagian kalangan menyerukan agar kemarahan ini diarahkan secara konstruktif, tidak hanya menjadi ledakan sesaat di media sosial.
Dalam suasana seperti ini, langkah yang tepat bagi warga pesantren dan para Gus bukanlah semata-mata memupuk kemarahan, melainkan Mengelola peristiwa ini menjadi pelajaran kebudayaan.
Pertama, pesantren perlu membuka ruang dialog. Trans7 dan media lain harus diajak memahami bahwa tradisi pesantren bukanlah simbol keterbelakangan, melainkan warisan spiritual yang menjaga akhlak bangsa. Mengajak bicara lebih terhormat daripada sekadar memaki.
Kedua, jalur hukum tetap perlu ditempuh agar menjadi pelajaran etis bagi media massa, bahwa kebebasan pers tidak berarti kebebasan menghina. LPBH PBNU dan Dewan Pers dapat menjadi wasit yang menegakkan keadilan secara bermartabat.
Ketiga, Warga Pesantren hendaknya menjadikan momen ini sebagai momentum untuk menyebarkan narasi positif tentang dunia santri , menulis, berdiskusi, dan memproduksi konten yang menunjukkan bahwa kehidupan pesantren itu beradab, berilmu, dan berjiwa sosial tinggi.
Dan akhirnya, inilah saatnya pesantren menunjukkan keunggulan peradaban: Marah Tanpa Menghina, Tegas Tanpa Mencaci, dan Sabar Tanpa Menyerah.
Seperti pesan Hadrotussyeh KH. Hasyim Asy‘ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim:
Barang siapa memuliakan Ulama’, maka ia memuliakan ilmu dan agama.”
Kemarahan boleh bergelora, Tetapi Adab tetap Harus Menyala. Karena pesantren bukan sekadar tempat belajar agama ia adalah Taman Akhlak yang mengajarkan bagaimana menghadapi ujian dengan kepala Tegak dan Hati Yang Bening. (*)
*Penulis Syafi’ Hoo adalah Alumni Santri Ponpes Alkarimi Gresik dan Tebuireng Jombang
















