Oleh: KH. Ainur Rofiq Thoyyib
GRESIK, BN News – Kekecewaan penggemar sepak bola harus dijadikan evaluasi oleh PSSI. Mulai penunjukkan pelatih, kapten tim dan perekruatan pemain. Yang sering main di Timnas dan selalu kalah diistirahatkan dulu dan memberi kesempatan yang lain.
Pertama soal pelatih, mestinya pelatih yang pandai mengatur strategi itulah yang harus kita cari dan jiwa nasionalnya tinggi walau itu pelatih lokal. Sebut saja yang pernah sukses, 1. Bertje Matulapelwa 2. INDRA SJAFRI, 3. Luar negeri Anatoli Polosin ( Uni Soviet), 4. Sinyo Aliandoe Indonesia memulai pertarungan pada 15 Maret 1985 melawan Thailand dan menang 1-0.
Pada laga berikutnya, Bambang Nurdiansyah dkk. mengalahkan Bangladesh 2-0. Indonesia menutup putaran pertama dengan menang atas India 2-1. Pada putaran kedua, Timnas Pra Piala Dunia 1986 yang mayoritas diisi pemain dari klub Galatama hanya ditahan imbang India 1-1.
Dua laga lain berhasil dimenangkan, yakni versus Bangladesh (2-1) dan menang 1-0 atas Thailand. Hasil itu membuat Indonesia maju ke babak kedua sebagai juara grup dan hampir nyaris lolos ke Piala Dunia, tapi dihadang Korsel.
Oleh karena itu, hentikan angan-angan yang berlebihan bahwa naturalisasi dengan meremehkan produk pemain lokal solusi untuk membawa Timnas bisa Go Internasional Piala Dunia. Ini terbukti betapa kecewanya para penggemar sepak bola menunggu para pemaian yang dari pengurus PSSI optimis dengan Kapten Jay meninggalkan Kapten yang sudah berhasil membawa Juara Sea games.
Itu pun terulang saat Evan Dimas sosok Kapten Timnas setelah juara piala AFF begitu di Timnas diganti oleh yang lain. Di sinilah kelemahan Pengurus PSSI kurang jeli memberi masukan kepada pelatih. Oleh karena sekarang di tangan Indra Sjafri setidaknya kapten tim tidak harus yang lebih senior, tapi kapten tim seorang jendral pemain yang memahami kehendak pelatih dan mampu membaca serangan lawan dengan berani menginstruksikan kepada teman-temannya dengan strategi baru di lapangan.
Inilah sosok Kapten yang sukses pernah kami ketahui di Timnas seperti:
1. Ferril Raymond Hattu (lahir 9 Agustus 1962) adalah mantan pemain sepak bola Indonesia yang bermain di posisi libero. Meskipun lahir di Surabaya pria ini asli dari Saparua, Maluku. Dia pernah menjadi kapten Indonesia ketika membela Indonesia memenangkan medali emas sepak bola di SEA Games 1991
2.Nama Evan Dimas mencuat ke permukaan ketika memperkuat Timnas Indonesia U-19 asuhan Indra Sjafri pada 2013. Kala itu, Evan Dimas menjadi kapten tim dan mengantarkan Indonesia menjadi juara Piala AFF U-10 2013, sebuah prestasi yang menghebohkan seluruh pelosok Nusantara, di mana Evan juga menjadi top scorer dalam turnamen tersebut. Setelah itu, Evan Dimas fokus bersama Timnas Indonesia U-19 tampil di Kualifikasi Piala AFC U-19 2014. Tampil apik termasuk mencetak hattrick ke gawang Korea Selatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Evan Dimas dan Tim Garuda Nusantara, julukan tim asuhan Indra Sjafri kala itu, berhasil lolos ke putaran final Piala AFC U-19 2014.
3- Peran Rizky Ridho begitu terasa sepanjang perhelatan SEA Games 2023. Ia menjadi palang pintu tangguh bagi lini pertahanan Timnas Indonesia U-22, hingga akhirnya sukses meraih medali emas.
Penulis berharap kepak Indra Sjafri hendaknya sering pemain bertemu dan latihan rutin seperti di era Evan Dimas. Jangan panggil pemain saat bertanding akhirnya amburadul semua. Dan jeli menunjuk seorang kapten. Bisa juga mencoba Toni Firmansyah atau yang lain. Dan jangan malu mereka yang pernah berkontribusi di Timnas diajak rembuk. Dari Kapten Timnas atau pelatih seperti Ferril Raymond Hattu. (*)
*Penulis KH. Ainur Rofiq Thoyyib adalah Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik
















