Oleh: Nur Fakih
GRESIK, BN News – Karya sastra lebih banyak dibaca sebagai rekreatif. Buku sastra belum dibaca sebagai pisau bedah persoalan kolektif. Pada persoalan kemiskinan, misalnya penulis karya sastra bisa menyuguhkan fakta-fakta kehidupan masyarakat miskin melalui riset sehingga karya sastra itu selalu membumi dan dijadikan bacaan yang berguna untuk membangun kesadaran kolektif.
Kalau di Gresik angka kemiskinan saat ini mencapai 9 persen lebih bisa menjadi data awal untuk menjelaskan bagaimana warga miskin itu menyelesaikan persoalan dirinya. Dari sinilah sebuah karya sastra tidak lagi menjadi urusan pribadi tetapi merambah ke persoalan kolektif. Artinya karya sastra turut hadir di tengah-tengah masyarakat. Demikianlah seharusnya karya sastra (Seni) tidak hanya untuk Seni tetapi diciptakan untuk mendatangkan manfaat sebesar besarnya bagi masyarakat lebih luas.
Persoalannya, penulis karya sastra seringkali mengabaikan beban dan tanggung jawab terhadap karyanya. Setelah menulis, satu saja pembaca yang memberinya LIKE sudah menyegarkan darah penulisannya. Apalagi pada era sekarang untuk menjadi penulis buku sastra kurang menarik lagi, karena miskin pembaca. Buku-buku karya sastra terpajang di rak rak toko buku selalu setia menunggu pembacanya, meskipun pengunjungnya sendiri tidak menyentuh atau tidak membelinya.
Mengedukasi untuk menjadi penulis tidak jauh-jauh problematika nya dengan mengedukasi untuk menjadi pembaca karya sastra. Di sinilah penulis karya sastra berjalan dalam kesunyian. Buku-buku ditulis seringkali dicetak bukan untuk dijual dan ketika diberikan secara cuma cuma itu pun tidak banyak yang membacanya.
Bagaimana cara warga bisa tertarik menjadi penulis sebuah produk yang tidak mendatangkan keuntungan ekonomi. Atau bagaimana penulis buku sastra bisa bertahan menekuni profesinya sementara mereka sangat membutuhkan akomodasi untuk memenuhi hajat hidupnya. Itu yang semakin membuat awan penulisan bertambah gelap. Tanpa itu terlalu sulit bisa mempertaruhkan dirinya secara totalisme untuk mengabdikan dirinya di dunia sastra.
Maka usaha Yayasan Gang Sebelah yang diinisiasi penulis produktif di Gresik Dewi Musdalifah beserta timnya patut diapresiasi setinggi-tingginya. Selama dua hari Sabtu dan Mingu (18-19 Oktober 2025) menggelar acara FGD untuk mengkampanyekan cinta menulis dan membaca karya sastra. Di atas panggung diskusi SAPA SASTRA, minggu malam (19 Oktober 2025) diundang dua peneliti dan penulis sastra Imam Muhtarom, Dosen PTN di Kerawang dan Mas Yogi Ishabib, Dosen Universitas Ciputra untuk mengobarkan semangat menjadi penulis dan pembaca sastra yang setia. (*)
*Penulis adalah Penasihat DKG (Dewan Kebudayaan Gresik) sekaligus Petinggi MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Gresik

Kalau di Gresik angka kemiskinan saat ini mencapai 9 persen lebih bisa menjadi data awal untuk menjelaskan bagaimana warga miskin itu menyelesaikan persoalan dirinya. Dari sinilah sebuah karya sastra tidak lagi menjadi urusan pribadi tetapi merambah ke persoalan kolektif. Artinya karya sastra turut hadir di tengah-tengah masyarakat. Demikianlah seharusnya karya sastra (Seni) tidak hanya untuk Seni tetapi diciptakan untuk mendatangkan manfaat sebesar besarnya bagi masyarakat lebih luas.















