Oleh : Dewi Musdalifah
GRESIK, BN News – Berada di tengah kepengurusan Dewan Kebudayaan Gresik periode 2023–2025 merupakan tantangan tersendiri.
Ada kebekuan yang lama mengendap antara pemerintah dan para seniman. Tak ada yang perlu disalahkan, keduanya berdiri di dua kutub kepentingan yang berbeda. Tugas utama adalah mencairkannya kembali. Namun, melumerkan es di dalam freezer bukan perkara mudah. Diperlukan effort, kesadaran, kesabaran, dan serangkaian kompromi.
Kebudayaan sering kali terjebak di antara dua logika: birokrasi dan ekspresi. Pemerintah bergerak dengan peraturan, laporan, dan anggaran. Seniman bergerak dengan intuisi, kebebasan, dan emosi. Ketika dua dunia ini saling berhadapan tanpa jembatan, yang muncul adalah kesalahpahaman bahkan kecurigaan. Padahal, keduanya memiliki tujuan yang sama: menjaga nyala kebudayaan agar tetap hidup.
Dalam konteks nasional, Dewan Kebudayaan memiliki fungsi strategis sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kebudayaan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Pasal 42 menyebutkan bahwa dewan kebudayaan berperan memberikan pertimbangan, rekomendasi, dan masukan kepada pemerintah daerah dalam penyusunan serta pelaksanaan kebijakan kebudayaan.
Artinya, dewan tidak semata menjadi pelaksana kegiatan, melainkan mitra kritis yang menjembatani nilai, gagasan, dan aspirasi antara pelaku budaya dan pemerintah.
Ia berdiri di titik tengah: menjaga agar kebijakan tidak kehilangan ruh budaya, dan agar idealisme seniman tetap bersentuhan dengan realitas publik.
Namun tantangan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam tubuh Dewan Kebudayaan Gresik sendiri.
Keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan sering kali berubah menjadi tuntutan yang memangkas kesabaran.
Kita ingin bergerak cepat, tetapi lupa bahwa kebudayaan tak bisa dipacu seperti proyek. Ia tumbuh perlahan, melalui kesadaran dan waktu.
Di sisi lain, muncul kecurigaan terhadap hal-hal yang sebenarnya wajar dan terbuka.
Padahal, yang tidak pada tempatnya justru kecurigaan itu sendiri.
Ia menyusup pelan, menciptakan jarak, dan mengikis semangat kolektif yang mestinya menjadi fondasi kerja kebudayaan.
Sementara kebudayaan hanya bisa tumbuh dalam ruang yang diisi oleh kepercayaan dan ketulusan.
Pun, penentuan arah dan kinerja Dewan Kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari partisipasi para pelaku budaya di lapangan.
Respon dan reaksi komunitas menjadi cermin keberhasilan kerja dewan.
Dari merekalah gerak kebudayaan sebenarnya berasal, mereka yang berhadapan langsung dengan masyarakat, menghidupkan tradisi, dan menafsirkan kembali nilai-nilai lokal di tengah perubahan zaman.
Jika pelaku kebudayaan merasa terlibat, maka kebijakan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi wacana bersama tentang masa depan kebudayaan Gresik.
Menjadi bagian dari dewan berarti mencoba menjadi jembatan.
Menciptakan ruang temu yang tidak hanya formal, tetapi juga hangat dan setara.
Membuka dialog tanpa merasa lebih tahu, tanpa ingin menang sendiri.
Karena kebudayaan tidak tumbuh dari instruksi, melainkan dari perjumpaan yang jujur.
Bagaimana kemudian, sebagai tuan rumah yang baik dalam kegiatan Jatim Art Forum dan diskusi kebudayaan, Gresik terlibat dalam Biennale Jatim tidak hanya sebagai penyedia fasilitas, tapi juga sebagai bagian dari proses perwujudan ekspresi seni.
Bermunculan perform dari berbagai kantong entitas seni di Gresik: ludruk, tari, musik, rupa, bahkan upacara dan napak tilas makam para wali.
Kolaborasi dengan jaringan luar menjadi penanda bahwa semesta kebudayaan di Gresik siap melebur dengan agenda besar kebudayaan.
Begitu juga pertumbuhan kebudayaan terus ditengok, dirawat, dan diinventaris agar paham persoalan di akar rumput.
Menjalin hubungan baik dengan struktural dan memelihara hubungan secara kultural dengan para stakeholder dalam tubuh kebudayaan Gresik menjadi langkah penting untuk menjaga agar harmoni kebudayaan terus berlanjut.
Kadang yang kita butuhkan bukan program megah, tapi keberanian untuk mendengarkan.
Bukan sekadar festival besar, tapi pertemuan kecil yang tulus.
Dari sanalah, perlahan, es itu mulai mencair.
Bukan karena panasnya amarah atau debat, melainkan karena hangatnya kesadaran bersama:
bahwa tanpa kebersamaan, kebudayaan akan membeku di tempat yang sama. (*)
*Penulis adalah Pengurus DKG (Dewan Kebudayaan Gresik)
















