GRESIK, BN News – Ramadan Mubarak. Alhamdulillah, Dr. Hj. Aminatun Habibah, M.Pd, Putri dari KH. Ahmad Muhammad Al-Hammad (Pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin Ke-9) mengukir sejarah sebagai Qori’ atau pemateri perempuan dalam Lailatul Kopdar MWCNU Bungah 1447 Hijriah.
Kehadiran sosok keibuan yang akrab disapa Bu Min pada pertemuan Ahad (1/3/2026), menjadi simbol kuatnya emansipasi wanita di tubuh Nahdlatul Ulama, membuktikan bahwa perempuan juga memiliki kapasitas mumpuni untuk mengkaji kitab, memberikan nasihat keagamaan, serta menyuarakan pesan persatuan dengan gaya khas yang penuh kasih sayang. Selain diselenggarakan secara luring, pengajian pada malam 12 Ramadan ini juga disiarkan secara langsung bagi para pemirsa melalui streaming YouTube MWCNU Bungah.
Sebelum memulai mengaji kitab, suasana seketika berubah syahdu. Betapa tidak, perempuan tangguh yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Gresik ini didapuk untuk memimpin pembacaan surat Al-Fatihah secara khusus. Doa tersebut ditujukan atas wafatnya Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah.
Dengan suara penuh empati, Ibu Nyai Aminatun menceritakan kedekatan almarhumah dengan warga Gresik. Adik almarhumah diketahui pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Qomaruddin, sementara sang suami merupakan warga asli Dukun, Gresik. “Beliau merupakan sosok pimpinan yang luar biasa,” kenangnya, mengajak jamaah mendoakan agar amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah.
Memasuki sesi pengajian inti, Ibu Nyai Aminatun Habibah mengupas tuntas kitab karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Ia menyoroti bab Nabaul Jamiyah, yang menerangkan bahwa di dalam sebuah organisasi (Jamiyah) tidak boleh tidak—harus ada syiddatil iltiam, yakni daya kohesi atau tarik-menarik yang sangat kuat dan rekat.
Dengan gaya tutur yang santai namun sarat makna, ia berpesan agar warga Nahdliyin masuk ke dalam organisasi NU dengan landasan cinta (mahabbah), ramah, rukun, persatuan, serta keterhubungan jiwa dan raga. “Tidak sekadar menjadi anggota NU, tapi dengan cinta,” tegasnya, sembari berseloroh menyarankan jamaah untuk mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) agar rasa cinta tersebut semakin tumbuh subur.
Lebih lanjut Ketua Dewan Pembina IKA Unesa Cabang Gresik ini kemudian menganalogikan organisasi Nahdlatul Ulama seperti sebuah bangunan. Jika semennya kuat dan batanya saling merekat erat, maka bangunan itu akan menjadi kuat dan manfaatnya pun akan sempurna. “Jika kuat, meskipun berkali-kali terkena badai tsunami, NU tidak akan goyah; tidak semakin kecil, tapi justru semakin besar,” ungkapnya penuh semangat.
Namun sebaliknya, ia mengingatkan bahwa jika kohesinya cacat atau tidak kuat, maka aturan organisasinya pun akan ikut cacat. “Ketika aturannya tidak kuat, maka akan kesulitan memberikan manfaat kepada masyarakat,” tambahnya.
Di maqolah selanjutnya, Ibu Nyai Aminatun menjelaskan bahwa organisasi Nahdlatul Ulama sangat membutuhkan bantuan dan kerja keras dari para tokoh serta pengurusnya. Hal ini merupakan wujud nyata kewajiban umat beriman untuk menolong agama Allah, yang diwujudkan melalui dakwah dan menjunjung tinggi kalimat Allah yang luhur.
Untuk mencapai tujuan mulia tersebut, ia menekankan pentingnya ketaatan terhadap aturan main organisasi. “Kita harus memenuhi janji-janji dan ketetapan yang tertulis di dalam undang-undang dasar atau AD/ART organisasi,” terangnya. Ia juga mengingatkan agar pengurus tidak mudah merasa lelah atau mengeluh terkait urusan materi, tenaga, maupun kepentingan pribadi saat menjalankan roda organisasi.
Di sela-sela pemaparannya, ia turut memberikan apresiasi tinggi terhadap kekompakan warga MWCNU Bungah. Ia mencontohkan budaya patungan (urunan) yang sangat kuat di Bungah, bahkan sempat menjadi penyumbang Koin Muktamar terbanyak nomor satu di tingkat kecamatan se-Indonesia pada perhelatan Muktamar sebelumnya.
Sebagai penutup, ia berpesan tentang esensi tolong-menolong di dalam NU, seperti membantu para janda dan fakir miskin, yang pahalanya disejajarkan dengan orang yang berjihad di jalan Allah atau orang yang berpuasa tanpa henti. Ia juga mengingatkan jamaah untuk tidak melupakan sejarah dan jasa para kiai terdahulu yang telah merukunkan serta membesarkan Nahdlatul Ulama. (Telisik Hati)
















