GRESIK, BN News – Hari keempat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di UPT SMP Negeri 2 Gresik pada Kamis, 16 Juli 2026 berjalan secara berbeda dan penuh esensi berharga. Setelah melaksanakan rutinitas keagamaan shalat dhuha berjamaah, seluruh peserta didik baru kelas 7 dikumpulkan untuk mendapatkan pengarahan krusial mengenai dunia digital yang sehat.
Agenda pengarahan khusus ini menghadirkan langsung Sekretaris Dinas KBPPPA (Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak) Kabupaten Gresik, Bapak M. Mukhlis Ariyanto, SE, MM. Kehadiran beliau membawa misi penting, yaitu mengedukasi para siswa baru tentang bahaya laten cyber bullying atau perundungan siber di tengah era digitalisasi sekolah.
Dalam pemaparannya, Bapak M. Mukhlis Ariyanto menekankan pentingnya membangun hubungan pertemanan yang saling menyayangi. Beliau memberikan batasan tegas yang mudah dipahami oleh anak usia SMP—yang secara regulasi masih tergolong dalam kategori anak-anak (usia 0 hingga 18 tahun).
”Bercanda itu tidak akan membuat orang lain takut. Kalau candaan kalian membuat seseorang jadi tertekan, takut sekolah, dan dilakukan secara berulang-ulang, itu bukan lagi bercanda. Itu sudah masuk tindakan bullying,” tegas beliau di hadapan para siswa.
Beliau juga menjabarkan 4 jenis perundungan yang wajib dihindari yaitu Bullying Verbal, Bullying Fisik, Bullying Sosial, Cyber Bullying.
Data mengejutkan turut dibagikan untuk membangun kesadaran bersama. Kasus kekerasan anak di Kabupaten Gresik rupanya tercatat sebagai yang tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2025 dengan total mencapai kurang lebih 630 kasus. Psikologi di balik munculnya perilaku perundungan ini biasanya dipicu oleh keinginan untuk terlihat keren, cari perhatian ,sekadar ikut-ikutan tren, krisis empati, hingga motif balas dendam karena pelaku pernah menjadi korban di masa lalu. Padahal, dampak buruk membayangi 3 subjek yang terlibat: pelaku, korban, maupun saksi.
Bagi pelaku, mereka terancam sanksi sekolah, berhadapan dengan hukum, hingga berpotensi bermasalah secara sosial saat dewasa. Sedangkan bagi korban, perundungan memicu kesedihan mendalam, hilangnya kepercayaan diri, sulit berkonsentrasi, malas sekolah, hingga potensi fatal seperti bunuh diri. Bahkan saksi yang membiarkan perundungan bisa menganggap kekerasan sebagai hal biasa dan berpotensi ikut menjadi pelaku di kemudian hari.
Sebagai bekal proteksi diri, Bapak Sekretaris Dinas KBPPAI membagikan formula jitu bagi siswa Spensa jika berhadapan dengan aksi perundungan melalui prinsip S-T-O-P, yaitu:
S (Stay Cool): Tetap tenang dan jangan membalas tindakan pelaku dengan kekerasan.
T (Tell Someone): Berani bercerita dan melapor kepada guru, guru BK, atau orang tua.
O (Out of Danger): Segera menjauhi situasi yang tidak nyaman atau membahayakan.
P (Pin Evidence): Amankan bukti-bukti digital, salah satunya dengan melakukan tangkapan layar (screenshot) pada kasus cyber bullying. Seluruh warga sekolah diwajibkan oleh undang-undang untuk melindungi anak-anak di dalam satuan pendidikan dari segala jenis kekerasan. Siswa baru diajak menjadi bagian dari Agent of Change dengan berperan aktif sebagai 2P: Pelopor dan Pelapor. Pelopor untuk selalu berani berkata baik, dan pelapor yang tidak takut mengadukan kekerasan ke pihak sekolah (Guru, BK, Kepala Sekolah) atau melalui layanan aduan Dinas KBPPPA Gresik.
Setelah mendapatkan materi pembekalan yang berharga, aktivitas para siswa baru berlanjut pada implementasi nyata di lapangan. Tepat pukul 09.45 WIB, suasana sekolah riuh dengan antusiasme peserta yang mengikuti sosialisasi Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Bersih, dan Menyenangkan. Agenda yang dipandu oleh Ibu Sumiarsih, S.Pd. ini berfokus pada penanaman karakter dan pembiasaan positif agar para siswa baru dapat saling menjaga kenyamanan iklim belajar di UPT SMPN 2 Gresik.
Tidak berhenti di teori saja, keseruan hari keempat MPLS ini langsung ditutup dengan pembuktian kepedulian lingkungan. Seluruh peserta didik baru, didampingi penuh oleh Koordinator Gugus dan kakak-kakak OSIS, bahu-membahu melaksanakan Aksi Nyata Lingkungan dan Kerja Bakti selama satu jam penuh. Dengan penuh semangat gotong royong, mereka membersihkan area sekitar kampus Spensa, memilah sampah, dan merapikan fasilitas belajar. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang manis bagi siswa kelas 7 untuk mulai mencintai dan menjaga kebersihan rumah kedua mereka.
Aktivitas MPLS hari keempat ini pun diselesaikan secara khidmat dengan komitmen bersama untuk saling menghargai, mendengar, menolong, dan belajar bersama demi mewujudkan lingkungan UPT SMPN 2 Gresik yang aman, sehat, bersih, dan menyenangkan tanpa adanya perundungan. (*)
















