Penulis: Dewi Musdalifah
Ketika terlibat dalam hiruk-pikuk Festival Menjadi Gresik di Kampung Kemasan yang diinisiasi Yayasan Gang Sebelah, saya melihat Besali Kultural bukan sekadar kumpulan riset tentang Gresik.
Ia seperti serpihan-serpihan kecil yang ketika diletakkan berdekatan, perlahan memperlihatkan bentuk yang lebih besar.
Aksara. Pasar Pahing Sidayu. Laban dan bahasa Reyang Ujung Pangkah. Pakaian. Pecinan dan Kampung Arab. Besali dengan mesin jahit, gunting, dan tangan-tangan yang bekerja. Nelayan Lumpur dengan pengalaman yang mungkin tak pernah masuk dalam buku sejarah.
Semula semuanya tampak sebagai cerita yang berbeda. Namun setelah mendengarkan satu per satu, saya menemukan sesuatu yang terus berulang: Gresik terbentuk dari pertemuan.
Orang datang membawa bahasa, agama, keterampilan, barang dagangan, kebiasaan, juga cara berpakaian. Mereka datang untuk berdagang, bekerja, tinggal, mencari hidup. Dari perjumpaan yang berlangsung lama, tumbuh kebiasaan, ingatan, dan pengetahuan. Kelak, kita menyebutnya kebudayaan.
Laban dan bahasa Reyang membuat saya berpikir bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia menyimpan filosofi, jejak bagaimana manusia membaca dan mengolah alam.
Aksara memperlihatkan persentuhan dengan berbagai pengetahuan.
Lalu ada pasar, kampung, pakaian, ruang-ruang kerja, dan kampung-kampung yang tumbuh dari perjumpaan berbagai kelompok. Di sana orang datang dan pergi, berdagang, bekerja, tinggal, belajar, beradaptasi, lalu meninggalkan jejak.
Besali pun demikian. Yang tampak sebagai ruang kerja menyimpan keterampilan, kebiasaan, hubungan antarmanusia, dan ingatan yang berpindah dari tangan ke tangan.
Dari sini saya mulai curiga: selama ini kita terlalu sering mencari Gresik pada sesuatu yang sudah jadi; bangunan tua, makanan khas, pakaian, tradisi, tokoh, atau artefak.
Padahal mungkin Gresik justru terletak pada proses yang membuat semua itu lahir.
Menjadi orang Gresik ternyata tidak sesederhana mengenali nasi roomo sebagai hidangan yang ditemukan di pasar, atau jenang jubung yang hadir ketika ada hajatan.
Semua itu memang bagian dari Gresik. Tetapi barangkali hanya buah yang tampak di permukaan.
Di bawahnya berlangsung geliat yang terus bekerja. Masyarakat berhadapan dengan lingkungannya, beradaptasi dengan caranya sendiri, membangun pengetahuan, kebiasaan, dan cara hidup.
Setiap ruang membawa sejarah panjangnya.
Semuanya bertaut, saling memengaruhi, seperti simpul-simpul yang kuat tetapi tak selalu kelihatan.
Itulah yang membuat Besali Kultural terasa penting bagi saya.
Bukan karena ia memberikan satu definisi tentang Gresik, tetapi karena membuat saya memotret kembali cuilan-cuilan kehidupan yang selama ini begitu dekat hingga luput diperhatikan.
Titik kumpul Festival Menjadi Gresik akhirnya bukan sekadar ruang presentasi hasil riset. Bagi saya, ia menjadi kesempatan untuk berhenti sebentar dan menengok akar di pohon sendiri.
Ketika melihat ke bawah, saya sadar betapa panjang dan rumit akar itu.
Dari sana tumbuh batang yang kuat, daun yang rimbun, dan aneka buah yang selama ini kita kenali sebagai Gresik.
Mungkin selama ini saya sibuk melihat buahnya. Padahal yang membuatnya tumbuh adalah jaringan akar yang saling bertaut di bawah tanah.
*Maka tiba-tiba saya merasa kaya raya.*
Bukan karena Gresik memiliki begitu banyak benda untuk dibanggakan. Tetapi karena saya merasa ikut memiliki semesta yang hadir di dalamnya: bahasa, makanan, pakaian, pasar, kampung, ruang kerja, pengetahuan, ingatan, cara orang hidup berdampingan, dan pengalaman manusia yang membentuk kehidupan Gresik.
Dari sana saya sampai pada sebuah hipotesis yang masih ingin saya uji:
Mungkin Gresik tidak mempunyai satu kebudayaan yang utuh untuk diwariskan. Yang dimilikinya adalah kemampuan untuk terus menjadi melalui perjumpaan.
Sesuatu datang, bersentuhan dengan sesuatu yang telah lebih dahulu hidup. Terjadi tawar-menawar, penyesuaian, penerimaan, penolakan. Sebagian hilang, bertahan, berubah bentuk.
Setelah berlangsung cukup lama, kita bahkan lupa bahwa ia pernah datang dari tempat lain.
Mungkin justru di situlah ke-Gresik-an terbentuk.
Bukan pada kemurnian, melainkan pada geliat panjang manusia mengolah lingkungan, perjumpaan, dan pengalaman menjadi kehidupan.
Karena itu, pertanyaan tentang Gresik bagi saya bukan lagi:
Apa budaya asli Gresik?
Melainkan:
Apa yang terjadi ketika berbagai hal datang, bertemu, saling memengaruhi, lalu perlahan menjadi bagian dari kehidupan kita sampai kita sendiri tidak lagi bisa memisahkan mana yang datang dan mana yang telah menjadi milik kita?
Jika hipotesis ini benar, maka kebudayaan Gresik bukan benda yang menunggu ditemukan di masa lalu.
*Ia sedang dibuat, setiap hari.*
*Penulis, Dewi Musdalifah adalah Pengurus DKG (Dewan Kebudayaan Gresik)















