Kuratorial oleh: Arik S. Wartono
SURABAYA, BN News – Is culture something we inherit or something we must choose to keep?
Pertanyaan itu tidak lahir dari ruang seminar. Ia lahir dari kegelisahan seorang anak 17 tahun yang sejak usia 3 tahun karya-karyanya sudah berkeliling dunia.
Malya Sasmaya bergabung dengan DAUN Sanggar Lukis Anak sejak 2012. Dunia mungkin mengenalnya lebih dulu sebagai salah satu “keajaiban” – dari Youth for Human Rights International Art Competition di USA, Look and Learn Gallery London UK, 8th BMW Berlin Marathon Painting Competition Jerman, Honourable Mention di Hong Kong dan Macedonia, Finalist Peace Pals di Inggris, Gold Medal The Small Montmartre of Bitola Macedonia 2015, Highly Commended Art in Heaven London, hingga Biennale Jatim, Art Van Java di Bandara Juanda dan ARTJOG KIDS 2023.
Anak yang menemukan sukacita dalam menciptakan sesuatu yang baru itu kini justru melakukan manuver yang paling radikal dalam perjalanannya: ia pulang. Jika karya masa kecilnya adalah tentang imajinasi yang melayang bebas, karya terbarunya adalah tentang akar yang membuatnya menapak lebih kokoh.
Inilah jantung dari “Dialog Batik Madura”. Ini bukan pameran tentang batik. Ini adalah pameran tentang dialog.
Dialog pertama adalah negosiasi antara dua tangan dan dua zaman. Di atas kanvas akrilik yang ia lukis dengan kematangan di luar usianya, Malya meletakkan, menempel, dan bernegosiasi dengan Batik Tulis Tanjung Bumi Madura asli. Antara tangan seorang perupa muda Surabaya yang abstrak dan ekspresif, dengan tangan-tangan pembatik perempuan Madura yang sabar, teliti, dan penuh cecek malam. Antara tradisi yang beristirahat dengan lembut di dalam perubahan, dengan modernitas yang seringkali lupa caranya beristirahat.
Tiga karya kunci dalam pameran ini menunjukkan tingkatan dialog tersebut dengan sangat tajam.
“The Beauty of Batik Madura” [100×100 cm, 2026], Malya tidak melukis batik. Ia menghadirkannya.
Di atas bidang coklat tua yang dalam dan bertekstur seperti tanah basah – sebuah ruang kontemporer yang hening, abstrak, dan kosong – ia membiarkan selembar batik asli mengerut, berlipat, dan mengalir dari sudut kanan atas. Seperti kain yang baru diangkat dari bak pewarnaan dan belum sempat dijemur. Kontrasnya adalah tesisnya: kekosongan modern versus keramaian warisan. Motif ayam alas dan phoenix pesisir yang liar dengan warna-warna berani – merah, biru, kuning, soga – adalah suara yang menolak menjadi artefak mati di museum. Karya ini adalah jawaban paling lembut namun paling radikal atas pertanyaan besar kita: tradisi harus disentuh dan dihidupkan kembali di atas kanvas masa kini.
“Merahnya Merah” [180×145 cm, 2026], dialog itu masuk ke level esensi.
Jika karya pertama tentang kehadiran, karya kedua tentang pembongkaran. Malya mengajak kita menyelam ke dalam satu warna yang menjadi DNA Madura: Merah. Bukan satu merah, melainkan berlapis-lapis merah – merah getih, merah soga, merah bata, merah maroon yang bergejolak. Secara visual ia menyusunnya dari bilahan-bilahan horizontal kolase batik yang ia timpa dengan sapuan akrilik yang kasar dan penuh energi. Ia melebur motif. Ia bertanya, jika ayam alasnya kita ambil, apa yang tersisa? Yang tersisa adalah karakternya: keberanian, panas, kekuatan, dan kejujuran. Tiga garis horison gelap di bagian bawah – biru, hitam, hijau – adalah jeda napas, garis pantai Tanjung Bumi itu sendiri. Di sini, merah bukan lagi warna. Merah adalah suara yang menolak pudar.
“Fragmen” [20×20 cm x 12 panel, 2025-2026], Malya justru memilih diam.
Dan ini adalah keputusan paling bijaksana dalam pameran ini. Di antara karya-karya besar yang megah dengan kolase kain asli, ia sengaja menciptakan ruang kosong. Tanpa tempelan batik sama sekali. Dua belas kanvas kecil ini adalah laboratorium ingatan, catatan harian visual selama setahun risetnya. Sapuan impulsif, impasto tebal, goresan silang yang gelisah – semua adalah upaya melukis jiwa batik tanpa harus menampilkan tubuhnya. Karena dialog yang sejati membutuhkan ruang untuk mendengarkan.
Dan di sinilah solusi yang ditawarkan Malya menjadi filosofis: Menjaga budaya pada akhirnya bukanlah pekerjaan memajang kain di dinding. Itu adalah pekerjaan merangkai kembali fragmen-fragmen kecil yang hampir terlupakan di dalam kepala, tangan, dan hati kita, menjadi sebuah cerita yang utuh kembali.
Seperti yang ia katakan sendiri dalam videonya: “I believe in preserving what already exists. Holding on to stories time tries to erase.”
Pameran “Dialog Batik Madura” pada akhirnya mengundang kita untuk menjawab pertanyaan terakhirnya: And someday when it fades, will we even notice what we’ve lost?
Jawaban Malya, di usia 17 tahun, sudah jelas. Ia memilih untuk menjaga, sampai hari ini. Bukan karena ia sekadar mewarisinya, tetapi karena ia memilih untuk tidak kehilangan.
Itulah warisan budaya yang sebenarnya.
Pameran ini berlangsung di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Surabaya, tanggal 26 September – 1 Oktober 2026.
Salam Budaya,
Arik S. Wartono
Kurator, Pendiri dan Pembina Sanggar DAUN
















