GRESIK, BN News – Kabar membanggakan kembali datang dari Pondok Pesantren Refah Islami Gresik. Dua santri Madrasah Aliyah (MA) Refah Islami berhasil menuntaskan setoran hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Capaian ini bukan sekadar prestasi akademik keagamaan, tetapi juga menjadi bukti ketekunan, kesabaran, dan perjuangan panjang dalam menjaga ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Kedua santri tersebut adalah Ahmad Fahmi Saifuddin, siswa kelas XI MA Refah Islami yang tercatat sebagai hafidh ke-109, serta Salman Fauzan Akbar, siswa kelas XII yang menjadi Hafidh ke-110 di lingkungan pesantren.
Keberhasilan keduanya disambut penuh rasa syukur oleh keluarga dan keluarga besar pesantren. Menuntaskan hafalan 30 juz bukan perkara mudah. Dibutuhkan kedisiplinan, konsistensi dalam mengulang hafalan, serta bimbingan para pengajar agar setiap ayat dapat dihafal dan dijaga dengan baik.
Untuk diketahui, Ahmad Fahmi Saifuddin merupakan putra Amar Saifuddin, mantan anggota DPRD Jawa Timur periode 2019–2024 sekaligus cucu Ahmad Fahmi Saifuddin, mantan Wakil Bupati Lamongan periode 2010–2015. Sementara Salman Fauzan Akbar merupakan putra Almaidah, seorang jurnalis.
Dalam sambutannya, Amar Saifuddin bersama paman Salman menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para asatidz dan asatidzah yang telah mendampingi perjalanan kedua santri hingga berhasil menuntaskan hafalan 30 juz.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas pencapaian ini. Terima kasih kepada para asatidz dan asatidzah yang telah membimbing, mendampingi, dan memberikan ilmu kepada anak-anak kami hingga mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz,” ujar Amar dalam sambutan tersebut, Rabu (14/10/2026).
Mereka menilai keberhasilan ini tidak lepas dari kesabaran para pengajar yang terus memberikan pendampingan, motivasi, serta menanamkan nilai-nilai keislaman selama proses pendidikan di pesantren.
Namun, perjalanan sebagai penghafal Al-Qur’an tidak berhenti setelah seluruh 30 juz berhasil disetorkan. Tantangan berikutnya adalah menjaga hafalan agar tetap melekat, sekaligus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bersikap dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut juga ditekankan Mudir Pondok Pesantren Refah Islami, KH Farid Dhofir, Lc,M.Si dalam tausiyahnya. Ia mengucapkan selamat kepada kedua santri atas pencapaian yang diraih, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga akhlak, khususnya dalam hubungan dengan orang tua.
Mengutip Surah At-Taghabun ayat 14–15, KH Farid mengingatkan bahwa anak dapat menjadi ujian bagi orang tuanya. Karena itu, kemampuan menghafal Al-Qur’an harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, penghormatan kepada orang tua, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Jangan sampai kita hanya bangga karena mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi lupa mengamalkan ajarannya. Hafalan harus dijaga, sementara akhlak kepada orang tua dan sesama juga harus terus diperbaiki,” kata KH Farid Dhofir.
Capaian Fahmi dan Salman menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pesantren Refah Islami. Bertambahnya daftar hufadh menjadi penanda bahwa proses pendidikan dan pembinaan Al-Qur’an terus berjalan di lingkungan pesantren.
“Lebih dari sekadar angka ke-109 dan ke-110, keberhasilan keduanya membawa pesan bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan dan dukungan banyak pihak,” imbuh Kiai Farid yang dikenal sebagai pendakwah dan penulis buku ini. (Kader Literasi Refah Islami)















