Oleh: KH. Ainur Rofiq Thoyyib
GRESIK, BN News – Tradisi saling meminta maaf merupakan warisan indah dari para ulama dan leluhur kita sebagai bentuk keberhasilan seseorang dalam menjalankan ibadah puasa.
Saat Lebaran, setiap orang dengan mudah mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin,” sebagai tanda ketulusan dalam memperbaiki hubungan dan menghapus kesalahan masa lalu.
Betapa mulianya orang yang pertama kali mengajarkan kebiasaan baik ini, sehingga kini menjadi tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Saling memaafkan di hari kemenangan juga merupakan wujud pencapaian derajat muttaqin tujuan utama dari ibadah puasa.
Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah kemampuannya untuk menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana yang di jelaskan dalam Al-Qur’an surat Al Imran ayat 134.
Dan setelah menyelesaikan urusan hubungan kita di bulan Ramadan dengan ibadah puasa, qiyamullail dan ibadah lainnya yang berarti setelah kita menyelesaisaikan Hablun minallah lalu hablum minnaas.
Dalam hadits Qudsi Allah telah berfirman: Pasti mendapat kecintaan-Ku bagi dua orang yang saling sayang-menyayangi kerana-Ku, dua orang yang duduk bersama-sama kerana-Ku, dua orang yang kunjung-mengunjungi kerana-Ku, dan dua orang yang tolong-menolong karena-Ku.”
Oleh karena itu tradisi yang sangat positif ini tetap dilestarikan, bahkan kegiatan saling berkunjung di bulan Syawal inilah yang akhirnya terbukti memupuk si’ar persaudaraan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam Indonesia.
Walaupun saling memaafkan bersilaturrahmi itu bisa dilakukan selain bulan Syawal. Dan banyak manfaat yang kita ambil diantaranya:
1. Membantu menjernihkan hati dan pikiran: Memaafkan kesalahan orang lain dapat mengurangi beban emosional, seperti rasa sakit hati atau dendam. Dengan hati yang bersih, kita bisa menjalani hidup lebih damai dan tenang.
2. Mempererat silaturahmi ke tingkat yang tinggi: Kesalahan yang terjadi di masa lalu sering kali membuat hubungan menjadi renggang. Momen Idul Fitri menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan mempererat kembali tali persaudaraan.
3. Meningkatkan kesehatan fisik: Studi menunjukkan bahwa memaafkan dapat menurunkan gejala depresi, tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini karena pikiran yang tenang berdampak positif pada kondisi fisik.
4. Mendapat keberkahan dan ampunan dari Allah: Dalam Islam, memaafkan adalah perbuatan mulia yang dicintai Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran: (QS. An-Nur: 22). Lalu ada kegiatan lain yang mirip maksudnya sama yaitu Halal bihalal.
K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang memberi ide cemerlang kepada Presiden Soekarno untuk mengatasi situasi kritis saat itu dengan mengadakan acara yang diberi nama halal bi halal.
Ir. H. Soekarno, Presiden pertama RI kala itu, tahun 1948 prihatin dengan kondisi tanah air yakni pertikaian para pemimpin politik sangat meruncing, padahal Republik ini masih sangat muda sehingga terancam mengalami disintegrasi.
K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang dimintai saran Ir. Soekarno mencetuskan ide agar diadakan pertemuan para pimpinan partai politik dengan menggunakan momentum Hari Raya Idul Fitri untuk saling bermaaf-maafan dan menghalalkan segala dosa antar mereka.
Maka pada Idul Fitri tahun itu pula, diadakan kegiatan yang diberi nama halal bi halal para tokoh dan pemimpin partai politik di istana negara, dan kemudian tradisi itu terus berkembang dan dilestarikan kegiatannya sampai sekarang.
Demikian sekedar untuk mengingatkan moment Idul Fitri yang di lakukan oleh umat Islam Indonesia perlu dipertahankan. “Semoga bermanfaat, semoga kesalahan kita yang berhubungan dengan Allah mupun yang berhubungan dengan sesama manusia terhapuskan. Amiin ya robbal alamin. (*)
*Penulis KH. Ainur Rofiq Thoyyib adalah Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Gresik
















