Bojonegoro, BN News – Di sudut paling sunyi Dusun Koripan, Desa Napis, berdiri sebuah bangunan sederhana yang lebih mirip gubuk daripada sekolah. Dari kejauhan, papan-papan bekas yang menjadi dindingnya tampak rapuh, berlubang. Lantainya hanyalah tanah yang mengeras ketika kemarau dan berubah menjadi lumpur saat hujan. Inilah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Silahul Muslimin, harapan terakhir bagi anak-anak desa terpencil itu untuk tetap bisa belajar.
Sekolah yang berdiri sejak 2021 ini berada jauh dari hiruk-pikuk peradaban. Berjarak 10 kilometer dari permukiman, akses menuju sekolah hanyalah jalan tanah liat yang rusak parah. Jika hujan mengguyur, jalan berubah menjadi kubangan licin, membuat perjalanan anak-anak kecil menjadi perjuangan penuh risiko. Namun, setiap pagi mereka tetap datang, demi sebuah masa depan.
Bangunan Madrasah Ibtidaiyah ini tak layak pakai, namun tetap tegak karena cinta dan semangat masyarakat. Berawal dari inisiatif Pak RT dan warga, mereka lalu bergotong royong mendirikan ruang belajar seadanya. Papan bekas musholla dijadikan dinding, kayu-kayu tipis menjadi tiang penyangga, dan atap dari asbes dipasang untuk melindungi mereka dari panas dan hujan. Sebanyak 56 siswa-siswi, dari kelas 1 hingga 5, belajar di dalam ruangan yang jauh dari kata aman.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, berdirilah sosok pendidik penuh dedikasi, Bapak M. Imam Fitroh, S.Pd. Dengan latar pendidikan dari Kampus Al Hikmah Surabaya, ia memilih mengabdi di tempat terpencil ini. Setiap hari ia bersama 6 guru menemani para muridnya, mengajar di ruangan yang hampir rubuh, dengan peralatan seadanya, namun hati penuh keikhlasan.
Sebagai lembaga yang menaungi, Yayasan Subulul Huda melalui pembinanya, Bapak Sulaiman, terus mencari jalan agar madrasah ini kelak mendapatkan bangunan yang lebih layak. Namun keterbatasan dana membuat harapan itu terus tertunda.
Harapan Baru Mulai Terbuka
Hari ini, sebuah titik terang akhirnya muncul. Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Nurul Hayat Bojonegoro, Gresik dan Tuban datang langsung mengunjungi MI Silahul Muslimin. Mereka melihat sendiri kondisi memilukan bangunan sekolah, menyaksikan anak-anak belajar di bawah ancaman runtuhnya dinding dan atap.
Kunjungan itu tidak sekadar menyaksikan—tetapi juga membawa harapan besar. Pihak Nurul Hayat insyaAllah akan segera menindaklanjuti dan memulai pembangunan gedung madrasah yang layak, agar anak-anak di Dusun Koripan akhirnya memiliki tempat yang aman dan manusiawi untuk menimba ilmu.
Di tengah kerasnya kehidupan pelosok, kehadiran Lasnaz Nurul Hayat menjadi lentera baru. Warga pun tak mampu menahan haru; impian yang sejak lama tertahan kini perlahan menemukan jalannya.
MI Silahul Muslimin, madrasah yang lahir dari kepedihan dan semangat gotong royong, akhirnya mulai melihat masa depan yang lebih terang.
Kami mengajak kepada donatur setia NH dan para dermawan, untuk bergotong royong membangun Madrasah ini. ada secercah harapan besar untuk siswa-siswi memiliki tempat belajar yang layak. semoga setelah dibangun, semakin banyak anak-anak yang menimba ilmu di MI ini. (Amin/Telisik Hati)



















