Oleh: Arik S. Wartono
BN News – Buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” karya Prof. Djuli Djatiprambudi merupakan sebuah karya yang penting dalam memahami perkembangan seni rupa di Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan Prof. Djuli yang telah terpublikasi di berbagai jurnal ilmiah selama 35 tahun, dari tahun 1989 hingga 2024. 27 judul tulisan yang menjadi isi buku dengan struktur bunga rampai ini tentu hanya memuat kurang dari 10% dari bentang pemikiran beliau yang telah tersebar di berbagai media publikasi selama kurun waktu tersebut, termasuk sebelum 1998 dan setelah 2024.
Dalam buku ini, Prof. Djuli menjelaskan bahwa seni rupa Indonesia memiliki identitas yang unik dan kompleks, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sejarah, budaya, dan politik. Beliau juga membahas tentang pentingnya memahami seni rupa Indonesia dalam konteks global, serta perlunya mengembangkan teori dan kritik seni rupa yang lebih relevan dengan konteks Indonesia (Djuli Djatiprambudi, 2026).
Buku ini terutama membahas tentang perkembangan seni rupa modern dan kontemporer di Indonesia, serta peran seniman dalam membentuk identitas budaya Indonesia. Djuli Djatiprambudi juga menekankan pentingnya mengembangkan kritik seni rupa yang lebih kritis dan tidak melulu mengekor konstruksi ilmu dari dunia Barat (Eropa-Amerika).
Namun, buku ini juga memiliki beberapa kelemahan, seperti kesalahan tulis dan struktur gagasan yang kurang utuh. Kelemahan struktur tentu menjadi konsekuensi dari buku bunga rampai, namun pada saat yang sama ini sekaligus memudahkan pembaca untuk bebas memulai membaca buku ini dari bagian mana saja. Bisa mulai dari awal, dari akhir, dari tengah, bahkan bisa juga melompat-lompat sesuai pilihan ketertarikan pada setiap judul dan tema pembahasan yang telah terangkai dalam buku ini.

Selain itu, beberapa konsep yang dibahas dalam buku ini mungkin terlalu kompleks dan sulit dipahami oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang seni rupa. Bahkan struktur tulisan yang sangat padat pada setiap tema pembahasan dalam buku ini tetap berisiko untuk sulit dipahami oleh pembaca yang sekalipun memiliki latar belakang seni rupa, termasuk tiga tulisan yang tetap dibiarkan dalam versi bahasa Inggris, tidak dialih bahasa Indonesia.
Terlepas dari itu, buku ini tetaplah memiliki relevansi untuk membaca perkembangan wacana seni rupa di Indonesia selama kurun waktu 35 tahun yang telah terpapar dalam tulisan-tulisan Djuli Djatiprambudi, meskipun situasi mutahir banyak hal yang telah berubah.
Dalam konteks antropologi budaya, buku ini relevan dengan konsep “cultural identity” yang dikembangkan oleh antropolog seperti Clifford Geertz. Geertz menekankan pentingnya memahami budaya sebagai sebuah sistem simbol yang kompleks, yang melibatkan aspek-aspek estetika, spiritual, dan sosial (Geertz, 1973).
Krusial Titik Simpang Seni Rupa Indonesia
Judul buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” diambil dari salah satu judul tulisan dalam buku ini, yang pernah terpublikasi dalam Jurnal Prasasti, No.13 th.IV – Januari 1994, FBS Universitas Negeri Surabaya. Tulisan ini membahas tentang perkembangan seni rupa di Indonesia dan tantangan yang dihadapi oleh seniman Indonesia.

Djuli Djatiprambudi mengulas secara padat dan bernas bahwa seni rupa Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan sejak masa kolonial, dari pengaruh Barat hingga pencarian identitas budaya yang unik. Beliau menekankan bahwa seni rupa Indonesia berada dalam titik simpang, para seniman Indonesia harus memilih antara mengikuti arus global atau mencari identitas budaya yang unik.
Analisis Filsafat
Dari sudut pandang filsafat estetika Imanuel Kant, tulisan Djuli Djatiprambudi dapat dilihat sebagai sebuah upaya untuk memahami seni rupa Indonesia sebagai sebuah proses yang holistik, yang melibatkan aspek-aspek estetika, spiritual, dan sosial. Kant menekankan pentingnya memahami seni sebagai sebuah proses yang bebas dari kepentingan praktis dan moral, dan bahwa keindahan seni terletak pada kemampuan untuk memunculkan perasaan yang universal dan tidak terkait dengan kepentingan pribadi (Kant, 1790).
Sedangkan dari sudut pandang dialektika Hegel, tulisan Djuli Djatiprambudi dapat dilihat sebagai sebuah upaya untuk memahami seni rupa Indonesia sebagai sebuah proses yang dialektis, yang melibatkan konflik antara tesis, antitesis, dan sintesis. Hegel menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai sebuah proses yang dialektis, dan bahwa kebenaran terletak pada kemampuan untuk memahami konflik antara tesis, antitesis, dan sintesis (Hegel, 1807).
Harapan untuk Buku Kanon Seni Rupa Indonesia
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajukan permohonan kepada Prof. Djuli Djatiprambudi, terutama saya sebagai murid beliau, agar beliau setelah ini berkenan mengembangkan buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” menjadi sebuah buku yang lebih lengkap data dan struktur penulisannya, termasuk argumentasi ilmiahnya, agar buku ini kelak tampil sebagai salah satu rujukan utama kajian seni rupa di Indonesia, atau ringkasnya buku kanon seni rupa Indonesia.
Buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” karya Prof. Djuli Djatiprambudi merupakan sebuah karya yang penting dalam memahami perkembangan seni rupa di Indonesia. Beliau telah menganalisis sejarah seni rupa Indonesia dengan pendekatan yang holistik, melibatkan aspek-aspek estetika, spiritual, dan sosial.
Dalam konteks ini, saya ingin mengacu pada karya Denys Lombard, “Nusa Jawa: Silang Budaya”, yang menganalisis sejarah peradaban Jawa melalui pendekatan “geologi budaya”. Lombard menyimpulkan bahwa kebudayaan Jawa adalah hasil akulturasi yang dinamis, bukan entitas tunggal yang kaku (Lombard, 1996). Saya berharap bahwa buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” dapat dikembangkan menjadi sebuah karya yang setara kualitasnya dengan “Nusa Jawa: Silang Budaya”, dengan fokus pada seni rupa Indonesia.
Saya yakin bahwa buku ini dapat dikembangkan menjadi minimal buku 3 jilid, yaitu:
– Buku 1: Seni Rupa Indonesia dalam perspektif ontologi, epistemologi dan aksiologi
– Buku 2: Pembaratan Seni Rupa Modern dan Kontemporer di Indonesia
– Buku 3: Perkembangan Seni Rupa Daerah-daerah di Indonesia di luar kawasan Arus Utama
Atau, jika harapan saya ini dianggap terlalu berlebihan, minimal Prof. Djuli berkenan menulis buku secara khusus tentang Estetika Nusantara, karena beberapa bagian dalam buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” ini beliau telah mengulas tentang world view para seniman Indonesia. Prof. Djuli juga telah memperkenalkan konsep “Adeg-adeg” sebagai sebuah world view para seniman Indonesia, yang menekankan pentingnya memahami seni rupa sebagai sebuah proses yang holistik.

Dalam konteks filsafat, buku ini jika terwujud, bisa menjadi sebuah karya yang setara dengan MADILOG karya Tan Malaka, versi seni rupa. Beliau telah menjelaskan bagaimana Penciptaan Seni sebagai Ilmu (Djuli Djatiprambudi, 2026, 13-31), yang menekankan pentingnya memahami seni rupa sebagai sebuah proses yang holistik.
Kesimpulan
Buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” merupakan sebuah karya yang penting dalam memahami perkembangan seni rupa di Indonesia. Buku ini menawarkan perspektif yang unik dan kompleks tentang seni rupa Indonesia, serta menekankan pentingnya mengembangkan teori dan kritik seni rupa yang lebih relevan dengan konteks Indonesia. Secara pribadi saya berharap bahwa Prof. Djuli Djatiprambudi berkenan mengembangkan buku ini menjadi sebuah karya yang lebih lengkap dan komprehensif, sehingga dapat menjadi salah satu rujukan utama kajian seni rupa di Indonesia.
Salam Budaya,
Gresik, 5 April 2026
Referensi:
1. Djuli Djatiprambudi. (2026). Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang.
2. Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures.
3. Kant, I. (1790). Critique of Judgment.
4. Hegel, G.W.F. (1807). Phenomenology of Spirit.
5. Lombard, D. (1996). Nusa Jawa: Silang Budaya.
6. Tan Malaka. (1943). MADILOG.
*) Penulis adalah pegiat seni rupa dan pendiri Sanggar DAUN
Tulisan ini merupakan hasil pemaparan penulis yang disampaikan dalam acara bedah buku “Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang” yang berlangsung Minggu, 5 April 2026 pukul 19.00 – 21.00 WIB, dalam rangkaian Pameran Tunggal Lukisan karya-karya Slamet Hendro Kusumo “Paradoks Mitologi”, 4-19 April 2026 di Galeri RAOS Kota Batu.
















