Sidoarjo, BN News – Kegiatan Sapa Akar Bangsa (Serapan Afirmasi Akar Moderasi Beragama dan Bela Negara) digelar di Aula Kanwil Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Jawa Timur, Senin (6/4), dengan mengusung tema “Sinergi Aksi Teknis dan Strategi Preventif dalam Merajut Moderasi Beragama serta Kedaulatan.”
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tamu VIP dari berbagai unsur, di antaranya Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag RI, M. Munir; Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Muhammad Adib Abdus Somad (secara daring); Kepala Kesbangpol Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Eddy Supriyanto; perwakilan Polda Jawa Timur, Kombes Pol Eko Santoso.
Turut hadir perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Timur; perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur, Awan Widodo; Pembina Jatim 1, Prof. Muhammad Turhan Yani; Kabid Pendidikan Agama Islam Kemenag Jatim, Amak Burhanuddin. Menjadi peserta dalam kegiatan ini yakni beberapa mahasiswa dan siswa dari berbagai instansi berbeda.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, penayangan video profil PMMBN, serta sambutan-sambutan.
Ketua Umum PMMBN, Derida Achmad Bil Haq, dalam laporannya menyampaikan bahwa gerakan ini dilandasi semangat melanjutkan perjuangan para ulama dalam menjaga keutuhan bangsa.
“Gerakan ini bukan tentang siapa yang memulai lebih dulu, tetapi siapa yang mampu bertahan dan terus berkontribusi hingga akhir,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen organisasinya dalam mengawal moderasi beragama dan bela negara melalui berbagai ruang edukasi, seperti diskusi, literasi, dan media digital, serta membuka peluang sinergi dengan berbagai pihak.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Eddy Supriyanto, menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi dinamika global yang berdampak pada kondisi nasional. Ia mencontohkan situasi geopolitik internasional yang berpengaruh terhadap kebijakan dalam negeri.
“Kita harus cerdas dalam memilah informasi. Tidak semua yang beredar di media sosial dapat langsung dipercaya tanpa verifikasi,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa bela negara tidak selalu diwujudkan dalam bentuk fisik, melainkan melalui peran masing-masing, seperti belajar dengan baik, berkontribusi secara positif, serta menjaga lingkungan dan persatuan.
Selain itu, isu radikalisme dan terorisme menjadi perhatian bersama di tengah derasnya arus informasi, sehingga masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam menyaring informasi yang diterima.
Kegiatan dilanjutkan dengan deklarasi kebangsaan, kemudian diskusi panel bersama para narasumber dari berbagai unsur pemerintah dan aparat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam memperkuat moderasi beragama serta menumbuhkan kesadaran bela negara, guna mewujudkan kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)
















