Pacitan, BN News – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DWP Kemenag Jawa Timur sekaligus Musyawarah Kerja Yayasan Perwanida Tahun 2026, Jumat (9/1), di Pacitan.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan program kerja DWP dan Yayasan Perwanida se-Jawa Timur tahun 2026.
Rakerwil dan Musyawarah Kerja ini diikuti oleh Pengurus DWP Kanwil Kemenag Jawa Timur, Pengurus Yayasan Perwanida Wilayah dan Cabang, serta Ketua DWP Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.
Ketua DWP Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kholilati Bahtiar, menegaskan bahwa Rakerwil memiliki dua mandat utama, yaitu mematangkan program kerja DWP serta merumuskan program kerja Yayasan Perwanida agar berjalan selaras dan terintegrasi.
“Rakerwil ini mengemban dua amanah besar sekaligus, yakni menyusun dan mematangkan program kerja DWP serta merumuskan program kerja Yayasan Perwanida untuk tahun 2026,” ujar Kholilati.
Ia menekankan pentingnya sinkronisasi dan konsolidasi organisasi dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota agar setiap program memiliki arah yang jelas dan tidak saling tumpang tindih.
“Kita harus satu frekuensi. Program DWP dan Yayasan Perwanida harus saling menguatkan, memiliki target yang terukur, dan memberikan dampak nyata bagi anggota serta masyarakat,” tegasnya.
Dalam rangka memperkuat substansi perencanaan, kegiatan Rakerwil ini juga dirangkaikan dengan diskusi panel yang membahas secara komprehensif program kerja DWP Kanwil Kemenag Jawa Timur dan Yayasan Perwanida Tahun 2026.
Diskusi panel tersebut menjadi ruang strategis untuk menyampaikan kebijakan, memetakan tantangan di daerah, serta merumuskan solusi bersama agar program yang disusun dapat diimplementasikan secara efektif di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Sebagai Ketua Yayasan Perwanida Pusat Wilayah Jawa Timur, Kholilati juga menyoroti peran strategis para Ketua Yayasan Perwanida di daerah, khususnya dalam pengelolaan pendidikan dan bidang usaha.
“Peran Ketua Yayasan di tingkat cabang sangat krusial. Melalui forum diskusi ini, kita menyamakan arah agar pengelolaan yayasan semakin profesional dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kholilati menegaskan bahwa Rakerwil bukanlah akhir dari proses perencanaan, melainkan awal dari implementasi program di lapangan.
“Hasil Rakerwil ini tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Setelah kembali ke daerah, seluruh program harus segera ditindaklanjuti dan diimplementasikan secara nyata,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan, keseriusan, dan fokus peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sebagai wujud tanggung jawab organisasi.
“Ketua DWP di daerah adalah nahkoda organisasi. Pemahaman yang utuh terhadap arah kebijakan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program,” tambahnya.
Melalui Rakerwil dan Musyawarah Kerja yang dilengkapi dengan diskusi panel ini, DWP Kemenag Jawa Timur dan Yayasan Perwanida diharapkan mampu menghasilkan program kerja yang terarah, implementatif, dan berkontribusi nyata dalam penguatan peran perempuan serta peningkatan kesejahteraan keluarga besar Kementerian Agama. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)



















