Penulisš Anang Prasetyo/Telisik Hati
BN News.com – Entah sudah berapa masjid yang sudah saya kunjungi. Mulai Masjid Ampel hingga Masjid Agung Demak. Hingga masjid dimanaĀ kakek dari jalur ibu saya berasal , masjid Santren Bagelen Purworejo . Masjid hadiah peninggalan dari Sultan Agung raja Mataram Islam kepada Syeh Baedhowi, yang membantu perjuangan sang Sultan.Ā Syeh Baedhowi sendiri, makamnya ada di Desa Srandakan Bantul Yogyakarta, nama yang sangat mirip dengan daerah kelahiran saya, desa Surodakan dusun Jambangan Trenggalek. Entah ada hubungan antar keduanya atau tidak.
Yang jelas dan pasti, jika berkunjung di suatu masjid, mata visual saya acapkali tertuju utamanya pada mimbar kutbah dan pengimaman. Tentu saja, penampakan eksterior mau tidak mau terekam lebih awal dalam otak. Selanjutnya kemudian melihat interior masjid.
Pengalaman melihat visualisasi bentuk, ukiran dan ornamen di setiap mimbar begitu beragam. Secara umum bahanĀ mimbar berbahan kayu jati. Jika mimbar sekarang lebih menutupi kaki , namun bentuk dan model mimbar kuno kaki sang pengkutbah terlihat utuh.
Model mimbar kuno, di bagian bawah, biasanya ada alas kaki dengan tiga trap. Sebagai simbolisasi Islam, Iman dan Ihsan. Di bagian atas terlihat mahkota mimbar yang bentuknya khas. Membentang ke kanan dan kiri melebih ukuran lebar mimbar. Dengan ukiran khas seolah sebagai mahkota kebesaran dari sang imam. Mahkota Ini terulang di bagian belakang dengan ukuran lebih kecil, namun ornamen yang mirip sama.
Dibagian depan ada tiang penyangga atau soko guru untuk menopangĀ atap mahkota tadi.
Sementara di bagian belakang ada papan dengan ukiran dan ornamen sukur tanaman dan bunga.
Sementara papan atau potongan ukuran yang jumlahnya ada dua, terletak di kanan dan kiri.
Seluruhnya estetis. Indah dan mengagumkan. Baik filosofi maupun kreativitasnya. Motif ukiran gaya mataram ukelnya lebih rumit. Setidaknya itu yang saya lihat di masjid Agung Kotagede.
Sesederhana apapun bentuknya. Sesimpel apapun ukirannya. Semuanya bagi saya indah.
Keindahan yang saya maksud, bukan hanya bersifat visual. Namun metavisual sekaligus. Sebab, sebagai azas kebermanfaatan dan kebermaknaan dari mimbar kutbah ini sudah jelas dan pasti. Ia berfungsi menjadi tempat kehormatan para khotib dan imam dalam menyampaikan pesan Tuhan. Inilah hakekat ayat – ayat rupa yang saya maksud. Ia selain sebagai ayat atau tanda berfungsi ganda merekam apapun yang disampaikan sang pengkhutbah. Betapa mulianya ia, mimbar itu. Betapa mulia pula sang tukang seniman yang mengerjakannya.
Mimbar sebagai karya seni rupa hasil olah cipta sang seniman , bukan semata ketrampilan teknis dan keahlian tangan sang seniman, ia juga memiliki kedalaman hati dan penghayatan jiwa. Sang perupa sebagaimana Michel Angelo yang melukis dinding gereja Sistine, atau para leluhur perupa Nusantara yang mengerjakan percandian, sesungguhnya memiliki jiwa seorang dharma. Bahasa arabnya adakah khidmah. Bahasa Jawanya adalah ngabekti.
Maka nilai luhur seorang seniman rupa ada pada bhaktinya, dharmanya, khidmahnya dan ngabektinya pada apa yang ia kerjakan.
Konsep art for art menjadi terasa tak bermakna apa – apa. Paradigma seni murni (pure art) dan seni terapan (applied art) sebagaimana konsep dualitas khas ilmu pengetahuan dan filsafat barat menjadi tak bernyawa.
Sebab, seni yang hakiki tidak terfragmentasi model pemisahan (baca : sekular). Seni yang hakiki justru melebur , mengesa, mentawhidi, mensenyawa menjadi satu kesatuan yang paripurna sekaligus menyatu dalam jiwa.
Itulah mengapa, tatkala saya menyentuh dan meraba mimbar, hati saya menggumam lirih, seraya mendoa kepada sang seniman perupa pembuatnya. Sebab, saya meyakini bahwa ia setiap hari diterangi kuburnya. Berkat bacaan ayat suci dan hadistĀ Nabi oleh sang imam atau pengkhutbah.
Walhasil, disitulah kebermaknaan karya seni rupa berupa mimbar kutbah. Sebuah adikarya budaya yang perwujudannya menjadi ayat – ayat rupa. Atau ayat – ayat yang bisa diindera. Antara karya seni yg artistik penuh estetika sekaligus didalamnya berfungsi dan bermanfaat bagi ummat dan masyarakat.
Sungguh saya merindu para seniman pekerjanya.
Salam budaya.
Anang Prasetyo (perupa)
















