Penulis📰✍️ Al Ghani/Telisik Hati
BN News – Allah berhak memanggil siapa pun hambanya untuk berhaji. Termasuk seorang Yoyok Suharyo alias Doyok. Pria 62 tahun kelahiran Indramayu Jawa Barat tersebut saban malam mengais rezeki menjual tempe goreng (gimbal tempe) di dekat Gerbang Perumahan GKB (Gresik Kota Baru) sisi Utara.
Doyok menekuni pekerjaan ‘nggoreng gimbal’ sejak tahun 1999 atau 25 tahun yang lalu. Kini, ia tinggal di rumah pribadi hasil jualan makanan gorengan tersebut di kawasan Sekarputih Sukomulyo Manyar. Dan dari situ pula ia bisa haji bersama isterinya.
Gimbal dagangannya laris manis, karena hanya dibandrol seribu rupiah per biji. Omzetnya kalau hari Sabtu dan Minggu mampu meraup keuntungan jutaan rupiah. Bahkan, Doyok juga mempekerjakan 5 orang untuk membantunya berjualan.
Namun, keberhasilan Doyok bisa naik haji bersama istri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia sempat jatuh bangun selama 25 tahun berjualan gimbal tempe.
H Saiful Al Ghani, salah seorang teman dekat Doyok berbagi cerita, Beliau Berasal dari Kampung Mbaros Cimahi Bandung, yang mengadu nasib di Gresik pada tahun 1990-an.
Beliau Datang di Gresik bersama Istrinya ibu Haelasoh.
“Saya kenal Beliau pada tahun 2023-an. Sama sama perantauan. Ketepatan kerja saya dan tempat warkop Beliau berdekatan. Dulu Beliau jualan Putu Ayu (makanan tradisional) keliling desa-desa sekitar Tepen, Tenger, dan Sukamulyo. Dan Sang istri dulu juga ikut buruh tani di sekitar Sukomulyo, Pongangan, Suci,” ungkap Al Ghani sapaan akrabnya, Minggu (2/6/2024).
Ibu Haelasoh, istri Doyok pernah cerita di saat waktu awal di Gresik dengan medok Khas Bahasa Indonesia ke Sunda sundaan.
Pada saat sore Pak Doyok jualan putu, Beliau menunggu di Musala yang sekarang menjadi Kantor Telkom.
“Saya Mas, kalau nunggu sering diganggu hantu di sebelah musala situ,” kenang Ibu Haelasoh yang waktu itu setiap pagi juga kerja di sawah menanam padi dengan penduduk sekitar Tepen Sukomulyo Manyar.
Beliau menceritakan banyak suka duka saat beliau merantau di Gresik ini. “Saya sampai meneteskan air mata saat Beliau bercerita. Mirip Kisah ibu saya yang banting tulang membesarkan anak-anaknya sendiri,” ucap Al Ghani dengan nada haru.
Beliau benar-benar wanita tangguh, sabar, dan dermawan. Selang beberapa tahun setelah berjualan Putu, Beliau membuka warkop kecil-kecilan di Gerbang GKB. Pernah ditawari Ruko, tapi Beliau masih merintis gak berani.
Dan akhirnya warung usahanya berjalan lancar, meski sempat down saat ada Covid-19 kemarin. Alhamdulillah sekarang sudah buka lagi di tempat yang sama saat membuka usaha itu.
“Demikian sedikit kisah tentang Pak Doyok dan istrinya. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita semua,” tutup Al Ghani.
Ya !! Memang rezeki tidak ke mana-mana. Takaran dan jatah sudah ada tulisannya. Semoga Kang Doyok bersama sang istri selalu sehat, lancar dalam berhaji dan menjadi Haji yang Mabrur. Aamiin. Salam Gimbal Tempe dan Teh Poci Warkop Legendaris Kang Doyok. (Al Ghani/Telisik Hati)
















