Penulis📰✍️ Isnanto, S.Ag, SH, M.Si
BN News – Ramadan adalah sebuah bulan yang penuh berkah. Tidak hanya dalam makna spiritual, tetapi keberkahan rezeki sebagian warga, karena berputarnya roda perekonomian masyarakat.
Usaha skala kecil berupa makanan dan minuman meningkat produktifitasnya karena seiring dengan peningkatan daya konsumtif masyarakat yang melonjak drastis. Hal ini menguntungkan berbagai sektor, mulai home industri maupun sentra industri kuliner.
Banyak kita temui di setiap pinggir jalan, di lorong-lorong gang perkampungan berderet meja yang tidak jauh jaraknya para pedagang telah menyajikan berbagai macam jenis makanan dan minuman di setiap sore jelang maghrib untuk melayani kaum muslim yang menjalankan ibadah puasa yang mempersiapkan diri untuk berbuka puasa.
Seiring dengan pergeseran sinar matahari yang mulai terbenam banyak lalu lalang para warga yang berboncengan sambil menunggu adzan maghrib yang sering kita sebut dengan istilah ngabuburit.
Para penunggu masa jelang maghrib tidak hanya meramaikan lokasi taman dan tempat wisata lokal, tetapi ikut juga meramaikan di berbagai lokasi sentra kuliner dan ramai memilih berbagai menu macam makanan atau jajanan dan minuman yang beraneka macam yang disajikan para pedagang di pinggir-pinggir jalan untuk menambah menu yang telah disiapkan di rumah.
Tradisi tahunan dalam momentum ramadan ini kita temui diberbagai tempat. Pergerakan aktivitas ekonomi sebulan penuh ini tanpa sadar telah membantu pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang telah dirasakan keberkahannya oleh warga usaha industri makanan dan minuman di berbagai lapisan masyarakat karena menambah nafkah pendapatan keluarga yang diperoleh dengan cara halal untuk melayani para warga muslim yang beribadah puasa. Belum lagi permintaan pembelian untuk kebutuhan takjil di beberapa musala dan masjid.
Selain pergerakan ekonomi, Ramadan juga dikenal sebagai bulan berbagi karena terjadi bentuk distribusi kekayaan yang lebih merata, karena banyak perusahaan maupun individu memberikan zakat, infak dan sedekah yang dapat dirasakan oleh lapisan masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Konsep berbagi ini yang berasal dari ajaran Islam yang menjadi pendorong ekonomi yang lebih inklusif.
Pada akhirnya Ramadan bukan hanya tentang Ibadah Spiritual, tetapi tentang bagaimana kita membangun ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia.
Semoga Ramadan ini menjadi momentum yang tepat untuk menggapai kemuliaan mengedukasi menginspirasi serta keberkahan bagi umat Islam. Aamiin !! (*)
*Isnanto, S.Ag, SH, M.Si, Penulis adalah Kepala MA (Madrasah Aliyah) Roudlotul Ulum Banyutengah Panceng sekaligus Pengurus MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Gresik. Beliau juga Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Banyutengah Panceng, Ketua PRNU Banyutengah dan Sekretaris Komnasdik Kabupaten Gresik.
















