BN News – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan publik yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan SLB Negeri Gedangan serta Pelatihan Budaya Pelayanan Prima dan Penguatan Sensitivitas terhadap Pengguna Layanan Publik Disabilitas yang dilaksanakan pada Selasa (25/6/2025).
Perjanjian kerja sama ini ditandatangani langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, dan Kepala SLB Negeri Gedangan, Puguh Sudarminto. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas pelayanan publik di lingkungan Kemenag Jatim, terutama dalam menghadirkan layanan yang ramah dan setara bagi penyandang disabilitas.
“Menjadi tugas kita untuk memberikan pelayanan secara prima, profesional, ramah, dan responsif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” tandas Kakanwil Kemenag Jatim
Hadir secara luring dalam kegiatan ini antara lain Kepala Bagian Tata Usaha, Ketua Tim Bagian TU, Kepala Bidang Penais, sejumlah pegawai dari masing-masing bidang di lingkungan Kanwil Kemenag Jatim, serta petugas keamanan dan tim Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Sementara itu, secara daring kegiatan ini juga diikuti oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, Kepala Subbag TU, Koordinator PTSP, hingga Kepala KUA se-Jawa Timur.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan sensitivitas seluruh pegawai terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Narasumber dari SLB Gedangan menjelaskan bahwa penyandang disabilitas terdiri dari berbagai kategori seperti tuna daksa (fisik), tuna netra (penglihatan), tuna rungu (pendengaran), tuna grahita (mental), serta kelompok lain seperti disabilitas perilaku, ganda autisme dan ADHD. Masing-masing kelompok memiliki kebutuhan yang berbeda dan tidak dapat diperlakukan secara seragam.
Untuk mendukung pelayanan inklusif, narasumber menekankan pentingnya penyediaan sarana dan prasarana seperti: tempat parkir khusus, jalur landai, pegangan rambat, kursi roda, toilet khusus, loket prioritas, ruang laktasi, kursi tunggu prioritas, serta alat bantu untuk penyandang tuna netra dan tuna rungu.
“Yang paling dibutuhkan oleh mereka adalah kesempatan. Kesempatan untuk datang sendiri, mengurus sendiri, dan menunjukkan bahwa mereka juga bisa berkarya,” ungkap Narasumber SLB Negeri Gedangan.
Melalui kerja sama dan pelatihan ini, Kemenag Jatim berharap dapat memperkuat semangat memberikan pelayanan prima, serta menjadi inspirasi bagi satuan kerja lainnya dalam mewujudkan layanan yang setara, inklusif, dan manusiawi. Hal ini sejalan dengan semangat zona integritas yang terus diupayakan oleh Kemenag di seluruh tingkatan. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)
















