Oleh: Dr. Muhammad Asrori, M.Pd.I
LAMONGAN, BN News – Ada yang retak dalam logika publik kita. Di tengah arus deras informasi dan gelombang narasi yang berseliweran, dunia pesantren kembali menjadi sasaran bidikan yang tak adil. Layar televisi—yang semestinya menyalurkan cahaya pengetahuan—kini malah menebar kabut kecurigaan. Trans7, dengan segala kekuatan siarnya, menayangkan pesantren dalam bingkai muram: tradisional, feodal, bahkan seolah menyimpan kelam di balik pagar bambu dan kitab kuning.
Sebagai santri, kita tentu tak anti kritik. Tapi kita punya hak untuk bersedih. Sebab bukan kebenaran yang disajikan, melainkan niat jahat yang disamarkan dalam bahasa jurnalistik. Framing negatif yang diarahkan kepada dunia pesantren setelah duka di Pondok Al-Khozini bukan sekadar kekeliruan redaksional. Ia adalah penyimpangan moral media, yang memilih menjual rasa ingin tahu publik daripada menegakkan empati sosial.
Padahal, di dalam pesantren, kehidupan mengalir dengan sederhana namun beradab. Setiap pagi, anak-anak itu bangun sebelum fajar, menimba ilmu, mencuci piringnya sendiri, menunduk di hadapan gurunya bukan karena takut, tetapi karena hormat. Di dunia pesantren, menundukkan badan di hadapan guru adalah cara paling indah untuk menegakkan kemanusiaan.
Ironisnya, tindakan tawadhu’ itu kini dituduh sebagai simbol feodalisme. Mereka yang tak memahami ruh pendidikan pesantren melihat sopan santun sebagai rantai, bukan sebagai cermin budi. Mereka lupa, bahwa bangsa yang kehilangan sopan santun, sesungguhnya sedang kehilangan arah.
Lalu, bagaimana dengan ojigi di Jepang? Membungkukkan badan di hadapan guru atau atasan di negeri sakura itu selalu dielu-elukan sebagai manifestasi etika dan disiplin. Media kita pun memujinya setinggi langit. Tapi ketika nilai yang sama tumbuh di tanah sendiri, dengan akar spiritualitas yang lebih dalam, ia justru dilecehkan.
Apakah ini bukan bentuk inferioritas intelektual—bangsa yang silau pada budaya asing tapi buta pada kearifan sendiri?
Pesantren selama berabad-abad telah menjadi benteng moral bangsa. Dari rahimnya lahir pejuang, ulama, dan pendidik yang menyalakan obor pengetahuan di tengah gelap kolonialisme dan dekadensi moral. Namun hari ini, media—yang seharusnya menjadi ruang publik yang adil—justru memperlakukan pesantren seperti terdakwa. Padahal, di banyak layar kaca yang sama, saban hari kita disuguhi tontonan yang memperdagangkan tubuh, sensasi, dan kehancuran nilai. Lalu siapa sebenarnya yang sedang merusak generasi bangsa?
Kritik seharusnya lahir dari niat membangun, bukan dari dendam atau rasa curiga yang dikapitalisasi. Pesantren bukanlah lembaga steril dari kesalahan, tapi ia juga bukan sarang kegelapan sebagaimana disuguhkan sebagian media. Di sana ada guru yang tak pernah digaji, santri yang belajar kesabaran, dan nilai-nilai yang tak bisa dibeli dengan uang korporasi mana pun.
Maka ketika media korporat menuding pesantren dengan label buram, sejatinya yang mereka serang bukan hanya institusi pendidikan Islam—melainkan moralitas bangsa yang masih berani menjaga kesopanan dan ketulusan di tengah zaman yang sibuk menertawakan keduanya.
Ada yang lebih berbahaya dari fitnah: yaitu ketika fitnah itu dianggap berita. Dan ada yang lebih menyedihkan dari kebohongan: ketika kebohongan itu dianggap sebagai kebenaran karena disiarkan dengan suara jernih dan kamera canggih.
Kita harus berani bersuara. Sebab jika pesantren terus dibiarkan menjadi kambing hitam dalam narasi modernitas, maka yang sedang runtuh bukanlah dunia pesantren itu sendiri—melainkan akal sehat bangsa yang kehilangan rasa hormat kepada sumber moralnya.
Pesantren bukan masa lalu. Ia adalah ruang sunyi tempat moral bangsa ini diselamatkan dari kehancuran. Dan jika dunia media tak lagi mampu melihat cahaya di balik kesunyian itu, barangkali bukan pesantren yang gelap—tetapi hati mereka yang sudah padam. (*)
*Penulis Dr. Muhammad Asrori, M.Pd.I adalah Ketua PC. PERGUNU Lamongan yang juga Dosen Fakultas Agama Islam Unisla
















