Catatan moderator: Fatih_Sampek
GRESIK, BN News – Sabtu malam, 29 november 2025 di pelataran (teras) Museum Kanjeng Sepuh Sidayu Komunitas Kotaseger Indonesia menggelar Khidmah Budaya ke 10 kali mengangkat tema: Epos telaga rambit dari masa ke masa. Sekitar 70an penikmat sejarah, seni dan budaya hadir pada acara tersebut. Di awali dengan tembang gaya kentrungan oleh Muhammad Afif (Ki Afif kalimasada) selaku ketua Kotaseger Indonesia sekaligus pembawa acara malam itu menjadi hidup penuh makna. Sambutan mewakili pembina Kotaseger Indonesia Bpk M. Zuhdi Amin berlanjut pembacaan sholawat basyairul khoirot dipimpin oleh Bpk M.Ibrahim Dzunnurain (Cak Roin).
Lantunan puisi ^Jiwa anak pesisir^ dibawakan Asha (SMPN1Sidayu), ^Sidayu, aku merayumu^ oleh Nufa Teater Lampu (SMAN1Sidayu), serta Puisi berantai ^Jaga Telaga^ oleh Dian-Rifqi-Alex.
Memasuki Diskusi, Fatikhudin selaku moderator mendampingi Sejarawan Eko Jarwanto, Budayawan Lukmanul Hakim serta Zainul Arif Tokoh Masyarakat setempat.
Daya tawar Nilai unsur budaya dari adanya Telaga Rambit (hasil diskusi Khidmah Budaya oleh Kotaseger Indonesia). Nilai unsur budaya dari Telaga Rambit sangat kental, terutama terkait dengan sejarah lokal dan fungsi sosialnya.
Dalam pendekatan Folklor penjelasan Bapak Zainul Arif (Tokoh masyarakat) terkait erat dengan kisah Kanjeng Sepuh III dan Kanjeng Kudus(Kanjeng Sepuh I) yang menjadikannya situs penting dalam penyebaran sejarah lokal & religi di wilayah tersebut.
Fungsi telaga sebagai sumber air minum dan penunjang industri kerajinan gerabah masa lampau di Desa Mbuyungan menunjukkan perannya dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat secara turun-temurun.
Adanya pendekatan teoritis tentang asal-usul telaga tidak persegi & ada campur tangan manusia dalam proses revitalisasi menunjukkan adanya kearifan lokal atau narasi budaya yang diyakini masyarakat setempat merupakan pemaparan dari pemateri Bapak Eko Jarwanto ,selaku sejarawan.
Lalu bagaimanakah jika digali dari Potensi Telaga Rambit menjadi wisata edukatif ?
Ya, Telaga Rambit sangat berpotensi menjadi wisata edukatif. Potensi ini dapat dikembangkan dengan fokus pada dua aspek utama:
1.bEdukasi Lingkungan (Ekologi): Menjelaskan fungsi telaga sebagai keseimbangan ekosistem, jenis tumbuhan/hewan yang ada, pentingnya menjaga kualitas air, dan upaya konservasi yang dilakukan masyarakat.
2. Edukasi Sejarah dan Budaya: Menyediakan informasi mengenai sejarah telaga, peran Kanjeng Sepuh, cerita rakyat setempat, dan proses pembuatan gerabah menggunakan air dari telaga. Pemandu lokal dapat dilatih untuk menyampaikan narasi ini.
Mungkin Pemerintah dapat merevitalisasi telaga ini dengan cara yang berbeda tergantung pada status yang ingin ditetapkan, asalkan tidak menghilangkan fungsi & menjaga kearifan lokal. Pemateri bapak Rakai lukman juga menegaskan: Misalkan
Untuk menjadi Cagar Alam (konservasi alam):
Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan kajian ekologis mendalam.
Proses ini melibatkan penetapan kawasan konservasi berdasarkan keanekaragaman hayati dan fungsi hidrologisnya.
Fokus revitalisasi adalah perlindungan ketat ekosistem, pembatasan aktivitas manusia yang mengganggu alam, dan penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan.
Kemudian Untuk menjadi Cagar Budaya (perlindungan warisan sejarah/budaya):
Pemerintah daerah (Dinas Kebudayaan/Pariwisata) perlu melakukan penelitian arkeologis dan historis untuk menguatkan nilai sejarah dan budaya telaga.
Proses ini mengikuti Undang-Undang Cagar Budaya, yang melibatkan penetapan status melalui SK Kepala Daerah atau Menteri.
Fokus revitalisasi adalah pemeliharaan situs sejarah, pengembangan narasi budaya, dan pemanfaatan yang tidak merusak nilai-nilai budaya yang melekat alami (ekosistem) dan budaya (Kanjeng Sepuh, gerabah), pendekatan hibrida atau penetapan sebagai “Taman Wisata Alam” yang juga mengakui nilai budaya lokal mungkin juga bisa menjadi opsi yang bisa ditawarkan.
Telaga Rambit menjadi cerita tentang pemimpin yang arif dan tulus, menunjukkan asal-usul atau keberadaannya terkait dengan figur kepemimpinan yang mulia, bukan kekerasan.
Karena setiap riak air telaga ibarat sebagai bisikan dari masa lalu yang menceritakan tentang pengorbanan dan kebaikan yang membentuk budaya komunal. Keberadaan telaga menjadi saksi bisu yang memperkuat keteguhan (Sedayu), menegaskan bahwa kemuliaan hati dan nilai-nilai luhur adalah epos sejati yang bertahan melampaui ruang-waktu.
Maka Telaga Rambit adalah monumen alam yang merepresentasikan nilai-nilai moral, sejarah kepemimpinan yang tulus, dan keteguhan lokal yang menjadi kebanggaan masyarakatnya sesuai semboyan segenap pemuda lokal dalam diskusi semalam “TELAGA RAMBIT.. LESTARIKAN” Aamiin.. (*)
















