• Beranda
  • Hubungi Kami
  • Info Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik 
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang
Tuesday, September 1, 2026
  • Login
Bumi Nusantara News
  • Beranda
  • Nasional
  • Birokrasi
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Kesehatan
  • Sosial Politik
  • Serba Serbi
  • Potret Desa
  • Seni & Budaya
  • Wisata
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Birokrasi
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Kesehatan
  • Sosial Politik
  • Serba Serbi
  • Potret Desa
  • Seni & Budaya
  • Wisata
No Result
View All Result
Bumi Nusantara News
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

“Tak Sengguh Kemanten Anyar” Pameran Tunggal ke-4 Anang Prasetyo

Telisik Hati by Telisik Hati
2 December 2025
in Seni & Budaya
0
“Tak Sengguh Kemanten Anyar” Pameran Tunggal ke-4 Anang Prasetyo
569
SHARES
569
VIEWS
WhatAppsFacebook

BN News – Saya tidak menyangka, juga tidak mengira. Tajuk pameran ini menjadi kenyataan sesungguhnya.

Tema Pameran Tunggal ke 4 saya bertajuk “Tak Sengguh Kemanten Anyar“, yang mana pada bulan Nopember 2024, setahun yang lalu, telah daftarkan dan saya setorkan kepada pihak Galeri Merah Putih (GMP).

Kemudian akhirnya selesai dan diagendakan pamerannya oleh pihak GMP.

Betapa tidak dinyana, saya juga tidak mengira bahwa pameran dengan tema ini, akhirnya menjadi sebuah fenomena dan kenyataan.

apa pasal ?

Anak saya yang mbarep, namanya Ahmad Zaimmudin pada bulan Agustus 2025 , tahun ini, ta’arufan alias kenalan dengan perempuan asal Lamongan bernama Vivi.

Oleh Guru murobbi kami Abi KH Muh. Ihya’ Ulumiddin, dipilihkanlah tanggal pelaksanaan ijabnya pada Senin 24 Nopember 2025. Lima hari sebelum pelaksanaan pameran tunggal ini.

Sungguh demikian cepat prosesnya dan upacara pernikahannya.

Sebagai santri, mafhumnya, tentu saja, hanya bisa sendika dawuh. sami’ na waatho’na. Tak ada kata tawar menawar. Sebab, demikian Abi Ihya berkata, keberkahan dibalik tanggal awal masuk bulan ( qomariyah) adalah sebuah pilihan terbaik. Sebuah alasan yang sungguh bijak.

Maka, pameran saya ini sejatinya adalah pameran dengan tema dalam artian yang sebenarnya. Tak sengguh, yang berarti memetik atau merengkuh kemanten anyar, alias temanten baru. Pengantin baru saya songsong dengan penuh sukacita dan kegembiraan serta kebahagiaan sebagai orang tua. Sebab anak pertamanya telah menggapai separuh agamanya.

Sehingga , semuanya diluar rencana pameran. Mau tidak mau, saya hanya sebatas menjalaninya.
Kata Orang Jawa ‘Urip mung sak dermi nglakoni’, kita hidup adalah hanya sebatas menjalaninya apa yang dikehendaki Nya. Tak lebih dan tak kurang.

TEGANGAN IDENTITAS

Sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, tentu saja masing-masing ada wilyah dialektiknya. Berjalin berkelindan melipat kisah diri dalam medan sosial. Baik dalam dunia sosial dan pendidikan.

Demikian pula saya. Sebagai makhluk individu dihadapkan pada tantangan hidup untuk menjalani kehidupan sebagai pelukis. Dan disisi lain juga menjadi seorang Guru.

Dan , jujur, keduanya itu sungguh tidak mudah menjalaninya. Ada tegangan yang harus ditaklukkan.

Sebagai makhluk sosial, di dunia pendidikan (baca : sebagai Guru), sekali lagi, sungguh tidak mudah menjadi seorang pengajar dan pendidik pelajaran kesenian. Sekian kurikulum Nasional telah saya jalani. 30 tahun bergelut dalam dunia pengajaran sudah cukup pengalaman saya kira.
Hatta yang terakhir adalah kurikulum merdeka. Yang mana saya sungguh terbantu, demi dan dalam rangka memerdekakan diri dari kungkungan kurikulum yang kadang malah menjebak.

Justru pada wilayah estetika dan kreativitas serta temuan pengembangan pembelajaran dan karya seni rupa ( baca: wayang godhong, dan menggambar memori bahagia). Meskipun, itu menjadi mudah dibaca oleh Guru Gambar Mulyono. Dua pekan sebelum pameran saya mohon doa restunya di rumahnya di dusun Winong Tulungagung.. Dia langsung menangkap artistika tertib , simetrik alias keseimbangan tata letak karya instalasi saya. Sebab, katanya, pola pikir dan pola gerakan seorang Guru memang harus sesuai pakem. Padahal saya sudah sekuat hati tidak demikian. Tapi apa lacur, Mulyono kadung menangkap kesan itu tatkala sketsa kasar instalasi saya , saya tunjukkan. “Kalau saya kan hit and run ! ” katanya berkelakar. Saya pun terkekeh. Kapan jadi Guru dan kapan jadi seniman. Nah rasa kesenimanannya yang harus berani menanggalkan baju seragam Guru.
Dalam hati saya mengamini dan membenarkan statemen Mulyono.

Nah, meskipun saya sendiri di dunia pendidikan berusaha sekuat hati dan berjibaku dengan kegelisahan pendidikan, tetaplah seorang Guru yang memiliki kadar kenaifan.

Dinamika dan pergolakan batin itu sesungguhnya terus bergerak dalam arus pusaran ( baca : thawaf semesta) di wilayah ilmu, kebenaran, kebaikan dan keindahan. Trilogi ketiganya memiliki tegangan identitas yang kokoh berdiri di masing-masingnya. Baik logika, etika, dan estetika. Antara yang haq bathil – khoir – jamiil memijak dalam sunnatulloh ketawhidiyan. Mengesa, menyatu menjadi padu padan tanpa harus diperselisihkan ketiganya. Antara yang syariat – hakekat – ma’rifat saling menjaga dan mengisi.

Dialektika ketiganya sungguh, sekali lagi , butuh waktu dan perjuangan yang lama untuk menyatukannya. Sungguh itu tidak mudah dalam upaya untuk mengharmonikan dan sekaligus mengkompromikannya.

Pada karya instalasi berjudul Anak Peradaban , dalam arti sempit, itu mendapati dialektika yang saya maksud.
Antara sebagai Guru Pendidik dan Seniman. Antara kurikulum pendidikan seni rupa ( sebagai kebenaran) – dan hasil karya seni saya dan murid ( sebagai wilayah estetika) . Menjadi suatu diskusi artistika intens dan suntuk dengan Laku Lampah saya sebagai seniman dan sekaligus guru. Ruang dialektis etis dan sekaligus ( mungkin) kompromis inilah yang saya suguhkan kepada khalayak umum.

Temuan saya berupa metode Menggambar Memori Bahagia , dalam buku saya yang saya terbitkan pada tahun 2016. Telah dibedah di OMP Omah Mikir Pambudi di Batu Malang oleh Prof Djuli Djatiprambudi. Hingga pada akhirnya menggerakan pikiran bernas Lisa Sidyawati dosen di Universitas Negeri Malang untuk menelitinya di program doktoral nya di Universitas Negeri Semarang. Bahkan ia mampu memamerkan karya penelitiannya dengan tajuk menarik di Semarang.

Sementara Wayang Godhong ( wayang daun) adalah karya seni hasil tetirah Laku Lampah ditahun 2017. Dan sudah saya pamerkan di Pameran Tunggal ke 2 dengan judul sama Laku Lampah : 2018 dan Jalan Sunyi : 2021 ( baca buku katalognya).

Sehingga kalau kini di tahun 2025 saya tampilkan buku diary seni karya murid dan hasil tulisannya dalam bentuk buku karya murid. Itu sesungguhnya adalah mengajarkan apa yang saya dapatkan dalam dunia kependidikan, kemudian melakaukan pembelajaran ( transver of knowledge ) kepada semua murid-muridnya.

Buku diary seni, ratusan buku karya murid serta
wayang godhong saya kemas dalam karya instalasi seni bertajuk Anak Peradaban.
Sebagai catatan perjalanan intelektual, karya tulis saya berjudul Aktivasi Memori Bahagia sebagai pemantik ide dan kreativitas karya, telah saya ikutkan dalam prosiding
seminar HUT ISI Yogyakarta ke 36 di tahun 2021 di lalu.

Ditambah, tahun ini telah menginjak tahun ke 15 perjalanan Komunitas Padhang Njingglang. Telah menghasilkan 11 kali Festival Padhang Njingglang tiap bulan Nopember.
Dimana sejak bulan Agustus – September – Oktober dan Nopember, saya bergerilya dalam pembelajaran. Baik di alun – alun Tulungagung tiap ahad ketiga dan di desa Jepun dimana saya tinggal.
Yang menarik adalah, jika tahun 2023 saya bersama Komunitas KOMPAN berthawaf rupa keliling di 33 desa di Tulungagung, mengajarkan Menggambar Memori Bahagia kepada anak-anak dan remaja desa. Lalu tahun 2024 saya mendidik 500an murid untuk membentuk 113 komunitas dan lalu mengajarkan Menggambar Memori Bahagia dengan komunitas itu. Maka kini di tahun 2025 saya mencoba agar 500an murid saya.gantian mengajarkan Menggambar Memori Bahagia itu kepada murid-muridnya. Artinya bahwa, progressivitas, meminjam istilah Nurali pengagas NAP Nopember Art Progres Tulungagung itu, berupaya semakin mengembang dan terus melebar medan sosialnya. Sehingga tidak sibuk lagi dengan kritikan Mulyono Guru Gambar, progresif kog berjalan di tempat. Maka Gerakan Seni Rupa Kebahagiaan yang pernah saya gagas, pada hakekatnya mengalami penumbuhan, peningkatan dan pendewasaan. Bukan pemingitan, pendusunan seperti gambaran kritikus Sanento Juliman. Semoga.

Kembali kepada percaturan tak kunjung selesai itu, walhasil
saya menamainya inilah bulan dimana antara entitas seorang manusia, sebagai hamba Tuhan, yang berusaha menjadi Guru, Pelukis dalam perjuangan yang sama dan sebangun. Selaras dan harmoni dalam mencapai derajat kemanusiaan sejati. Disitulah letak kesadarannya.

*WILAYAH DAMAI*

Pameran tunggal keempat ini, setelah 3 kali pameran sebelumnya :
1. Manunggaling Rupa Wacana 2017 di Joglo Sendang Kamulyan art space
2. Laku Lampah 2018 di Joglo Sendang Kamulyan art space
3. Jalan Sunyi 2021 di ROW Cafe
dan
4. Tak Sengguh Kemanten Anyar 2025 di Galeri Merah Putih Surabaya,
sesungguhnya merupakan proses Laku Lampah berkesenian itu sendiri. Pergulatan pikiran dan batin yang bersifat multidimensional , holistik, integratif dan seakan tak berkesudahan.
Untuk terus menggali dan belajar untuk mendalami. Mengais yang tersisa dan mengambilnya. Memungut kembali kisah dan hikmah dalam pojok sejarah perjalanan berkesenian dan pendidikan. Untuk tetap istiqomah menjadi manusia dalam arti sesungguhnya.

Masing-masing tentu memiliki perspektif yang berbeda. Namun, keseluruhan nya diusahakan, tetap dalam satu kesatuan yang utuh dan padu.

Sebab, narasi besar sebagai hamba Sang Pencipta yang memiliki kemerdekaan , bersatu dan berdaulat dalam diri, memiliki konsekwensi dan sekaligus tanggungjawab yang besar dan berat.

Demikian pula, tatkala tema Tak Sengguh Kemanten Anyar, menjadi narasi besar keindonesiaan yang diusung, ia kini, apa boleh dikata, seolah ada dalam wilayah simulakra seperti gambaran diatas.

Simulakra, sekalipun adalah istilah yang digunakan dalam teori budaya dan filsafat untuk menggambarkan representasi atau gambaran yang tidak memiliki asal atau realitas yang sebenarnya, tetapi dianggap sebagai realitas itu sendiri. Istilah ini diperkenalkan oleh filsuf Prancis, Jean Baudrillard.

Dalam konteks modern, simulakra dapat berupa gambar, tanda, atau simbol yang tidak memiliki hubungan langsung dengan realitas, tetapi dianggap sebagai realitas itu sendiri. Contoh simulakra adalah gambar digital, avatar, atau bahkan konsep-konsep abstrak seperti “kebahagiaan” atau “kebebasan”.

Baudrillard berpendapat bahwa kita hidup dalam dunia yang dipenuhi simulakra, di mana gambaran dan representasi lebih penting daripada realitas itu sendiri. Meskipun realitanya, kini saya berpijak pada kaki yang nyata. Realitas riil dan bersifat rasionalistik. Bahwa saya benar-benar mendapati Tak Sengguh Kemanten Anyar !

Disisi lain.
Apa boleh buat, adanya tema pameran Tak Sengguh Kemanten
Anyar, yang aslinya bersifat metafor. Untuk menggambarkan suatu keadaan baru bermasyarakat, yang terjadi di era Walisongo, tapi itu kini menjadi suatu kenyataan. Dalam artian dalam perspektif dakwah, bahwa Indonesia lah yang memiliki Pancasila yang berbhineka Tunggal Ika, mampu mewujudkan suatu keadaan dunia yang adil makmur sejahtera. Ayem tentrem karta raharjo. Negeri yang memiliki baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Era dimana Presiden Prabowo sedang berupaya meneguhkan kembali keIndonesiaan ditingkat dunia. Indonesia yang bermartabat. Indonesia untuk dunia. Kini sedang dinanti kiprahnya. Maka Indonesia ibarat sebuah keluarga sakinah mawaddah warohmah. Keluarga dan Negeri yang ayem tentrem ( baca lebih lanjut buku Makna Tentrem karya Dr Slamet Hendro Kusumo , Sang Begawan Seni Rupa).

KEMBALI PADA KESADARAN AWAL

Baiklah, terlalu panjang saya kira dalam kata penghantar pameran ini. Saya tidak mau dihujani pertanyaan ingin jadi pelukis ati penulis? Sebuah pertanyaan menohokdari seniman senior di tahun1996, disaat saya masih berstatus mahasiswa di pendopo seni Solo.

Saya hanya sedang ikhtiyar, berupaya menakwili bahwa Tak Sengguh Kemanten Anyar sejatinya adalah dunia baru pernikahan dalam keluarga.
Dalam arti bahwa, sesungguhnya, apa yang terjadi adalah suatu fenomena. Sesuatu yang asli dan empirik. Namun pada akhirnya itu menjadi apa yang disebut Prof Djuli Djatiprambudi, sebagai noumena, sesuatu diluar apa yang terjadi. ( baca lebih jauh di bukunya berjudul Seni Rupa dalam Titik Simpang).
Sehingga jika memahami filsafat hanya dari kacamata barat ( baca: yang rasio murni) . Baik ontologi, epistemologii dan aksiologi. Khususnya bandingkan dengan Islamic epistemologi ( rasio, batin dan wahyu) , maka jelas paradigma, worldview nya menjadi berbeda.

Disisi yang lain, saya menyadari bahwa ini adalah sebagai upaya dialektis. Ibarat karya sastra ada sebuah prolog, dialog dan epilog. Dalam kehidupan nyata, kita selalu dihadapkan dengan trilogi tadi.
Maka pameran tunggal ke 4 ini sesungguhnya mengulangi perkataan mantan Presiden Alija Izzetbegovic bahwa kita sedang mengulangi kealpaan manusia secara akut. ( baca bukunya berjudul Jalan Tengah).

AKHIRAN KATA

Maka, tibalah kita pada satu pemahaman bahwa dibalik 2 judul lukisan dan 1 karya instalasi :
1. Kembar Mayang
2. Anak Peradaban
3. Laku Lampah

ketiganya menjadi akumulasi pemikiran tentang perjalanan Tak Sengguh Kemanten Anyar, sebagai ruang refelektif, imajinatif dialektis yang pastinya tak akan selesai dan seolah tak berkesudahan. Sebab, karena kita belajar kita mendapati fakta baru. Sekaligus menunjukkan bahwa kita adalah manusia , mahkluk lemah, bodoh dan butuh kepada sesuatu yang absolut.

Bahwa dari temanten baru, sebagai titik awal peradaban manusia, akan lahir anak – anak peradaban yang mulia, jika dan hanya selama ia menjalani dalam Laku Lampah yang shirotol mustaqiem, jalan yang lurus dan lempeng. Niti Galengan kata Budayawan Emha Ainun Nadjib.

Demikianlah kiranya sinopsis Pameran tunggal ke 4 berjudul Tak Sengguh Kemanten Anyar.

Selebihnya selamat menikmati.

selamat mengapresiasi

Tulungagung 23 Nopember 2025

Pelukis

Anang Prasetyo

Previous Post

PWNU Jatim Gelar Istighosah dan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa di Tengah Berbagai Bencana

Next Post

Komunitas KotaSeger Indonesia dalam Epos Telaga Rambit dari Masa ke Masa

Telisik Hati

Telisik Hati

Next Post
Komunitas KotaSeger Indonesia dalam Epos Telaga Rambit dari Masa ke Masa

Komunitas KotaSeger Indonesia dalam Epos Telaga Rambit dari Masa ke Masa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Pemdes Manyarsidomukti Gelar Festival Jajanan Jadul Pungkasi Peringatan HUT ke-81 RI 

Pemdes Manyarsidomukti Gelar Festival Jajanan Jadul Pungkasi Peringatan HUT ke-81 RI 

1 September 2026
Peduli Kemanusiaan, Polres Gresik Beri Kesempatan Tahanan Peluk Anak dan Istri

Peduli Kemanusiaan, Polres Gresik Beri Kesempatan Tahanan Peluk Anak dan Istri

1 September 2026
Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I Tahun 2026: Laba Perusahaan Tembus Ratusan Miliar

Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I Tahun 2026: Laba Perusahaan Tembus Ratusan Miliar

1 September 2026
Bintang Pratama, Dalang Cilik SMP Negeri 1 Gresik kian Bersinar: Prestasi Melejit hingga Tingkat Nasional 

Bintang Pratama, Dalang Cilik SMP Negeri 1 Gresik kian Bersinar: Prestasi Melejit hingga Tingkat Nasional 

1 September 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Resmi Dikukuhkan UNESA, S Hariyanto Jadi Kepala Dinas Pendidikan Pertama di Kabupaten Gresik Bergelar Doktor Predikat Cumlaude

Resmi Dikukuhkan UNESA, S Hariyanto Jadi Kepala Dinas Pendidikan Pertama di Kabupaten Gresik Bergelar Doktor Predikat Cumlaude

20 January 2025
Cari Rumput, Warga Masangan Temukan Kerangka Manusia di Area Bukit Jamur Bungah

Cari Rumput, Warga Masangan Temukan Kerangka Manusia di Area Bukit Jamur Bungah

3 January 2025
Subhanallah, Ribuan Pentakziah Menjadi Saksi Langit Mendadak Mendung Saat Prosesi Pemakaman Pemangku Pondok Al Ishlah Bungah KH Ahmad Thohawi Hadin

Subhanallah, Ribuan Pentakziah Menjadi Saksi Langit Mendadak Mendung Saat Prosesi Pemakaman Pemangku Pondok Al Ishlah Bungah KH Ahmad Thohawi Hadin

14 September 2023
Kapolres Gresik Gempur Judi Online, Belasan Pelaku Berhasil Diamankan Tanpa Perlawanan !!

Kapolres Gresik Gempur Judi Online, Belasan Pelaku Berhasil Diamankan Tanpa Perlawanan !!

13 December 2024
IKHTIAR BASMI PANDEMI! MONGGO BERJEMUR DI WISATA SETIGI SEKALIGUS VAKSINASI GRATIS‼️

IKHTIAR BASMI PANDEMI! MONGGO BERJEMUR DI WISATA SETIGI SEKALIGUS VAKSINASI GRATIS‼️

3
Perempuan Tangguh Wabup Ning Min Hadiri Silaturahim & Temu NU se-Dunia di Mekkah Saudi Arabia

Perempuan Tangguh Wabup Ning Min Hadiri Silaturahim & Temu NU se-Dunia di Mekkah Saudi Arabia

2
PROGRAM TERNAK DESA SEJAHTERA NH ZAKATKITA MEMBAWA BERKAH BAGI KAUM DHUAFA

PROGRAM TERNAK DESA SEJAHTERA NH ZAKATKITA MEMBAWA BERKAH BAGI KAUM DHUAFA

1
Bersama Ustadz Budi Setya, M.PSDM, Maskumambang Sukses Gelar Pembinaan Character Building

Bersama Ustadz Budi Setya, M.PSDM, Maskumambang Sukses Gelar Pembinaan Character Building

1
Pemdes Manyarsidomukti Gelar Festival Jajanan Jadul Pungkasi Peringatan HUT ke-81 RI 

Pemdes Manyarsidomukti Gelar Festival Jajanan Jadul Pungkasi Peringatan HUT ke-81 RI 

1 September 2026
Peduli Kemanusiaan, Polres Gresik Beri Kesempatan Tahanan Peluk Anak dan Istri

Peduli Kemanusiaan, Polres Gresik Beri Kesempatan Tahanan Peluk Anak dan Istri

1 September 2026
Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I Tahun 2026: Laba Perusahaan Tembus Ratusan Miliar

Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I Tahun 2026: Laba Perusahaan Tembus Ratusan Miliar

1 September 2026
Bintang Pratama, Dalang Cilik SMP Negeri 1 Gresik kian Bersinar: Prestasi Melejit hingga Tingkat Nasional 

Bintang Pratama, Dalang Cilik SMP Negeri 1 Gresik kian Bersinar: Prestasi Melejit hingga Tingkat Nasional 

1 September 2026
Pemdes Manyarsidomukti Gelar Festival Jajanan Jadul Pungkasi Peringatan HUT ke-81 RI 

Pemdes Manyarsidomukti Gelar Festival Jajanan Jadul Pungkasi Peringatan HUT ke-81 RI 

1 September 2026
Peduli Kemanusiaan, Polres Gresik Beri Kesempatan Tahanan Peluk Anak dan Istri

Peduli Kemanusiaan, Polres Gresik Beri Kesempatan Tahanan Peluk Anak dan Istri

1 September 2026
Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I Tahun 2026: Laba Perusahaan Tembus Ratusan Miliar

Kinerja SIG Tumbuh Solid pada Semester I Tahun 2026: Laba Perusahaan Tembus Ratusan Miliar

1 September 2026
Bintang Pratama, Dalang Cilik SMP Negeri 1 Gresik kian Bersinar: Prestasi Melejit hingga Tingkat Nasional 

Bintang Pratama, Dalang Cilik SMP Negeri 1 Gresik kian Bersinar: Prestasi Melejit hingga Tingkat Nasional 

1 September 2026
Berikan Pelayanan Terbaik, Pemdes Sembayat Manyar Antar Langsung BLT Dana Desa ke Rumah Lansia

Berikan Pelayanan Terbaik, Pemdes Sembayat Manyar Antar Langsung BLT Dana Desa ke Rumah Lansia

1 September 2026
Bupati Gus Yani dan Wabup Dokter Alif Ajak IWAPI Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Bupati Gus Yani dan Wabup Dokter Alif Ajak IWAPI Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

1 September 2026

Bumi Nusantara News

© 2023 Buminusantaranews.com.

Navigate Site

  • Beranda
  • Hubungi Kami
  • Info Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik 
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Birokrasi
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Kesehatan
  • Sosial Politik
  • Serba Serbi
  • Potret Desa
  • Seni & Budaya
  • Wisata

© 2023 Buminusantaranews.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In