GRESIK, BN News – Semangat membangun peternakan kambing yang lebih maju terlihat dalam kegiatan “Mepe Kambing Bareng” yang digelar di Desa Cangaan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Minggu (3/8/2026).
Kegiatan ini mempertemukan para peternak dari Cangaan dan sejumlah desa sekitar untuk mempererat silaturahmi sekaligus bertukar pengalaman mengenai peningkatan kualitas ternak, manajemen pemeliharaan, hingga strategi pemasaran.
Acara menghadirkan dua narasumber, yakni dr. Viki Mustofa dan peternak kambing Samsul Arifin, yang membagikan pengalaman serta pengetahuan praktis untuk mendorong peternak semakin profesional dan berdaya saing.
Dalam pemaparannya, dr. Viki Mustofa menjelaskan bahwa usaha peternakan kambing memiliki prospek yang sangat baik apabila dikelola secara profesional. Ia mencontohkan keberhasilan kelompok peternak binaan di Desa Serembi yang awalnya hanya beranggotakan sekitar 10 orang dan kini berkembang menjadi 38 anggota dengan populasi ternak mencapai ratusan ekor.
Keberhasilan tersebut didukung oleh kekompakan kelompok, peningkatan kualitas bibit melalui persilangan (crossing), manajemen pemeliharaan yang baik, serta kerja sama dengan berbagai pihak.
Menurutnya, peternak perlu terus meningkatkan kualitas genetik ternak agar menghasilkan anakan yang lebih besar dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Selain peningkatan kualitas bibit, dr. Viki juga mengajak peternak memanfaatkan limbah ternak menjadi sumber pendapatan tambahan. Kotoran kambing yang selama ini sering dianggap sebagai limbah dapat dikumpulkan dalam karung sesuai ketentuan, kemudian diambil oleh pihak pembeli tanpa biaya angkut dari peternak. Program tersebut tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga mengurangi pencemaran lingkungan akibat kebiasaan membakar kotoran ternak.
Sementara itu, Samsul Arifin membagikan pengalaman praktis dalam mengelola peternakan kambing. Ia menjelaskan pentingnya manajemen pakan yang seimbang melalui kombinasi hijauan dan pakan kering. Bahan baku seperti dedak, jagung, dan bahan pendukung lainnya dipersiapkan secara mandiri agar kualitas pakan tetap terjaga.
Di peternakannya, kebutuhan pakan mencapai sekitar 800 kilogram hingga 1 ton setiap hari. Dengan pola pemberian pakan yang tepat, kebutuhan nutrisi ternak dapat tercukupi sehingga pertumbuhan kambing berlangsung optimal.
Ia juga mempersilakan peserta yang ingin belajar lebih jauh untuk berkunjung langsung ke peternakannya agar dapat melihat praktik pemeliharaan secara langsung.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah seorang peserta dari Kecamatan Bungah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap pemerintah, khususnya Dinas Peternakan, terus menghadirkan program yang mampu meningkatkan daya saing peternak, terutama dalam aspek pemasaran kambing.
Peserta lainnya mengangkat persoalan kesehatan ternak, yakni penanganan cempe berusia dua minggu yang tidak mau menyusu.
Menanggapi hal tersebut, dr. Viki Mustofa menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti produksi susu induk yang kurang, gangguan kesehatan pada induk maupun anak, atau kondisi anak kambing yang lemah. Solusi yang dapat dilakukan adalah memeriksa kondisi induk, memastikan produksi susu berjalan baik, serta memberikan bantuan susu dari induk lain apabila diperlukan.
Anak kambing dianjurkan tetap memperoleh susu hingga usia sekitar tiga bulan agar pertumbuhannya optimal.
Selain itu, persoalan keamanan kandang juga menjadi perhatian peserta. Mereka mengungkapkan masih adanya kasus pencurian ternak yang merugikan peternak.
Menanggapi hal tersebut, dr. Viki Mustofa menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan kelompok peternak, sistem ronda bergilir, serta kerja sama dengan pemerintah desa dan aparat keamanan agar risiko pencurian dapat diminimalkan.
Kepala Desa Cangaan, Fakhrur Rozi, mengatakan pemerintah desa berkomitmen mendukung perkembangan peternakan kambing, tidak hanya melalui pemberdayaan peternak, tetapi juga dengan meningkatkan aspek keamanan.
“Pemerintah desa telah memasang CCTV di beberapa titik strategis dan mengoptimalkan peran pemuda serta Linmas untuk membantu menjaga keamanan lingkungan. Namun karena kandang ternak tersebar di wilayah yang cukup luas, kami mengajak seluruh peternak ikut memperkuat pengamanan secara mandiri melalui pagar, kunci yang lebih aman, dan ronda bergiliran,” ujar Fakhrur Rozi.
Ia menambahkan, pemerintah desa juga tengah menggagas pembangunan kawasan peternakan terpadu agar kandang-kandang peternak dapat berada dalam satu lokasi dengan pagar, gerbang, dan sistem keamanan bersama sehingga pengawasan lebih efektif.
Menanggapi pertanyaan mengenai pemasaran, dr. Viki Mustofa menjelaskan bahwa meskipun penjualan kambing hidup mengalami penurunan akibat kondisi ekonomi, peluang usaha di sektor daging dan produk olahan masih sangat menjanjikan.
Peternak didorong untuk mengembangkan usaha melalui penjualan daging segar, sate, akikah, maupun produk olahan lainnya. Ia juga menekankan pentingnya legalitas dan sertifikasi halal agar produk dapat dipasarkan lebih luas.
Menurutnya, daging kambing memiliki kandungan protein yang tinggi, kadar lemak relatif rendah, dan nilai gizi yang baik. Edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan agar konsumsi daging kambing semakin meningkat.
Di akhir kegiatan, para pemateri mengajak seluruh peternak untuk terus belajar, memperkuat organisasi kelompok, meningkatkan kualitas bibit dan manajemen pemeliharaan, serta membangun jaringan pemasaran yang lebih luas.(Telisik Hati)
















