PEJUANG ISLAM PERENG WETAN: Gus Sutikno dan Cak Roikhan saat menceritakan kisah Mbah Sampeyan. (Telisik Hati)

BUMINUSANTARANEWS.COM – Desa Melirang yang berada di wilayah Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik punya segudang tradisi dan budaya serta cerita para sesepuh yang telah banyak menorehkan jasa-jasa perjuangan dalam babad tanah Melirang maupun menyebarkan agama Islam di desa setempat. Makam-makam para sesepuh itu mengelilingi Desa Melirang.

Setiap tahunnya, masyarakat Desa Melirang rutin menyelenggarakan berbagai tradisi peringatan haul para sesepuh desa. Salah satu makam sesepuh yang rutin diperingati haul yaitu Mbah Sampeyan. Makam Mbah Sampeyan berada di Dusun Pereng Wetan, Desa Melirang.

Menurut kisah singkat sejarah dari berbagai sumber, nama Mbah Sampeyan berasal dari Mbah Sufyan. Tokoh pejuang agama Islam yang disebut-sebut berasal dari Pulau Madura itu masuk Desa Melirang saat sebagian masyarakat setempat masih menganut faham Animisme dan Dinamisme. Sebagian lain beragama Hindu dan Budha.

“Dulu orang menyebutnya Mbah Sampeyan, ketika saya bertanya-tanya ternyata namanya Mbah Sufyan. Dulu sebelum Islam masuk di desa ini, masyarakat memeluk agama Hindu Budha, dan beliau saat itu mondar-mandir di desa ini untuk mensyiarkan agama Islam,” terang salah satu warga, Gus Sutikno di Dusun Pereng Wetan, Desa Melirang Bungah.

Biasanya, kata Gus Sutikno, haul Mbah Sufyan diperingati setiap tahunnya bersamaan dengan Ruwahan dan Isra’ Mi’raj. Tradisi yang digelar warga Dusun Perang Wetan setiap sebelum musim panen para petani serta bulan Rajab menjelang memasuki bulan suci Ramadan.

“Peringatan haulnya bareng sama tradisi Ruwahan Massal. Masyarakat biasanya menggelar Ruwahan sebelum musim panen para petani serta bulan Rajab menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, nah sekaligus memperingati haul Mbah Sampeyan atau Mbah Sufyan,” beber Sutikno didampingi Cak Roikhan, Jumat (18/3/2022).

Gus Sutikno menjelaskan, tradisi Ruwahan sendiri telah dijalankan oleh masyarakat selama puluhan tahun lamanya. Oleh warga, Ruwahan sendiri diyakini sebagai ungkapan rasa syukur dengan mengirimkan doa kepada para sesepuh serta mempersiapkan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

“Menjelang Ramadan, masyarakat biasanya menyambut dengan kirim doa kepada para sesepuh dan orang tua, serta menyambangi makamnya dan bersih-bersih,” pungkasnya. (Gus Rifky/Didik Hendri Telisik Hati)
















