GRESIK, BN News – Inovasi baru full manfaat kembali diluncurkan UPT SMP Negeri 10 Gresik. Kali ini, satu-satunya sekolah negeri jenjang SMP di wilayah Kecamatan Bungah ini menghadirkan SIPINTER-MBG (Sistem Pendidikan Anti Food Waste dan Pengolahan
Terintegrasi Limbah MBG untuk Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan).
SIPINTER-MBG hadir untuk menjadikan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui inovasi ini, edukasi anti food waste diintegrasikan dalam pembelajaran dan pembiasaan peserta didik.
Sementara itu, sisa makanan MBG dikelola secara bertanggung jawab melalui keterlibatan Kader Cinta Lingkungan (KCL).
Bersama SIPINTER-MBG, kita belajar untuk:
-Menghargai makanan dan membiasakan makan tuntas;
-Peduli terhadap lingkungan;
-Mengurangi food waste;
-Bertanggung jawab terhadap sumber daya yang kita gunakan; dan
-Membangun karakter peduli lingkungan.
Kepala UPT SMPN 10 Gresik Hj. Nur Aliyah, M.Pd.
“Karena makanan yang kita terima bukan sekadar untuk mengenyangkan, tetapi juga untuk dihargai dan dimanfaatkan dengan bijak,” tandas Kepala UPT SMPN 10 Gresik Hj. Nur Aliyah, M.Pd., Selasa (15/9/2026).
“Makan Tuntas Hari Ini, Selamatkan Bumi Esok Hari”
Dari Sisa Nasi menjadi Aksi: SIPINTER-MBG Ubah Program Makan Bergizi Gratis menjadi Gerakan Peduli Lingkungan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa harapan besar bagi lahirnya generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Namun, ada satu pertanyaan penting, bagaimana agar makanan bergizi yang sudah disajikan tidak berakhir menjadi sampah?
Pertanyaan itulah yang mendorong UPT SMP Negeri 10 Gresik melahirkan SIPINTER-MBG (Sistem Pendidikan Anti Food Waste dan Pengolahan Terintegrasi Limbah MBG untuk Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan).
Inovasi tersebut berangkat dari persoalan nyata. Pada awal pelaksanaan MBG, hasil pemantauan menunjukkan sekitar 23 persen atau 154 dari 670 siswa masih menyisakan makanan dua hingga tiga kali dalam seminggu. Sisa makanan mencapai rata-rata 6,57 kilogram per hari.
Survei internal menemukan hanya sekitar 42 persen siswa memahami dampak food waste terhadap lingkungan dan ketahanan pangan.
Bagi UPT SMPN 10 Gresik, persoalan tersebut bukan sekadar urusan sampah. Sisa makanan menjadi pintu masuk untuk membangun karakter.
Sekolah kemudian mengubah pendekatan, dari sekadar mengingatkan siswa agar menghabiskan makanan menjadi; mendidik, membiasakan, mengukur, dan mengolah sisa makanan secara nyata. Melalui SIPINTER-MBG, isu food waste diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran.
Pada Pelajaran Matematika, siswa dilatih untuk mengolah data limbah MBG menjadi tabel, diagram, dan persentase agar mereka sadar bahwa sedikit nasi sisa dari ompreng mereka jika dikumpulkan akan menjadi gundukan nasi yang sia-sia.
Pada Pelajaran PAI guru mengintegrasikan pembelajaran larangan mubazir dan rasa Syukur serta adab saat makan. Sementara dalam IPA, siswa dilatih untuk memanfaatkan limbah MBG menjadi produk yang lebih berguna yaitu pelet ikan, kompos, dan POC (Pupuk Organik Cair).
Mapel Bahasa Indonesia siswa membuat poster atau kampanye anti-food waste, dan pada PPKn siswa diajak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab sebagai bagian dari warga sekolah.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan aksi. Siswa dibiasakan makan menggunakan peralatan yang bersih dan sehat, berdoa sebelum dan sesudah makan, dan menghargai makanan dengan menghabiskannya.
Sisa makanan dipilah, ditimbang, dicatat, dan didokumentasikan. Kader Cinta Lingkungan (KCL) menjadi motor pengelolaan limbah organik dengan mengolahnya menjadi kompos dan POC.
Hasilnya, siswa yang menyisakan makanan turun dari 154 siswa (23%) pada Oktober 2025 menjadi 40 siswa (6%) pada Juni 2026, atau berkurang 74%. Limbah makanan juga turun dari 6,57 kg menjadi 4,64 kg per hari, atau berkurang 29,3%.
Keberhasilan SIPINTER-MBG tidak hanya diukur dari berkurangnya sampah. Pendidikan anti-food waste telah menjadi bagian dari pembelajaran, sementara perkembangan karakter peduli lingkungan siswa dipantau melalui aplikasi eKSIS (Edukasi Karakter Siswa Spenio).
Survei terhadap 708 responden pun menunjukkan tingkat kepuasan mencapai 94,35 persen dengan kategori sangat puas. MBG bukan hanya sekadar pemberian makanan, namun dari sepiring makanan, anak-anak belajar tentang rasa syukur, tanggung jawab, disiplin, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan.
SIPINTER-MBG pada akhirnya memperlihatkan bahwa program besar dapat melahirkan perubahan dari kebiasaan sederhana. Menghabiskan makanan bukan sekadar perilaku makan, tetapi sebuah pendidikan karakter.
Dari sisa makanan, sekolah menanamkan kesadaran bahwa, menjaga lingkungan dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dari piring makan kita sendiri.
Dengan semangat tersebut, MBG di UPT SMPN 10 Gresik tidak berhenti pada upaya membuat siswa sehat dan cerdas. Program ini sekaligus menjadi jalan untuk menumbuhkan generasi yang bertanggung jawab, berkarakter, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. (*)
*Penulis Hj. Nur Aliyah, M.Pd., Kepala UPT SMPN 10 Gresik