GRESIK, BN News — Kabar duka menyelimuti dunia seni dan kebudayaan Kabupaten Gresik. Fatah Yasin, seorang penyair, deklamator, dan budayawan yang sepanjang hidupnya istiqomah mengawal serta merawat seni tradisi dan warisan budaya lokal, telah berpulang pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Lahir di Gresik pada 20 Juli 1959, almarhum merupakan sosok yang mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk menjaga keberlangsungan seni tradisi dan kebudayaan, khususnya di Kota Pudak. Baginya, seni dan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas dan warisan berharga yang harus terus dirawat serta diwariskan kepada generasi penerus.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kiprahnya dalam mendampingi dan mengembangkan berbagai kesenian tradisional Gresik, terutama **Pencak Macan dan Macapat Sindujoyo**. Dengan kesabaran dan ketekunan, almarhum turut menjaga agar kesenian yang tumbuh dari akar tradisi masyarakat tetap hidup, dikenal, dan memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Kecintaannya terhadap dunia seni telah tumbuh sejak masa muda. Pada dekade 1980-an, Fatah Yasin aktif sebagai pegiat teater ORBET Gresik. Bersama komunitasnya, ia beberapa kali turut meramaikan Pekan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya dalam dunia kesenian dan kebudayaan.
Dedikasinya kemudian berlanjut melalui gerakan kebudayaan yang lebih terorganisasi. Pada 2010, ia merintis komunitas Mata Seger sebagai ruang untuk menghidupkan aktivitas seni dan budaya. Empat tahun kemudian, pada 2014, ia mendirikan Yayasan Mata Seger sebagai wadah untuk memperkuat upaya pelestarian, pengembangan, dan pengenalan seni tradisi kepada masyarakat. Beliau juga pernah menjadi Pengurus DKG (Dewan Kebudayaan Gresik).
Hingga akhir hayatnya, almarhum masih mengemban amanah sebagai Bendahara Umum Yayasan Mata Seger. Hal ini menjadi gambaran bahwa keterlibatannya dalam gerakan kebudayaan bukanlah pengabdian sesaat, melainkan komitmen panjang yang terus dijalani hingga penghujung usia.
Atas pengabdiannya tersebut, Fatah Yasin menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur pada 2023. Ia juga memperoleh penghargaan kebudayaan dari Pemerintah Kabupaten Gresik. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kiprah dan kontribusinya dalam menjaga serta mengembangkan kekayaan seni dan budaya daerah.
Di luar dunia kesenian, almarhum juga memiliki perhatian terhadap pendidikan. Ia pernah mengabdikan diri sebagai guru di sejumlah lembaga pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU), di antaranya SMANU 1 dan SMANU 2. Pada periode terakhir kiprahnya di bidang pendidikan, ia tercatat sebagai pengurus Perguruan NU Kelurahan Lumpur.
Keterlibatannya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama juga berlangsung cukup panjang. Pada beberapa periode sepanjang dekade 1980–1990-an hingga 2000-an, Fatah Yasin dipercaya menjadi pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) NU Gresik. Melalui organisasi tersebut, ia turut mengambil bagian dalam ikhtiar merawat seni dan budaya yang berakar pada kehidupan masyarakat.
Kepergian Fatah Yasin bukan sekadar kehilangan seorang penyair, deklamator, atau budayawan. Gresik juga kehilangan salah satu sosok yang dengan tekun menjaga kesinambungan tradisi, merawat ingatan kolektif masyarakat, dan menghidupkan ruang-ruang kebudayaan.
Pengabdiannya mengajarkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kesetiaan, kesabaran, dan kemauan untuk terus bekerja, bahkan ketika kerja-kerja kebudayaan tidak selalu mendapatkan perhatian yang luas. Seni tradisi tidak akan bertahan hanya dengan dikenang, tetapi harus terus dipraktikkan, diperkenalkan, dan diwariskan.
Kini, Fatah Yasin telah berpulang. Namun, jejak pengabdiannya tetap hidup dalam denyut komunitas kebudayaan yang pernah ia rintis, dalam kesenian tradisional yang ia kawal, serta dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersama dan belajar darinya.
Selamat jalan, Bapak Fatah Yasin
Terima kasih atas kesetiaan dan pengabdian panjang dalam merawat seni tradisi dan kebudayaan Gresik. Semoga segala ikhtiar, ketulusan, dan perjuangan almarhum menjadi amal jariyah yang terus mengalir, serta menginspirasi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan menjaga warisan budaya leluhur. (*)
Al-Fatihah.
*Penulis Kris Adji AW adalah Seniman dan Budayawan Gresik sekaligus Ketua Yayasan Mataseger (Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik)
















