Oleh: Arik S. Wartono
Seni itu panjang, kata Hippocrates. Ars longa, vita brevis.
Saya setuju. Tapi logika harus lebih panjang lagi. Karena penilaian itu sulit. _Iudicium difficile. Dan penilaian terhadap teks kuratorial ARTJOG 2026-2028, Ars Longa Trilogia yang ditulis oleh Farah Wardani, ternyata justru tidak sulit. Ia runtuh sebelum selesai dibaca.
Saya tidak akan bicara selera. Saya bicara struktur berpikir. Karena sebuah kuratorial bukan puisi. Ia adalah peta. Dan peta yang salah akan menyesatkan semua orang di dalamnya.
Teks ini cacat di tiga tempat paling vital: Ia salah menyusun premis. Ia salah menetapkan aksioma. Dan ia salah menyusun argumentasi. Tiga luka itu cukup.
*L1. PREMIS KOSONG: MEMBANGUN TRILOGI DI ATAS ANGIN
Buka teksnya. Premis dasarnya ada di paragraf kedua: “Seni… tetap menjadi bagian integral dari kehidupan karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri…” Dari situlah lahir judul: Ars Longa, seni itu panjang.
Ini bukan premis. Ini tautologi. Lingkaran yang tidak menjelaskan apa-apa.
Kalimat itu bisa dipakai untuk apa saja. Ganti kata “seni” dengan “korupsi”, “perang”, “iklan judi online”. Kalimatnya tetap benar. Karena yang bertahan lama hanya berarti satu hal: ia belum mati. Ketahanan bukan bukti makna. Ketahanan hanya bukti eksistensi.
Maka ketika seluruh trilogi tiga tahun ARTJOG berdiri di atas kalimat itu, ia sedang membangun rumah tanpa pondasi. Tidak ada jawaban atas pertanyaan paling mendasar: Seni relevan untuk apa di Yogyakarta 2026? Untuk melawan apa? Untuk membela siapa?
Teks itu sendiri menyebut era ini “genting”. Ia bicara perubahan iklim, teknologi, krisis sosial. Tapi premisnya memilih lari ke abstraksi Yunani Kuno. Ia kabur dari tanggung jawab berpikir. Ia memilih terdengar dalam, daripada jujur.
Dari premis kosong, tidak akan pernah lahir argumen yang padat. Yang lahir hanya ornamen.
2. AKSIOMA SALAH: SOCIETY 5.0 SEBAGAI DEKORASI
Setelah premis, teks butuh aksioma. Batu bata pertama. Aksioma yang dipilih adalah “Society 5.0”.
Teks menulis panjang tentang Society 5.0 sebagai masyarakat humanis berbasis teknologi. Lalu ditutup satu kalimat: “Namun, Society 5.0 tidak lepas dari kapitalisme otoritarian”. Selesai. Lalu pindah.
Di sinilah cacatnya. Karena Society 5.0 bukan konsep filsafat. Itu dokumen kebijakan ekonomi Jepang tahun 2015. Tujuan utamanya: pertumbuhan lewat integrasi teknologi. Bukan pembebasan.
Menyebutnya lalu mengkritik satu kalimat itu bukan analisis. Itu namanya kritik kosmetik. Tujuannya hanya satu: biar tidak dituduh naif. Padahal seluruh argumen selanjutnya tetap berdiri di atas fondasi yang sama sekali tidak dibongkar.
Ini seperti mau membedah penyakit jantung dengan buku panduan kulkas. Alatnya salah. Aksiomanya salah. Maka semua yang dibangun di atasnya akan salah.
Ketika anda pakai istilah besar tapi tidak mau bedah, anda sedang memakai istilah itu sebagai dekorasi. Dan seni yang butuh dekorasi untuk terlihat kritis, sebenarnya sedang telanjang.
3. ARGUMENTASI CACAT: TIGA DOSA SEKALIGUS
Bagian paling berbahaya adalah ketika teks memanggil David Graeber dan Pierre Bourdieu. Di sinilah tiga dosa logika terjadi bersamaan.
Dosa Pertama: Loncatan Logika
Teks mengutip Graeber. Graeber mengkritik dunia seni elitis dan mengajak membayangkan institusi alternatif terhadap kapitalisme. Lalu teks melompat: “Another Art World… mungkin sudah terwujud… seperti Indonesia, di mana ARTJOG…”
Di mana jembatannya?
Graeber membayangkan dunia seni tanpa komodifikasi, tanpa tiket bayar, tanpa sponsor korporat. ARTJOG adalah kebalikannya: tiket bayar, sponsor BUMN, special commission untuk nama besar, dan strategic partner dari yayasan keluarga presiden.
Mengutip seorang kritikus radikal untuk memvalidasi institusi yang persis menjadi sasaran kritiknya adalah loncatan logika. Ini bukan argumen. Ini pencurian nama. Farah memakai tubuh Graeber untuk membenarkan narasinya, padahal semangatnya Graeber malah dikubur.
Dosa Kedua: Penyatuan Paksa
Teks menulis: Bourdieu dan Graeber, “meskipun berbeda ideologi, keduanya sepakat”.
Mereka tidak sepakat. Mereka bertarung.
Bourdieu bilang field seni adalah arena kuasa. “Otonomi seni” adalah ilusi kelas menengah. Graeber bilang, justru karena itu kita harus berimajinasi radikal untuk menghancurkan struktur itu. Bourdieu membedah. Graeber membakar.
Menyatukan mereka dalam satu kalimat “sepakat” adalah menghapus pertentangan yang paling penting. Ini bukan sintesis. Ini pengkhianatan terhadap keduanya. Teks butuh Bourdieu biar kelihatan cerdas. Butuh Graeber biar kelihatan radikal. Jadi ditabrak jadi satu.
Dosa Ketiga: Klaim Doa
Teks menutup dengan kalimat: “Seni… berperan sebagai alat untuk mencegah, atau menunda dystopia”.
Dalam analisanya yang telah dipublikasikan pada situs semutapi.id tanggal 24 Juni 2026, Syauqi Khaikal Zulkarnaen Membaca Ulang Logika Kurator(s)ial ARTJOG telah membedah secara cermat cacat logika ini, dan saya menyebutnya “dosa”, karena logika yang dibangun oleh Farah Wardani lebih mirip “doa”, tapi munafik.
Coba bantah kalimat itu. Tidak bisa. Kalau dystopia datang, anda bisa bilang sudah ditunda. Kalau tidak datang, anda bilang seni bekerja.
Kalau klaim tidak bisa salah, berarti klaim itu kosong. Ia bukan argumen. Ia doa. Ini prinsip dasar dalam epistemologi (teori pengetahuan) dan metodologi argumen.
Posisi “menunda dystopia” juga posisi pasif. Itu posisi orang yang menyerah. Padahal Graeber yang dikutip oleh Farah jelas menuntut transformasi. Anda mengambil namanya, tapi membuang nyalinya.
4. KONTRADIKSI DAN KEHENINGAN
Dua cacat terakhir melengkapi.
Pertama, kontradiksi di sub-tema _Generatio_. Teks menolak “pengkotakan hierarkis Boomers, Gen Z, Alpha”. Di paragraf yang sama, ia menyebut kategori-kategori itu. Untuk menolak sistem, ia harus mengulanginya dulu. Itu namanya self-refuting. Ia membatalkan dirinya sendiri.
Kedua, keheningan. Teks mengakui pemikir Barat sudah “di titik nadirnya”. Tapi 90% rujukannya tetap dari Barat. Tidak ada satu nama pun dari Nusantara. Padahal festival ini akan mengusung “dekolonisasi” tahun 2027. Bagaimana mungkin mendekolonisasi dengan fondasi yang harusnya didekolonisasi?
Dan yang paling sunyi: pertanyaan tentang kuasa. Siapa yang menentukan? Apakah seniman boleh kritik Papua dengan sponsor seperti ini? Apakah ada karya yang ditolak karena terlalu tajam? Keheningan atas pertanyaan itu bukan kelalaian. Itu pilihan. Dan dalam seni yang mengklaim kritis, pilihan untuk tidak bertanya adalah pernyataan politik.
PENUTUP: NGONO YO NGENO. TAPI OJO NGONO.
Saya sudah bilang sejak awal: NGONO YO NGENO. Boleh begitu. Boleh cari dana. Boleh bertahan hidup. Tapi OJO NGONO. Jangan kelewatan.
Kelewatan itu terjadi ketika Farah mengkhianati logika demi legitimasi. Ketika anda memakai bahasa pembebasan untuk menutupi struktur patronase.
Teks Ars Longa Trilogia gagal karena tiga hal: Premisnya kosong. Aksiomanya salah. Argumentasinya curang.
Hasilnya adalah narasi yang tebal, tapi rapuh. Yang terdengar kritis, tapi fungsinya mengamankan.
Seni itu panjang, Mbak Farah. Tapi kalau logikanya pendek, maka seni hanya jadi lipstik di atas struktur yang busuk. Dan lipstik, seindah apa pun, tidak bisa menutupi bau bangkai. [*]
Gresik, 28 Juni 2026
__
Arik S Wartono adalah pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik
Catatan:
Kuratorial ARTJOG 2026-2028 yang dibedah dalam esai ini bisa diakses langsung pada situs resmi ARJOG
















