Opini Arik S. Wartono
BN News – Ada banyak pembelaan bernuansa hipokrit yang muncul saat publik mulai curiga pada kontradiksi di balik kemegahan sebuah pameran seni. Salah satu yang paling sering terdengar: “Justru keren kalau karya yang dipamerkan mengkritik sponsornya. Itulah kebebasan seni. Yang berbahaya kalau materi disensor agar tidak menyinggung sponsor.” Kalimat ini terdengar manis, tapi kalau diurai, ia adalah cara halus menormalkan kemunafikan institusional.
Saya setuju seni harus bebas mengkritik siapa saja, termasuk sponsor. Tapi mari berhenti berpura-pura bahwa keberanian formal di level karya bisa menutupi kebusukan struktural di level institusi. Argumen “karya boleh menghajar sponsor, jadi tidak ada masalah” adalah bentuk paling licin dari normalisasi hipokrisi. Ia membuat publik merasa demokrasi sudah berjalan, padahal yang berjalan adalah sandiwara.
Kebebasan formal bukan jaminan integritas struktural. Kurator boleh menyelipkan satu dua karya yang menyindir sponsor. Itu terlihat berani dan fotogenik. Masalahnya muncul ketika pada saat yang sama manajemen ARTJOG menjual narasi David Graeber untuk menarik simpati publik, sementara sumber dana dan tokoh peresmian memiliki jejak politik yang bertabrakan dengan semangat Graeber. Dalam situasi seperti itu, kritik dalam karya tidak lagi jadi senjata pembebasan. Ia berubah jadi hiasan dinding yang fungsinya satu: menutupi kontradiksi.
Kritik itu tidak membatalkan struktur pendanaan yang bermasalah. Ia justru dipakai sebagai tameng. “Lihat, kami demokratis, karya kami berani menghajar sponsor.” Padahal logika pendanaan, kurasi, dan publikasi tetap berjalan sesuai kepentingan pemodal. Publik diajak bertepuk tangan pada keberanian semu, sementara kontradiksi inti dibiarkan busuk di balik layar.
Lebih jauh, model ini menjadikan seniman sebagai umpan, bukan subjek. Masalah ARTJOG 2026 bukan sensor. Sampai hari ini ARTJOG tidak perlu menyensor siapa pun. Yang terjadi lebih gelap dan licin: seniman diajak masuk dengan narasi besar tentang pembebasan dan keberanian berpikir, lalu diletakkan di ruang yang sejak awal sudah terkontaminasi kontradiksi. Ketika publik marah, yang pertama kena label “penopang artwashing” bukanlah manajemen, melainkan seniman yang tampil di dalamnya.
Jadi kalau jawabannya “biarin saja, toh karyanya bebas kritik sponsor”, itu sama saja bilang: “Biarin seniman jadi tameng moral, asal acaranya jalan dan sponsor senang.” Itu bukan pembelaan terhadap kebebasan seni. Itu pengorbanan seniman demi menjaga citra acara. Kebebasan yang dibanggakan hanya berlaku di atas rangkaian tipu-tipu yang menempel pada dinding, menjutai di lantai dan menggantung di langit-langit galeri, tidak pernah menyentuh meja rapat kuratorial.
Hipokrisi terjadi jauh sebelum sensor. Sensor adalah gejala level akhir. Hipokrisi ARTJOG 2026 terjadi saat narasi kuratorial memakai Graeber untuk membangun kepercayaan publik, tapi praktik pendanaan dengan enteng bertabrakan dengan semangat Graeber itu sendiri. Jika integritas sudah dijual di tahap kurasi dan pendanaan, maka “kebebasan karya” tinggal jadi kosmetik. Sama seperti restoran yang menjual menu organik di etalase tapi memakai bahan kadaluarsa di dapur. Mau chef-nya bebas bereksperimen di atas piring, tetap saja restoran itu menipu pelanggan.
Karena itu, yang kita lawan bukan pasar. Seni memang butuh uang, dan tidak ada entitas waras yang menolak sponsor. Yang kita lawan adalah normalisasi munafik. Tidak salah menerima dana dari pihak berkepentingan. Yang salah adalah menjual narasi A sambil hidup dari sumber yang bertentangan dengan narasi A. Jika berani menerima dana dari lingkaran oligarki politik, jujur saja di awal: “Ini acara dibiayai X, tujuannya Y.” Jangan membungkusnya dengan jargon Graeber lalu mengklaim “ini kebebasan seni”. Kebebasan seni sejati bukan sekadar boleh kritik sponsor. Kebebasan sejati adalah ketika institusi tidak memaksa seniman dan publik menelan kontradiksi demi kelancaran logistik.
Logika pembenaran berikutnya: “Karya harus bebas berekspresi dan anggaran harus cukup untuk pameran dahsyat bertaraf internasional.” Kalimat ini terdengar progresif, tapi ia memisahkan kebebasan seniman dari tanggung jawab institusi. Kebebasan tidak terjadi di ruang hampa. Ia terjadi di dalam institusi yang memilih narasi, memilih sponsor, memilih kurator, dan memilih cara bicara ke publik. Jika institusi sudah menjual narasi Graeberian ke publik sambil mengambil dana dari sumber yang menampar semangat Graeber, maka “kebebasan berekspresi” seniman hanya jadi tempelan. Seniman bebas, tapi institusinya munafik. Dan yang kena getahnya tetap seniman ketika publik bertanya: “Kamu ikut main dalam sandiwara ini juga?”
“Hidup seni Indonesia” tidak bisa dipisahkan dari kejujuran institusi yang menaunginya. Setuju pameran besar butuh dana besar. Tapi masalah ARTJOG 2026 bukan kurangnya dana. Masalahnya adalah ketidakkonsistenan antara narasi yang dijual dan sumber dana yang dipakai. Publik tidak anti pasar. Publik paham pameran besar butuh sponsor. Yang ditolak adalah praktik menjual jargon kritis sambil menutup mata pada asal-usul dana yang menampar jargon itu. Itu bukan soal jumlah anggaran, tapi integritas anggaran. Kalau berani bilang: “Pameran ini dibiayai X, karena Y”, itu jujur. Kalau bilangnya “Ini pameran Graeberian”, tapi duitnya dari oligarki politik, itu hipokrisi.
Bertaraf internasional juga bukan jaminan bermartabat. Banyak pameran bertaraf internasional yang mati pelan-pelan karena kehilangan kepercayaan. Ambil analogi Ferrari Luce: desainnya kelas dunia, kolaboratornya bintang, tapi pasar kabur karena ia memotong kabel emosi yang membuat orang rela bayar miliaran. ARTJOG punya modal simbolik yang jauh lebih mahal dari sponsor: kepercayaan publik dan kepercayaan seniman. Jika modal itu dibakar demi “pameran dahsyat”, maka tahun depan sponsor bisa datang lagi, tapi seniman dan publik sudah pindah ke tempat yang lebih waras dan tidak melecehkan akal sehat.
Saya paham keresahan yang sering diucapkan: dana seni tidak mudah, panggung harus jalan, keberlanjutan ARTJOG penting. Tapi justru karena saya peduli pada keberlanjutan itu, saya menolak logika “yang penting ada panggung, soal hipokrisi belakangan”. Tidak ada yang meminta ARTJOG jadi panggung perlawanan. Kritik saya bukan “ARTJOG harus anti-pemerintah”. Itu karikatur. Yang saya persoalkan adalah kontradiksi telanjang antara narasi yang dijual dan sumber daya yang dipakai. ARTJOG 2026 memakai rujukan Graeber untuk membangun kepercayaan publik, lalu menggandeng pihak yang identitas politiknya bertentangan langsung dengan semangat Graeber. Itu bukan soal mendukung atau menentang pemerintah. Itu soal jujur atau munafik.
Jika ARTJOG dari awal berkata: “Kami acara seni yang dibiayai X, kami tidak mengusung narasi Y”, publik bisa menilai dengan jernih. Yang bermasalah adalah ketika narasi A dipakai untuk menarik kepercayaan, tapi praktiknya Z. Wajar jika ada karya kritik sosial di ARTJOG. Itu bagus. Tapi kritik dalam karya tidak otomatis menghapus hipokrisi di tingkat institusi. Analoginya sederhana: restoran boleh memajang poster “makanan sehat”, koki boleh bebas bereksperimen. Tapi jika dapurnya memakai bahan kadaluarsa, restoran itu tetap menipu. Kebebasan koki tidak membatalkan masalah dapur.
“Keberlanjutan tanpa integritas” adalah kematian pelan-pelan. Saya juga ingin ARTJOG berlanjut. Tapi keberlanjutan tanpa integritas seperti Ferrari Luce: mobilnya jalan, desainnya kelas dunia, tapi pasar kabur karena ia memotong kabel emosi yang membuat orang rela membayar miliaran. ARTJOG punya modal paling mahal: kepercayaan publik dan kepercayaan seniman. Jika modal itu dibakar demi keberlanjutan jangka pendek, maka dua tiga tahun lagi sponsor bisa datang, tapi publik dan seniman sudah pindah ke ruang alternatif yang lebih waras. Saya tidak sedang menjadikan ARTJOG tempat perlawanan. Saya mengingatkan: jika ARTJOG mau berlanjut dalam jangka panjang, ia harus berani jujur. Jujur soal dana, jujur soal narasi, jujur soal batas. Karena seni yang berkelanjutan bukan seni yang munafik. Seni yang berkelanjutan adalah seni yang publiknya masih percaya.
Lalu apa jalan keluarnya? Membubarkan ARTJOG dan pindah ke pasar tumpah tentu bukan solusi. Hipokrisi yang dinormalisasi bukan takdir. Ada alternatif yang sudah tumbuh dan bisa jadi cermin koreksi: Pasar Seni Otonom.
Pasar Seni Otonom lahir dari kebutuhan membangun ruang ekonomi dan kebudayaan yang tidak bergantung pada negara, sponsor korporasi, lembaga politik, maupun mekanisme pasar yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Ia bukan sekadar tempat transaksi jual beli karya. Ia adalah upaya membangun kekuatan sosial yang menopang kehidupan pekerja seni, perajin, penulis, musisi, dan masyarakat luas. Dalam kondisi ketika kesenian dipaksa mengikuti logika kapital, banyak seniman terjebak pada pilihan sempit: tunduk pada sponsor, menyesuaikan karya dengan selera industri, atau hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Pasar Seni Otonom hadir sebagai jalan ketiga. Ia berangkat dari keyakinan bahwa kebudayaan harus ditopang oleh masyarakat yang menikmatinya, bukan oleh kekuatan ekonomi dan politik yang mengendalikan arah serta makna karya.
Kekuatan terbesar pasar kesenian bukan pada modal uang, melainkan pada kemampuan manusia bekerja sama, berbagi sumber daya, dan membangun jaringan dukungan yang saling menguatkan. Setiap individu atau kolektif yang terlibat tidak diposisikan sebagai kompetitor, melainkan bagian dari ekosistem yang berkepentingan menjaga keberlangsungan ruang budaya yang bebas dan mandiri. Pasar ini mempertemukan penjual dan pembeli, juga produsen dan komunitas pendukungnya. Setiap transaksi adalah dukungan langsung terhadap keberlangsungan kerja kreatif. Setiap karya yang dibeli bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan infrastruktur budaya dari bawah. Hubungan yang tercipta bukan sekadar hubungan pasar, melainkan hubungan solidaritas.
Sebagian sumber daya yang dihasilkan dapat dikumpulkan dalam dana bersama yang dikelola terbuka untuk mendukung produksi karya baru, membantu pelaku seni yang kesulitan, membiayai pendidikan publik, dan memperluas akses masyarakat terhadap kebudayaan. Keuntungan tidak berhenti pada individu, tetapi berputar untuk memperkuat komunitas. Di dalamnya dikembangkan praktik berbagi alat produksi, pengetahuan, jaringan distribusi, hingga sistem pertukaran barang dan jasa yang memungkinkan masyarakat tetap berpartisipasi meski memiliki keterbatasan ekonomi. Tujuannya bukan menghapus transaksi, melainkan mengurangi dominasi uang sebagai satu-satunya syarat terlibat dalam kehidupan budaya.
Secara strategis, Pasar Seni Otonom dapat menjadi pondasi jaringan ekonomi kebudayaan yang lebih luas. Ketika kolektif, komunitas, kelompok seni, ruang belajar, dapur komunitas, penerbit independen, musisi jalanan, hingga pekerja kreatif terhubung melalui hubungan setara dan saling menguntungkan, maka lahir kemampuan memenuhi kebutuhan bersama tanpa bergantung pada institusi yang sering menggunakan bantuan ekonomi sebagai alat kontrol. Tujuan akhirnya bukan hanya menciptakan acara ramai atau meningkatkan penjualan karya. Tujuan yang lebih mendasar adalah membangun kemandirian sosial dan kebudayaan. Kondisi di mana masyarakat mampu menciptakan, mendistribusikan, dan menikmati kebudayaan melalui kekuatan mereka sendiri. Kebudayaan yang bergantung pada kekuasaan mudah diarahkan sesuai kepentingan kekuasaan. Kebudayaan yang ditopang masyarakat memiliki peluang lebih besar tetap menjadi ruang ekspresi, kritik, pendidikan, dan pembebasan. Pasar Seni Otonom adalah upaya mengembalikan kebudayaan ke tangan masyarakat. Bukan komoditas yang diperdagangkan demi keuntungan semata, melainkan sumber daya bersama yang memperkuat hubungan sosial, memperluas solidaritas, dan membangun kekuatan kolektif yang bertahan jauh melampaui berlangsungnya sebuah acara.
Catatan untuk ARTJOG sederhana. Saya tidak meminta ARTJOG membubarkan diri. Saya menunjukkan bahwa hipokrisi yang dinormalisasi bukan takdir. Jika ARTJOG mau berlanjut, ia harus berani belajar dari logika Pasar Seni Otonom: terbuka soal sumber dana dan batas narasi yang sanggup dipertanggungjawabkan; perlakukan seniman sebagai mitra, bukan peraga dalam sandiwara citra; bangun mekanisme dana bersama dan transparansi agar publik tahu uangnya lari ke mana.
Selama ARTJOG memilih jalan pintas hipokrisi, ia akan terus kehilangan kepercayaan. Selama publik masih percaya pada model otonom, ia akan terus menemukan rumah. Pilihan ada di tangan manajemen: bertahan dengan normalisasi munafik, atau berani koreksi sebelum publik pindah ke ruang yang lebih jujur. Seni yang kita butuhkan bukan seni megah tapi kosong. Seni yang kita butuhkan adalah seni yang berani jujur, bahkan ketika kejujuran itu tidak seindah spanduk pembuka pameran.
Gresik, 25 Juni 2026
Arik S Wartono adalah pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik
















