GRESIK ULAS SEJARAH: Bupati Gus Yani bersama Tiga Dedengkot DKG: Kris Adji AW, Nur Fakih dan Ali Topan. (Telisik Hati)

BUMINUSANTARANEWS.COM – Halo #WargaGresik. Untuk menyambut Ramadan akan ada Konten Spesial yaitu GUS (Gresik Ulas Sejarah) yang membahas semua Sejarah dari Kabupaten Gresik dan akan tayang setiap hari menemani sebelum waktu Berbuka kalian.

Untuk mengawali GUS hari ini 3 April 2022 yang bertema “Sunan Giri Peletak Landasan Masa Depan” Live Pukul 16.45 WIB di Instagram Gus Yani] dan Youtube Suara Gresik. Sedangkan untuk hari kedua Ramadan, Senin (4/4/2022) mengusung tema “Ngalap Berkah di Bukit Surowiti”.

Jadi jangan lewatkan Live Spesial Ramadan GUS (Gresik Ulas Sejarah) Hanya di Gus Yani] dan @suaragresik

#gusyani #GUS #GresikUlasSejarah

Demikian pemberitahuan sekaligus ajakan yang ada di beranda akun resmi medsos Facebook yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Gresik.

Sementara Bupati Gresik H Fandi Akhmad Yani yang akrab disapa Gus Yani saat dikonfirmasi buminusantaranews.com via WhatsApp (WA) membenarkan jika dirinya membuat konten sejarah selama bulan Ramadan, yang disiarkan langsung lewat Instagramnya. Bahkan Bupati Milenial ini secara terbuka siap menerima usulan tema yang menarik dan tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat Gresik.

Menanggapi Konten Spesial GUS (Gresik Ulas Sejarah) yang disiarkan langsung di instagram milik Gus Yani ini, Dedengkot DKG (Dewan Kebudayaan Gresik) Kris Adji AW mengaku salut dan bersyukur Gus Yani sang Bupati Gresik mau belajar sejarah dan berani mencoba merespon buku-buku sejarah lokal.

“Seorang pemimpin yang mau belajar sejarah, akan menemukan peluang dalam upaya mengambil kebijakan yang berakar dari nilai-nilai kearifan lokal dan belajar dari peristiwa masa lalu. Sehingga kekeliruan tak terjadi ketika harus mengambil keputusan terkait kebutuhan rakyatnya,” terang Kris Adji.

Lebih lanjut, Kris Adji AW yang juga Ketua Yayasan Mataseger (Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik) mengungkapkan, pembahasan ilmu sejarah menyangkut peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau. Melalui peristiwa-peristiwa itulah, ilmu sejarah mendapat gambaran tentang kehidupan manusia pada masa lampau.

Dalam kaitannya antara masa lalu, masa kini dan masa depan dalam sejarah adalah sebagai penghubung antara peristiwa-peristiwa yang terjadi. Peristiwa sejarah di masa lalu mempengaruhi masa kini dan peristiwa saat ini mempengaruhi masa depan.

“Berkenannya Gus Yani sang Bupati Gresik bikin konten sejarah adalah catatan peristiwa yang bersejarah. Namun, terkait teknik dalam penyajian yang belum maksimal, audio yang masih kurang bagus, adalah hal wajar tapi harus punya semangat untuk lebih baik dan berkelanjutan. Ini adalah tanggung jawab teknisi konten tersebut yang harus punya semangat untuk memperbaiki. Selamat ber-jasmerah,” tandas Seniman, Budayawan, dan Sejarahwan senior kota pudak ini.

Tak kalah menukik, dedengkot DKG lainnya, Nur Fakih menyoroti terkait referensi buku ‘Grissee Tempoe Doeloe’ yang dijadikan sumber untuk konten sejarah tersebut. Menurutnya, buku karya Pak Dukut itu debatebel. Isi bukunya banyak ceritanya dari pada yang sesungguhnya. Pangapunten…

“Mungkin lebih menarik jika Bupati Gus Yani lewat konten sejarahnya bercerita tentang kisah-kisah lama. Tentu jangan dituntut kebenarannya. Bisa saja dari cerita itu lahir inspirasi untuk ditindaklanjuti dengan melakukan pendalaman sekaligus sebagai informasi yang mengedukasi kaum milineal tentang kisah-kisah Gresik masa lalu,” ungkap Nur Fakih yang juga dedengkot wartawan senior kota Santri Gresik ini.

Sementara itu, dedengkot DKG yang dikenal multitalenta, yakni Ali Topan tanpa tedeng aling-aling mengatakan, konten sejarah yang dibikin Bupati Gus Yani dengan tema ‘Sunan Giri Peletak Landasan Masa Depan’ memang menarik untuk diikuti. Perjalanan Sunan Giri akan terasa terbaca dalam Babad Giri Kedaton.

Kalau Gresik Tempoe dulu eranya kolonial. Jejak sejarah yang hilang dalam peradaban Giri itu pasca Pangeran Singosari ke Mbah Poesponegoro. Perang Mataram dengan Giri tertuang dalam Babad Trunojoyo. Peradaban Giri terputus setelah gelar Sunan menjadi Panembahan. Ini tertuang dalam Babad Gresik.

“Jadi konten yang diharapkan bisa menajam pada tema ‘Sunan Giri Peletak Landasan Masa Depan’. Sejarah di sini ke depannya juga bisa dikupas per masa pemerintahan. Di
Gresik ada 3 masa pemerintahan yang memiliki pengaruh, yakni Masa Giri Kedaton, Masa Poesponegoro, dan Masa Kanjeng Sepuh. Termasuk juga Masa Kolonial,” beber Ali Topan yang tidak hanya piawai dalam bidang sastra, seni musik, fotografi, namun juga peneliti sejarah dan budaya. (Didik Hendri Telisik Hati)
















