Filsafat Manajemen Pendidikan Islam Dikumpukan untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Muhammad Thohir, M.Pd.I
Nama : Nuril Fil Doussia
Nim : 06040322093
Kelas : MPI C
Judul : Perjuangan Menggapai Perguruan Tinggi
Perjuangan Menggapai Perguruan Tinggi
Halo , di sini saya akan membagikan sedikit cerita mengenai perjuangan meraih perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Sebelum itu mungkin saya awali terlebih dahulu dengan perkenalan dan biografi singkat diri saya.
Perkenalkan nama saya Nuril Fil Doussia biasa dipanggil Firda, mahasiswa semester 2 Prodi Manajemen Pendidikan Islam kelas C Di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Saat ini saya berdomisili di Jl.Tambak Wedi Baru 17b/86, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan pendidikan saya sampai bisa melanjutkan kuliah di kampus UINSA tercinta ini, harapan saya cerita ini bisa semakin memotivasi saya khususnya untuk menjadi lebih baik dan juga untuk sipembaca yang lainnya.
Ilmu merupakan kata yang tidak asing di telinga para pelajar. Ilmu sendiri berasal dari bahasa arab al-‘ilmu yang berarti adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia. Ilmu mempunyai banyak cabang, seperti ilmu alam, ilmu sosial, ilmu terapan, ilmu agama, dan lain sebagainya. Salah satu cara memperoleh ilmu yaitu dengan belajar. Nabi saw, bersabda :
اطلبوا العلم ولو بالصين
Artinya : “Tuntutlah ilmu, walau ke negeri China” (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 1612)
اطلب العلم من المهد إلى اللحد
Artinya : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”
Dari dua hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa belajar tidak mengenal batasan tempat dan umur. Sejauh apapun tempat dan umur, kita tetap diwajibkan untuk belajar.
Orang yang berilmu pasti mengetahui lebih banyak hal dan wawasan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa belajar sampai kapanpun akan memberikan banyak manfaat bagi setiap orang, seperti melatih kemampuan berpikir, meningkatkan kemandirian, melatih kedisiplinan, meningkatkan penghasilan, dan masih banyak lagi.
Kisah ini bermula ketika saya baru memasuki sekolah menengah atas, layaknya siswa pada umumnya saat kegiatan belajar mengajar dimulai. Saya merupakan siswa jurusan IPA, alasan memilih jurusan ini karena saya bercita-cita ingin menjadi seorang guru dan kata kakak saya “apabila seseorang memilih jurusan ipa diwaktu masa SMA nya maka dia lebih mudah untuk masuk dijurusan waktu kuliahnya”. Nah, kebetulan saya lulusan dari Pondok Pesantren Al Fatich, Tambak Oso Wilangon, Kecamatan Benowo, yang mana hanya ada 2 jurusan saja yaitu IPA dan IPS.
Setalah lulus SMA saya langsung mendaftar SNMPTN. Pada bulan desember muncul lah pengumuman Pendaftaran perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN ( Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ). Dari jurusan IPA, sekitar 10 siswa yang mendaftar perguruan tinggi melalui jalur nilai rapor atau disebut juga SNMPTN. Pada bulan Maret, yang mana bulan pengumuman Jalur SNMPTN telah dinanti oleh 10 siswa telah tiba. Namun Sayangnya nama saya tidak lolos dalam pengumuman tersebut karena nilai raport saya yang kalah saing dari siswa luar yang lainnya. Memang sedikit sedih saat mengetahui hal tersebut, tetapi saya menganggap itu hanya angin lewat saja.
Akhirnya, Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dipondok pesantren terlebih dahulu. Kebetulan pendidikan dipesantren kurang satu tahun lagi. Waktu terus berjalan hingga akhirnya saya lulus dari pondok pesantren. Suka dan duka, pahit manis sudah saya rasakan selama mondok 7 tahun. Saya sangat bangga hidup di pesantren karena di pesantren saya tahu ilmu agama dan diajarkan untuk hidup sederhana. Selain itu saya bisa merasakan nikmatnya kebersamaan yang tidak bisa saya dapatkan ketika hidup di luar.
Di pesantren saya dididik untuk menjadi insan yang islami dan dipesantren diajarkan bahwasannya ilmu dunia dan akhirat harus seimbang agar tak salah melangkah.
Setalah lulus dari pesantren saya memutuskan untuk diam di rumah(keluar dari pondok pesantren). Saya mulai mempersiapkan diri untuk SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), Saya belajar dan latihan soal setiap hari. Saya berpikir jika belajar dari bimbel dan belajar mandiri akan lebih berpeluang lolos SBMPTN karena persiapan yang lebih matang. Tetapi tuhan berkehendak lain, saat pengumuman SBMPTN saya masih ditolak juga, dan tertulis “Jangan Putus Asa dan Tetap Semangat!”
Saya masih tidak menyerah, saya tetap kukuh untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Singkat Cerita, Akhirnya saya mendaftar UMPTKIN, dan pengumuman pada bulan juni. Namun hasilnya masih nihil, Yakni Tidak Lolos dalam seleksi ini. Masih ada satu jalur lagi untuk bisa masuk perguruan tinggi , yaitu jalur mandiri. Saya berpikir ini merupakan jalan terakhir agar bisa masuk perguruan tinggi. saya hanya berdo’a dan meminta jalan terbaik kepada allah swt, Karena saya tau bahwa jalur mandiri ini memang biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak dibandingkan jalur SNMPTN, jalur SBMPTN dan jalur UMPTKIN.
Setelah saya bertanya kepada Orang tua, apakah ayah sanggup membiayai kuliah saya. Sedangkan pekerjaan ayah hanya seorang kuli, dan masih membiayai adek bungsu yang masih duduk dikelas 3 MI dipondok pesantren. Ayah berkata “saya tidak sanggup jika itu 3jt keatas persemester”. selain itu orang tua juga berfikir negatif, takut tidak lolos lagi karena sudah 3 kali mendaftar di perguruan tinggi, Mendengar perkataan ayah tadi hati ini sangat sedih. Setiap Malam hari saya tidak pernah lupa untuk selalu bangun melaksanakan sholat sunnah malam. Saya menangis dan berdoa kepada allah, saya yakin allah mendengar do’a-do’a saya. Atas ridho allah akhirnya, keesokan hari nya ibu berkata “lanjutkan cita-cita mu nak, daftar lah jalur mandiri diperguruan tinggi, rezeki anak pasti ada, lagi-lagi anak yang sedang mencari ilmu”.
Akhirnya saya mendaftar jalur mandiri perguruan tinggi di universitas islam negeri sunan ampel surabaya dengan pilihan 3 prodi. Pilihan pertama saya memilih manajemen pendidikan islam, kedua pendidikan agama islam, ketiga pendidikan guru madrasah ibtidaiyah.
Beberapa minggu setelah pendaftaran, universitas telah menerbitkan pengumuman hasil mandiri, dan alhamdulillah saya diterima di prodi pilihan pertama sesuai keinginan saya. Alhamdulillah orang tua saya bangga dan bersyukur.
Terkadang, untuk membuat sebuah hasil yang memuaskan, dibutuhkan usaha yang ekstra dengan perjalanan yang tidak begitu mudah. Jangan pernah putus asa dalam berjuang. Sebab keberhasilan tak akan berhianat terhadap perjuangan yang tak kenal lelah.
Kegagalan dari sebuah usaha jangan diartikan kiamat. Sebab, setiap usaha pasti berproses, dan di dalam proses itu kadang lancar dan kadang kala penuh rintangan. Namun jika usaha terus dilakukan tanpa dibayangi oleh kegagalan yang terjadi, maka suatu saat akan berhasil.
Itulah cerita pengalaman saya dalam meraih perguruan tinggi. Jadi buat teman-teman jika ditolak perguruan tinggi, jangan menyerah dan tetap semangat. Salah satu kata-kata yang memotivasi saya untuk semangat adalah “Gagal coba lagi, Jatuh bangkit lagi” dan “Berusaha, Berdo’a, Berikhtiyar” bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Semoga kisah ini bisa menjadi pembelajaran dan motivasi untuk teman-teman semua, terima kasih. (*)
*Penulis adalah mahasiswa semester 2 Prodi Manajemen Pendidikan Islam kelas C di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
















