Penulis📰 Anang Prasetyo
Ibu Kartini dan Pak Kartono
Adalah kakak beradik yang sama sama mulia.
sosok bersaudara pejuang pendidikan, intelektual muda yg berilmu dan mumpuni di bidangnya !
Kisah RA Kartini kita sudah fahami dari sejarah yang kita baca dari berbagai sumber.
Sebagaimana sosok Kartono seorang intelektual dan pemikir kebudayaan. Yang harusnya berangkat ke Belanda untuk menuntut ilmu, namun karena suatu keadaan akhirnya yag berangkat adalah Kyai Agus Salim.
Selamat Hari Kartini.
Darinyalah kita belajar tentang mata air sumber pendidikan. Darinyalah kita menemukan cahaya pendidikan sesungguhnya.
Bahkan , dari beliaulah hingga seorang Ulama Kyai Sholeh Darat terinspirasi oleh kata – kata RA Kartini yg mengatakan jika Al Quran sebagai bacaan tidak dimengerti artinya oleh si pembacanya. Bagaimana mungkin ia bisa difahami maknanya?.
Akhirnya lahirlah Al-Qur’an terjemahan berbahasa Jawa.
Kelak muncul kitab Al Ibris oleh Kyai Bisri Mustofa Leteh Rembang. Ulama yang dari Rembang sama dengan Ibu Kartini dilahirkan dan dibesarkan.
Sehingga buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya RA Kartini besar kemungkinan adalah terjemahan dari Bahasa Al-Qur’an Minadzulumaati ilan Nuur. Dari Kegelapan menuju kepada Cahaya.
Bahkan…dalam konteks adab berbusana, jika saja beliau diberi usia panjang dan lebih mendalam lagi memahami Al-Qur’an, maka adalah suatu kepastian, Insya Alloh, beliau berjilbab. Pakaian agung nan anggun seorang muslimah.
Sebab peradaban Jawa kuno yang tak berbusana atas, lalu berkat dakwah Walisongo yang merasuk ke jiwa, akhirnya wanita Jawa mulai berkemben. Pakaian dengan menutup dadanya.
Kemudian secara bertahap mulai mengenal Abaya atau Kebaya.
Hingga, jika boleh menandai sebuah peradaban, puncaknya adalah tahun 1990an tatkala Budayawan Dunia Simbah Syeikh Muhammad Emha Ainun Nadjib mempresentasikan Repertoar Lautan Jilbab di Surabaya, berjuta – juta orang di Indonesia akhirnya mengenakan jilbab. Sampai hari ini. Setelah sebelumnya menteri pendidikan melarang memakai jilba di sekolah. Maka ratusan ribuan dan jutaan orang melakukan demonstrasi menuntut pemberlakuan bolehnya berjilbab di sekolah.
Maka sekali lagi, melihat catatan evolutif berbusana di Jawa dan Indonesia, insyaaAlloh beliau pasti sudah berjilbab layaknya Ibu Yahya Al Yunusiyah yg mampu menginspirasi Lembaga Pendidikan Dunia Al Azhaar, hingga mendirikan kampus untuk perempuan, atau bu Nyai Ahmad Dahlan dengam gerakan Aisyiyahnya, juga bu Nyai Hasyim Asyari dengan Fatayatnya atau Cut Nyak Dhien sang pemimpin perang Aceh , Nyi Ageng Serang yang membantu panglima Perang Diponegoro, dan para pahlawan perempuan lainnya.
Walhasil.
Jika ada nasehat bijak lama
*Sholatlah sebelum kamu disholati*
Maka nasehat bagi para wanita *Jibabanlah sebelum kau dijilbabi.* adalah nasehat bijak juga kiranya. Bahwa itulah pakaian ketaqwaan seorang musimah pada Tuhannya.
Sebab, pakaian keagungan dan keanggunan seorang wanita di saat menghadap kepada Nya , sebelum dikuburkan adalah Jilbab.
Itulah pakaian sebaik – baik pakaian. Itulah pakaian terbaik dunia akhirat.
Ibu kita semua , Raden Ajeng Kartini menjadi bukti kesejarahan dan peradaban luhur budaya Jawa dan Indonesia serta dunia. Jawa Islam dan Islam Jawa memadu secara harmonis. Baik aqidah syariat serta akhlaq.
Berkat syariat Islam yg ajarannya benar, baik , indah dan mulia, yang beliau gali dan fahami dari Al Quran, melalui terjemahan gurunya Kyai Sholeh Darat, hidupnya tercerahkan dan mampu mencerahkan para wanita, perempuan dan ibu – ibu se Indonesia sesudahnya.
Walhamdulillah.
Dari beliau RA Kartini kita akhirnya mengenali siapa Guru beliau pula.
Maka jika di pesnatren atau di sekolah kita memiliki Guru.
Sudah tentu, idealnya dalam kehidupan ini milikilah Guru pula. Sebab, sekolah atau pesantren sebagai laboratorium kecil kehidupan, sesungguhnya laboratorium terbesarnya adalah kehidupan itu sendiri.
Jika Ramadhan adalah sekolah selama sebulan penuh, maka sebelas bulan berikutnya, sejatinya adalah Ramadhan yang sesungguhnya. Sebab di sebelas bulan itu adalah aplikasi nilai – nilai luhur yang ditanamkan di bulan ramadhan kemarin.
Adalah anugerah terindah dan syukur tak terkira, jika dalam kehidupan yang fana ini, pada tahapan selanjutnya, bisa bertemu dan dipertemukan Alloh dg Guru yang Murobbi.
Sebagaimana kalam Guru kami, KH Muh Ihya’ Ulumiddin, *” Guru oleh akeh ning Murobbi kuwi siji”* .
Artinya bahwa guru boleh banyak namun Murobbi atau Guru Utama ( maha guru atau mursyid dan istilah lainnya) itu hanya satu. Sebab melalui sosok Guru Murobbi inilah yang kita akan dipertemukan dengan Maha Guru kita semua, Kanjeng Nabi Agung Muhammad sholallohu alaihi wasalim.
Saya yakin bahwa guru dari RA Kartini banyak. Abendanon, teman pena-nya itu tentu hanya salah satunya. Kartono tentu guru dan saudara serta teman berdiskusinya. Namun, sangat boleh jadi murobbinya adalah Kyai Sholeh Darat itu. Wallohualam.
Selamat Hari Kartini. Dari beliau kita belajar banyak hal. Baik pendidikan dan inteletulnnya serta kegigihannya dalam perjuangan serta spiritualitasnya yang mengagumkan.
Selamat dan mulialah beliau di barzakh Nya.
Khususon ila arwaahi bu Kartini , pak Kartono dan Kyai Sholeh Darat .
Lahumul
Al Faatihah
Anang Prasetyo
(Pengasuh Pesma Al Waarits, Pembina Komunitas Padhang Njingglang,
Guru Seni Budaya SMKN 1 Boyolangu Tulungagung)
Cangar Batu yg seakan membeku.
Ahad Pon pagi bada subuh.
12 Syawal 1445 H
21 April 2024 M
















