SIDOARJO, BN News – Menteri Agama Nasaruddin Umar melakukan safari pesantren di tiga kabupaten di Jawa Timur, yakni Pasuruan, Gresik, dan Lamongan, Sabtu (10/10/2026). Didampingi Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) RI Basnang Said, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar, dan Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Imam Turmidi, Menag menyapa santri sekaligus melihat perkembangan pendidikan dan ekosistem pesantren.
Sebelum safari pesantren dimulai, Menag menghadiri Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-23 Universitas Yudharta Pasuruan untuk menyampaikan orasi ilmiah. Dalam orasinya, ia mengajak 646 wisudawan memadukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama guna membangun peradaban yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
“Boleh mencari ilmu pengetahuan, boleh melakukan eksperimen, boleh melakukan penelitian setinggi-tingginya, apakah itu AI sekarang ini, artificial intelligence, tetapi jangan lupa Bismillahirrahmanirrahim,” pesannya.
Ia menilai perguruan tinggi yang mengintegrasikan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan akan semakin dibutuhkan pada masa depan.
Dari Universitas Yudharta Pasuruan, rombongan melanjutkan kunjungan ke Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini, Pasuruan. Di pesantren yang berdiri sejak 1940 tersebut, Pengasuh Al Yasini Nanik Asnawati menyampaikan bahwa lembaganya kini mengasuh 4.561 santri dengan pengembangan yang berfokus pada kemandirian ekonomi, kepedulian lingkungan, dan digitalisasi layanan.
Melalui Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al Yasini, pesantren mengelola 19 unit ritel, produk air minum dalam kemasan milik sendiri, serta Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) dengan 10 kantor layanan.
“Produk air minum dalam kemasan Al Yasini yang ada di hadapan Bapak, itu adalah milik kami sendiri” papar Nanik.
Hasil usaha tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan santri melalui beasiswa, bantuan seragam, fasilitas belajar, serta penyaluran sedikitnya 1.000 paket sembako setiap Ramadan. Pesantren juga memberikan bantuan hewan kurban dan mendukung pembangunan serta renovasi fasilitas masyarakat.
Dalam bidang lingkungan, Al Yasini mengembangkan konsep eco-pesantren berbasis eco-theology. Praktiknya meliputi pengelolaan sampah, pembuatan kompos, penghematan air dan listrik, pemanfaatan lampu tenaga surya, pengolahan air limbah, hingga penggunaan biogas yang telah dikembangkan selama delapan tahun. Program penghijauan yang dimulai 15 tahun lalu melalui penanaman 75 pohon mangga dan kelengkeng kini telah menghasilkan buah yang dapat dipanen santri.
Pesantren juga memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi Al Yasini-U untuk memudahkan wali santri memantau kesehatan, kedisiplinan, prestasi, kehadiran, dan perizinan anak. Sementara itu, aplikasi Saku mendukung transaksi nontunai sekaligus membantu orang tua mengatur pengeluaran santri.
Pada kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan dan peluncuran Gerakan Eco-Pesantren sebagai komitmen bersama mewujudkan lingkungan pesantren yang mandiri, berwawasan lingkungan, dan berbudaya hijau.
Safari berlanjut ke Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik. Di hadapan para santri, Menag mengingatkan pentingnya memadukan pengembangan intelektual (ilmu hushuli) dengan pendalaman spiritual (ilmu hudhuri). Menurutnya, keberhasilan menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berpikir, tetapi juga oleh kebersihan batin melalui proses penyucian jiwa (tazkiyah).
“Al-Qur’an menegaskan wa yuzakkihim wa yu’allimuhum—tazkiyah dulu, pembersihan batin dulu, baru kemudian taklim. Kalau dada kita seluas samudra karena batin yang bersih, maka seluas lautan pula ilmu yang bisa ditampung. Di pesantren, kalian bukan hanya dilatih mengerahkan nalar laboratorium, tetapi mengasah kekuatan rohani untuk meraih makrifat dan hikmah,” jelasnya.
Senada dengan yang disampaikan Menag, Putra pengasuh sekaligus Rektor Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik, Muhammad Majduddin, menjelaskan bahwa pesantren ini mengintegrasikan kajian kitab kuning klasik (turots), penguasaan bahasa internasional, dan pembinaan spiritual.
“Pondok ini mencampurkan pembinaan nalar melalui kajian mendalam Alfiyah, Ushul Fiqh, Nahwu, dan Sharaf, dengan kedisiplinan bahasa, serta amaliah spiritual dan riyadhah batin. Ini adalah ikhtiar kami bersama pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara lahir dan batin,” papar Majduddin.
Tujuan terakhir safari adalah Pondok Pesantren Darul Fiqhi, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Selain bersilaturahmi, Menag menghadiri Majelis Zikir, Maulid Rasulullah saw., dan Haul.
Dengan dilakukannya safari pesantren ini, Menag menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk membina sekitar 42 ribu pondok pesantren di Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pesantren. Keberadaan direktorat khusus ini diharapkan memperkuat pelayanan, pembinaan, tata kelola, dan sistem pendataan pesantren secara lebih terarah.
“Kita sekarang memiliki sistem yang secara khusus memantau sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Kehadiran Ditjen ini adalah wujud pengabdian tulus agar negara hadir membersamai perjuangan pesantren,” tegas Menag.
Ia berharap Ditjen Pesantren mampu semakin mengangkat martabat pesantren dan mendorong kemajuan pendidikan Islam di Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar menyatakan kesiapan jajarannya untuk terus mengawal dan mendukung pengembangan pesantren di Jawa Timur. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembinaan, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan tata kelola kelembagaan, serta dorongan terhadap kemandirian pesantren.
Ia berharap, sinergi antara Kementerian Agama dan pengelola pesantren dapat semakin memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjawab tantangan perkembangan zaman. (*)
















