Penulis📰✍️ Didik Hendri Telisik Hati
BN News – Dalam upaya meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0, MAN 2 Gresik menyelenggarakan Workshop Pembelajaran Berbasis Teknologi Artificial Intelligence (AI). Kegiatan ini berlangsung di Hotel Arayanna, Trawas, Mojokerto, pada Kamis (30/1/2025), dengan diikuti oleh seluruh guru dan tenaga pendidik MAN 2 Gresik.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kabid Pendma Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, H. Sugiyo bersama dengan Kepala Kemenag Gresik, H. Pardi, Kepala MAN 2 Gresik, H. Samari, serta seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan MAN 2 Gresik sebanyak 87 peserta.
Kepala MAN 2 Gresik, H. Samari, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop ini. Beliau juga menyambut hangat kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, Dr. H. Pardi, M.Pd.I, yang turut membuka acara. Dalam kesempatan tersebut, H. Samari mengungkapkan bahwa MAN 2 Gresik saat ini memiliki 1.163 siswa dengan 92 tenaga pendidik. Ia juga menyoroti berbagai capaian prestasi madrasah yang membanggakan, di antaranya 2.216 prestasi yang diraih sepanjang tahun 2024.
Salah satu pencapaian terbaru adalah keberhasilan Lillah Maghfirotul Karimah, siswa kelas XII-1, yang terpilih mengikuti Pertukaran Pelajar YOUTH LEADERS EXCHANGE AND CONFERENCE Chapter Malaysia-Singapura pada 21–25 Januari 2025.
Sementara itu, Kepala Kemenag Gresik, H. Pardi, dalam sambutannya, menekankan pentingnya memahami AI sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran guru.
“Ketika kita mendengar AI, jangan berpikir bahwa teknologi ini akan menggantikan manusia. Sebaliknya, kita harus mampu memanfaatkannya untuk mendukung proses pembelajaran. AI mengajarkan kita untuk selalu ingat dan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal,” ujarnya.
Beliau juga menegaskan bahwa dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran dikuatkan dengan konsep Deep Learning, yang mencakup:
1. Meaningful Learning – Pembelajaran berbasis manfaat agar siswa memahami alasan di balik materi yang diajarkan.
2. Mindful Learning – Pembelajaran berbasis wawasan yang mendorong siswa untuk aktif berdiskusi dan bereksperimen.
3. Joyful Learning – Pembelajaran yang menyenangkan agar siswa lebih antusias dalam menyerap ilmu.
Selain itu, beliau mengajak para guru untuk bertransformasi dengan menjadi:
Gesit – Bertindak sebagai pembimbing yang cermat, waspada, dan penuh perhitungan.
Edukator – Siap menularkan ilmu kepada peserta didik dengan baik.
Support System – Mendukung siswa dalam berbagai aspek, baik akademik maupun non-akademik.
Intensif – Melakukan pendekatan yang efektif dan efisien dalam pembelajaran.
Trainer – Berperan sebagai pelatih yang membimbing siswa secara profesional.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Pendma) Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, H. Sugiyo, dalam pemberian materinya menekankan pentingnya penerapan Quality Management System (QMS) di madrasah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Menurutnya, madrasah tidak boleh hanya berfokus pada formalitas administratif, tetapi harus berorientasi pada mutu pendidikan yang sesungguhnya.
“Madrasah harus memiliki sistem manajemen mutu yang jelas. Tidak cukup hanya memenuhi syarat administratif, tetapi juga harus memastikan bahwa layanan pendidikan yang diberikan benar-benar berkualitas,” ujar Sugiyo.
Beliau menjelaskan bahwa terdapat tujuh prinsip utama dalam QMS yang harus diterapkan di madrasah, yaitu:
1. Customer Focus – Madrasah harus berorientasi pada peserta didik sebagai pelanggan utama. Guru dan tenaga kependidikan harus memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan siswa, baik dalam aspek akademik maupun karakter.
2. Leadership – Kepemimpinan yang efektif harus mampu merumuskan tujuan pendidikan yang jelas. Kepemimpinan yang baik bersifat kolektif, melibatkan semua pihak dalam pengambilan keputusan.
3. Engagement of People – Semua unsur dalam madrasah, termasuk tenaga pendidik, tenaga kependidikan, siswa, hingga orang tua, harus dilibatkan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.
4. Improvement – Madrasah harus terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
5. Process Approach – Pendekatan berbasis proses harus diterapkan agar setiap tahapan dalam penyelenggaraan pendidikan berjalan dengan sistematis dan efektif.
6. Evidence-Based Decision Making – Setiap kebijakan dan keputusan di madrasah harus didasarkan pada data dan bukti yang akurat agar solusi yang diambil tepat sasaran.
7. Relationship Management – Madrasah harus menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk pemasok dan mitra eksternal, untuk memastikan keberlanjutan dan kesuksesan dalam jangka panjang.
Selain membahas pentingnya QMS, Sugiyo juga menyoroti tantangan yang muncul dengan berkembangnya Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. AI merupakan teknologi berbasis perangkat lunak yang dapat mengolah dan menganalisis data untuk menghasilkan keputusan atau rekomendasi.
“AI memang dapat membantu dalam banyak aspek, tetapi madrasah harus bijak dalam menggunakannya. Jangan sampai AI menggantikan peran guru secara penuh. Sebaliknya, AI harus dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan manajemen pendidikan,” jelasnya.
Sugiyo menambahkan bahwa meskipun AI mampu mengolah data dan memberikan rekomendasi berbasis algoritma, nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan tetap harus dijaga. Guru tetap memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai moral siswa, yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Dengan penerapan Quality Management System yang baik serta pemanfaatan AI yang bijak, madrasah diharapkan mampu mencetak generasi yang unggul, berdaya saing, dan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.
Workshop ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi para guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis teknologi. Dengan demikian, mereka dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif serta bermakna bagi peserta didik. (Didik Hendri Telisik Hati)
















