Gresik, BN News – Di tengah semangat membentuk generasi muda yang cinta agama dan berakhlak mulia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik menggelar Workshop Pembelajaran Mendalam PAI dan Kurikulum Cinta untuk 140 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD se-Kabupaten Gresik. Kegiatan ini berlangsung dari 14 hingga 21 Agustus 2025, tersebar di tiga zona: SDNU Sidayu (14 Agustus), Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik (19 Agustus), dan SD Boteng Menganti (21 Agustus).
Kegiatan ini dibuka oleh Pengawas PAIS Kasi PAIS Kemenag Gresik, Akhmad Yahya, dan dihadiri Kabid PAIS Kanwil Kemenag Jawa Timur, Moh. Amak Burhanuddin dan Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Gresik Dr. S. Hariyanto, S.Pd, MM.
Dalam sambutannya, Amak Burhanuddin menekankan pentingnya lima budaya kerja Kementerian Agama: integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan. Ia juga mengenalkan program Asta Protas (8 Program Terobosan) yang mengedepankan transformasi digital, peningkatan layanan keagamaan, dan penguatan karakter.
“Guru PAI adalah garda terdepan membentuk akhlak siswa. Mari wujudkan budaya kerja yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam setiap tindakan,” ujarnya, Selasa (19/8/2025).
Workshop ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru PAI melalui pendekatan pembelajaran mendalam dan Kurikulum Cinta, yang mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan keimanan dalam pengajaran. Data dari Kemenag Gresik menunjukkan, mayoritas guru PAI SD kesejahteraannya masih perlu mendapat perhatian. Selain itu, sarana ibadah seperti musala sekolah dan bantuan untuk siswa kurang mampu masih terbatas.
Untuk menjawab tantangan ini, Kemenag RI memperkenalkan program satuwakaf.id/pai, sebuah inisiatif Dana Abadi Pendidikan Agama Islam berbasis wakaf. Dana ini dikelola secara syariah, dengan hasilnya digunakan untuk merenovasi sarana ibadah di sekolah dan memberikan beasiswa bagi siswa muslim kurang mampu. “Potensi wakaf sangat besar, mengingat jumlah siswa muslim di sekolah-sekolah Gresik. Ini adalah investasi akhirat untuk masa depan pendidikan agama,” jelas Akhmad Yahya.
Menurut data Kanwil Kemenag Jawa Timur (2024), lebih dari 60% sekolah dasar di Gresik masih membutuhkan peningkatan sarana ibadah, seperti musala yang representatif. Program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan, menggerakkan partisipasi masyarakat untuk berwakaf demi pendidikan agama yang lebih baik.
Para guru PAI yang hadir antusias mengikuti workshop. Salah satu guru PAI berbagi cerita, “Kami belajar cara mengajar yang lebih interaktif dan menyentuh hati anak-anak. Kurikulum Cinta ini mengajarkan kami untuk menanamkan kasih sayang dalam setiap pelajaran.” Kegiatan ini juga diisi dengan pelatihan metode active learning untuk membuat pembelajaran PAI lebih menarik dan relevan bagi siswa. (Kemenag Gresik/Telisik Hati)
















