GRESIK, BN News – Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Nila Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP mengajak para pelaku fesyen lokal untuk membendung “thrifting” atau baju bekas impor yang kian membanjiri pasaran.
“Karena di Kabupaten Gresik sendiri mempunyai Kriya yang tidak kalah dengan kriya-kriya luar negeri. Seperti Tenun Wedani, Batik Naga Giri, dan kriya-kriya yang lain. Bahkan Pemerintah Kabupaten Gresik mewajibkan para ASN untuk memakai Batik di setiap hari Kamis,” katanya, Minggu (30/11/2025).
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Workshop Branding sub sektor Fesyen di GNI, Gresik. Ia menjelaskan salah satunya yang perlu diketahui pelaku fesyen adalah “stylish”, yakni kemampuan menciptakan gaya personal yang menarik, harmonis, dan unik dengan memadukan pakaian, aksesori, dan elemen lainnya secara kreatif.
Workshop Branding subsektor Fesyen bertujuan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal dalam membangun merek produk mereka. Kegiatan ini fokus pada strategi pemasaran, penguatan identitas budaya, dan pemanfaatan digitalisasi untuk meningkatkan daya saing produk di pasar nasional maupun global.
“Tujuannya adalah agar produk fesyen lokal memiliki nilai tambah dan cerita unik yang membedakannya dari pesaing, termasuk produk impor,” tandas Mbak Nila sapaan akrabnya.
Mbak Nila yang juga adik kandung Bupati Gresik Gus Yani ini ingin para pelaku fesyen dan desainer, khususnya di Kabupaten Gresik agar aktif berkegiatan, dengan menghidupkan karya-karya desainer lokal dan para pelaku ekonomi kreatif Kabupaten Gresik.
“Kreativitas para desainer harus digaungkan lebih kencang, sehingga rasa memiliki dari masyarakat di Gresik terhadap karya kreatif desain fesyen, khususnya bisa terstimulasi,” katanya.
“Karena barang-barang ‘thrifting’ ini kan sebetulnya ‘background’-nya bukan kultur kita. Nah, kita dengan kultur jawa yang mempunyai identitas tersendiri di sini, menurut saya harus diperkuat,” katanya.
Jadi, kata Nila, kalau ada kemudian barang-barang, termasuk pakaian bekas dari luar negeri masuk, bukannya tidak ada keinginan membeli, tapi setidaknya mereka punya pilihan fesyen dengan karya-karya dari lokal.
Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif Amir Hamzah mengatakan bahwa pihaknya berupaya mencari talenta-talenta baru pelaku ekonomi kreatif.
“Untuk mencari talenta-talenta baru, kami mengikutsertakan para pelaku ekonomi kreatif di Gresik untuk mengenalkan, selain desain ‘fesyen’-nya, kami coba dari teknologinya,” ungkapnya.
Ditambahkan, dengan pemanfaatan teknologi, tentunya akan menambah nilai suatu produk, sehingga bertambah juga nilai yang akan didapatkan para pelaku ekonomi kreatif.
“Bagi pelaku ekonomi kreatif, kuncinya untuk bersaing harus berani bekerja keras, ‘sustainable’, terus-menerus, dan yang pasti harus kreatif,” pungkasnya.
Untuk diketahui, hadir di acara Workshop Branding sub sektor Fesyen di GNI Gresik:
1. Nila Yani Haridyanti, S.I.Kom., M.IP (Anggota DPR RI Komisi VII)
2. Amir Hamzah, SE., MM (Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenparekraf RI)
3. Rian Pramana Suwanda, S. STP.,M. HP (Plt. Kabid Koperasi dan usaha mikro Diskoperindag Gresik)
4. Riris Ghofir (Narasumber yang merupakan Owner Java Moslem Fashion) (Telisik Hati)
















