DEMAK, BN News – Islam sejak awal telah mengenalkan konsep perjalanan yang tidak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menjadi sarana mengambil hikmah, memperkuat spiritualitas, dan mengenang perjuangan para pendahulu. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Wisata Religi Ziarah Wali Jawa Tengah yang dilaksanakan komunitas Generasi Nahdliyin yang juga merupakan alumni SMP Ta’miriyah ’89 Surabaya, pada 30–31 Oktober 2026.
Kegiatan yang mengusung semangat perjalanan spiritual ini menjadi kelanjutan dari program Ziarah Lima Wali Jawa Timur. Kali ini, rombongan melanjutkan perjalanan menapaki jejak dakwah para wali di Jawa Tengah, dengan mengunjungi sejumlah makam tokoh penyebar Islam, yakni Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, serta Raden Patah di kawasan Masjid Agung Demak.
Sebelum memulai rangkaian ziarah di Jawa Tengah, rombongan terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari rangkaian napak tilas perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya melalui pendekatan dakwah yang santun, bijaksana, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di setiap tempat yang dikunjungi, para peserta tidak hanya berziarah dan memanjatkan doa, tetapi juga merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan, keteladanan, serta semangat keislaman yang diwariskan para ulama dan pendakwah terdahulu.
Lebih dari sekadar perjalanan wisata religi, kegiatan ini juga memiliki pesan kebangsaan dan keorganisasian. Di tengah semarak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, rombongan turut memanjatkan doa agar seluruh rangkaian peringatan HSN tahun ini dapat berjalan dengan baik dan sukses, sekaligus menjadi momentum memperkuat peran santri dalam menjaga agama, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pimpinan rombongan, HM. Taufik Mukti, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan lancar dan penuh kebahagiaan.
“Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, kami bersyukur program ini dapat terselenggara dengan sukses, lancar, dan penuh kebahagiaan. Terima kasih kepada teman-teman, para santri, serta komunitas Generasi Nahdliyin yang telah ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan program ini,” ungkapnya.
Ia berharap kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan tersebut tidak berhenti pada perjalanan ziarah semata, tetapi terus berlanjut dalam berbagai kegiatan positif yang berlandaskan nilai-nilai perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama.
“Semoga kebersamaan dan kebahagiaan ini terus berlanjut dalam panji dan perjuangan para muassis serta muharrik Nahdlatul Ulama. Kita berharap semangat kebersamaan, kecintaan kepada para ulama, dan komitmen menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah senantiasa terpelihara,” tambah HM. Taufik Mukti.
Sementara itu, Hj. Nanik Ismayani, selaku pemerakarsa kegiatan, turut menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas antusiasme seluruh peserta yang telah mendukung terselenggaranya perjalanan religi tersebut.
Menurutnya, kegiatan ziarah seperti ini memiliki nilai penting, bukan hanya sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarsesama alumni dan warga Nahdliyin, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif tentang perjuangan para ulama dalam membangun peradaban Islam di Indonesia.
Kebersamaan yang terjalin selama perjalanan menjadi salah satu hal yang paling berkesan. Perbedaan usia, kesibukan, dan aktivitas sehari-hari seolah melebur dalam satu tujuan, yakni berziarah, berdoa, bersilaturahmi, dan mengambil teladan dari perjalanan dakwah para wali.
Melalui kegiatan ini, komunitas Generasi Nahdliyin alumni SMP Ta’miriyah ’89 Surabaya ingin menegaskan bahwa tradisi ziarah bukan sekadar mengenang masa lalu. Lebih dari itu, ziarah merupakan ikhtiar spiritual untuk meneladani perjuangan para ulama, memperkuat kecintaan kepada para wali, serta meneruskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan kepada generasi berikutnya.
Perjalanan pun menjadi pengingat bahwa warisan terbesar para wali bukanlah semata tempat-tempat bersejarah yang mereka tinggalkan, melainkan nilai dakwah, keteladanan, persatuan, dan perjuangan yang tetap hidup hingga hari ini.
Dari Surabaya menuju tanah para wali di Jawa Tengah, perjalanan ini bukan hanya tentang menapaki jejak sejarah, tetapi juga merawat ukhuwah, menguatkan spiritualitas, dan meneguhkan semangat perjuangan Nahdliyin. (*)















