Penulis📚 Ridwan/Eva/Telisik Hati
BN News.com – Dari fenomena yang ada, saat ini rasa hormat siswa terhadap guru cenderung menurun. Guru seolah tidak berwibawa di depan peserta didik. Guru diolok-olok bahkan dilecehkan olehnya. Walau tentunya bersifat Kasuistis.
“Para ahli banyak menganalisis apa faktor penyebab masalah ini terjadi. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, bermain, masyarakat hingga dampak negatif media. Untuk itu, seorang guru perlu memiliki kecerdasan emosional yang matang dan utamanya mendidik dengan hati. Mendidik adalah membentuk generasi yang beradab dan hakikatnya dari pendidikan adalah sebuah proses menuju lebih baik,” ujar Eva
Eva Rusdianah, sang penulis karya ilmiah “Mendidik dengan Hati”, Selasa (4/4/2023).

Lebih lanjut Eva, sapaan akrabnya menjelaskan, dari fenomena yang ada tersebut, kita satu tim mengangkat Judul “Mendidik dengan Hati”. Judul tersebut terinspirasi dari Rektor STAIDA Gresik Dr. H. A. Syifa’ul Qulub, S.Ag, M.EI yang akrab dipanggil Cak Afuq. Tim terdiri dari Dosen pembimbing Dr. H. A. Syifa’ul Qulub, S.Ag, M.EI , Nor Mubin, S.Ag, M.Pd dan Eva Rusdianah, perserta karya tulis dari STAIDA Gresik.

“Dengan Judul “Mendidik dengan Hati”, Alhamdulillah, dalam setiap even karya tulis tingkat nasional menjadi judul terfavorit dan mendapatkan juara 1 tingkat Nasional,” ungkapnya dengan nada penuh syukur.
Sementara Rektor STAIDA Gresik Dr. H. A. Syifa’ul Qulub, S.Ag. M.EI mengatakan, judul tersebut merupakan judul yang luar biasa, sangat memiliki nuansa filosofis terkait dengan hakikat dan capaian proses pendidikan dan arah membentuk satu insan yang mulia, berintegritas, berakhlak, berbudi pekerti, cerdas secara budaya, sosial, dan teknologi.
“Apalagi di era transformasi digital, harapan besar dan target sangat tinggi dibutuhkan satu effort dalam pola dan pendekatan dalam satu edukasi,” terang Cak Afuq sapaan akrab Dr. H. A. Syifa’ul Qulub, S.Ag, M.EI.
Cak Afuq menambahkan, dirinya sangat menginspirasi judul yang diambil Eva. Karena hari ini kita dihadapkan percepatan digital, tetapi di sisi lain banyak peserta didik seakan-akan tercabut akar subtansi keilmuannya. Sehingga pemahaman satu mendasar tentang keilmuannya sering kali terlupakan, karena dituntut satu target capaian prestasi akademik.
“Tapi kita harus menyadari prestasi non akademik lebih penting untuk membentuk pribadi yang cerdas secara intelektual, budaya atau memiliki integritas yang tinggi, apalagi di era sekarang dan mendidik dengan hati adalah proses lebih bermakna,” tandasnya.
Untuk itu, Cak Afuq mendorong dan terus memotivasi mahasiswa maupun civitas akademika guna meningkatkan intensitas mutu akademik melalui budaya literasi kampus. (Ridwan/Eva/Telisik Hati)
















