Surabaya, BN News — Gerabah Gosari menjadi salah satu warisan budaya yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai identitas lokal, sumber pengetahuan sejarah, sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam pemaparan yang disampaikan oleh Iftikhar A. Rajwie dan Arik S. Wartono melalui perspektif seni kontemporer, tradisi kerajinan, serta penelitian sejarah dan arkeologi.
Iftikhar A. Rajwie dalam pemaparannya mengulas hubungan antara praktik keramik tradisional dan seni kontemporer. Menurutnya, seni tidak hanya berkutat pada aspek artistik dan keindahan visual, tetapi juga berkaitan dengan narasi budaya, identitas, sejarah, dan kehidupan masyarakat.
Ketertarikannya terhadap keramik tradisional berangkat dari pemahaman bahwa gerabah bukan sekadar benda seni, melainkan juga artefak budaya yang merekam kehidupan manusia. Melalui interaksi dengan para perajin, ia menemukan bahwa pengetahuan lokal, teknik pembakaran, karakteristik material, dan kreativitas perajin tradisional memiliki potensi artistik yang dapat dikembangkan dalam praktik seni kontemporer.
Melalui kolaborasi dengan perajin, Iftikhar berupaya menjembatani keterampilan tradisional dengan perkembangan seni masa kini. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengangkat nilai lokalitas dan identitas budaya ke ruang apresiasi yang lebih luas, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin.
Sementara itu, Arik S. Wartono mengangkat sejarah Gerabah Gosari yang diperkirakan berkembang sejak abad ke-12 hingga abad ke-15. Ia memaparkan berbagai temuan arkeologis di kawasan Gosari, mulai dari fragmen gerabah, tungku pembakaran, peralatan produksi, hingga prasasti yang menjadi petunjuk penting untuk memahami aktivitas masyarakat pada masa lampau.
Menurut pemaparannya, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Gosari memiliki jejak aktivitas produksi gerabah yang penting untuk diteliti lebih lanjut. Tumpukan fragmen gerabah yang pernah membentuk bukit juga menjadi gambaran besarnya aktivitas produksi yang berlangsung pada masa lalu.
Arik turut menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan hubungan sejarah dan jaringan perdagangan antara Gosari dengan sentra gerabah lainnya, termasuk Kasongan. Gagasan tersebut membuka ruang diskusi mengenai persebaran pengetahuan, keterampilan, dan tradisi gerabah di Nusantara yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan historisnya.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi gerabah Gosari menghadapi tantangan karena keterampilan pembuatannya tidak lagi sepenuhnya dikuasai masyarakat setempat. Karena itu, upaya menghidupkan kembali tradisi tersebut perlu dilakukan melalui pembelajaran, pendampingan, serta kolaborasi dengan sentra gerabah yang masih aktif.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah membangun kerja sama dengan perajin dari Kasongan dan sentra kerajinan lainnya untuk mengembangkan produk suvenir khas Gosari. Upaya ini dapat dipadukan dengan pengembangan wisata edukasi dan budaya, sehingga pengunjung tidak hanya menikmati destinasi wisata, tetapi juga mengenal sejarah serta proses pembuatan gerabah.
Kedua pemaparan tersebut memperlihatkan bahwa gerabah Gosari dapat dipandang dari dua sisi yang saling melengkapi: sebagai sumber inspirasi bagi praktik seni kontemporer dan sebagai warisan sejarah yang perlu diteliti, dilestarikan, serta dihidupkan kembali.
Melalui pendekatan seni, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat, Gerabah Gosari berpeluang menjadi bagian penting dari penguatan identitas budaya lokal sekaligus pengembangan wisata edukasi di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. (*)
















