Penulis📚 Mayek Prayitno/Telisik Hati
BN News.com – Hari Menggambar Nasional yang diinisiasi oleh Forum Drawing Indonesia (FDI) ditetapkan pada bulan Mei telah menarik antusiasme komunitas seni dari seluruh pelosok negeri, hal ini karena salah satu tawaran konsep egaliternya, yakni seluruh komunitas yang terlibat didorong untuk menciptakan karya seni berupa gambar atau sejenisnya, kemudian dipamerkan di ruang-ruang alternatif sesuai kebutuhan dan gagasan komunitas tersebut. Secara tidak langsung komunitas dibebaskan dalam mengeksekusi model pameran dengan bingkai tema yang sudah ditentukan sebagai “Gembira Menggambar”. Komunitas berhak melakukan aktivitas kreatif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, pelajar, pekerja seni, pelukis atau mereka yang berminat dalam dunia gambar.

Sanggar DAUN dari Gresik merupakan salah satu komunitas yang terlibat dalam merayakan Hari Menggambar, mereka bekerjasama dengan komunitas Padhang Njingglang (KOMPAN) dari Tulungagung untuk merespon Bulan Menggambar Nasional. Keanggotaan Sanggar DAUN terdiri dari berbagai usia mulai balita, anak-anak, remaja dan kaum muda yang berasal dari kota Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jogja, Depok dan Jakarta. Sedangkan KOMPAN beranggota mulai anak-anak hingga para pemuda dari Tulungagung, Jawa Timur.
Menariknya, dua komunitas ini memiliki konsentrasi pada lingkungan hidup. Kegiatan kreatif mereka menggunakan media dari tunas kelapa muda yang digambar dengan cat akrilik dan spidol. Karya berbahan tunas kelapa yang hidup ini dipamerkan hanya dalam waktu satu hari 14 Mei 2023 di Kota Gresik dan dipemerkan kembali 27 Mei 2023 di Kota Tulungagung, karena esok harinya 28 Mei 2023 tunas muda ini akan ditanam di bukit dan bibir pantai Ngalarap dan pantai Sine, pesisir selatan pulau Jawa di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Minat mereka pada konservasi alam ini merupakan respon alamiah atas kegelisahan terhadap gangguan ekosistem, dimana abrasi dan aktifitas manusia mempengaruhi lingkungan hidup sebagai satuan ekosistem. Di daerah pesisir Tulungagung kerap sekali terjadi berbagai perubahan yang diakibatkan oleh aktifitas manusia dan gejala alam itu sendiri. Menurut thesisnya Muhammad Rodhi Kusna (2019), garis pantai Sine kabupaten Tulungagung mengalami kemunduran setiap tahun dalam satu meter yang mempengaruhi lingkungan rumah atau pemukiman warga yang ada didekat pantai sehingga membahayakan bagi warga sekitar. Selain itu, kawasan pantai dikembangkan pula berbagai kegiatan pariwisata, industri, kegiatan nelayan dan pertanian, berbagai aktifitas ini perlu kontrol dan pengawasan yang memadahi untuk mencegah kerusakan lingkungan dan potensi bencana di masa depan.
Dalam itu, partisipasi mandiri dari Sanggar DAUN dan komunitas Padhang Njingglang memiliki relevansi yang bersifat urgensial. Kerja kreatif dan kolaboratif ini setidaknya upaya untuk mengajak kembali pentingnya menjaga kondisi alam disekitar pantai pesisir yang rawan abrasi dengan cara menanam kembali pohon, salah satunya pohon kelapa. Tunas pohon kelapa yang dilukis-digambari kemudian ditanam ini merupakan penanda, bahwa seni lingkungan atau enviromental art sudah seharusnya dihidupkan kembali peran dan posisinya ditengah hubungan masyarakat yang semakin kompleks perkembangannya. Dimana para kreator seni mengajak berpartisipasi, kerja kolaboratif dengan masyarakat sekitar, tidak hanya untuk peduli namun sekaligus mengelola lingkungan secara bersama-sama, agar alam tetap terjaga dan jauh dari bencana. (Mayek Prayitno/Telisik Hati)
Referensi :
– Jurnal ilmiah ilmu dasar dan lingkungan hidup, IAIN Tulungagung, 2020.
– Thesis Muhammad Rodhi Kusna, 2019.
















