Pacitan, BN News — Komitmen Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur dalam menguatkan budaya inklusi terus dipertegas. Sebanyak 38 Ketua DWP Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Jawa Timur resmi dikukuhkan sebagai Bunda Inklusi, ditandai dengan penyematan selempang oleh Ketua DWP Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kholilati Bahtiar, Jumat (9/1/2026), di Hotel Parai, Pacitan.
Penyematan Bunda Inklusi ini merupakan tindak lanjut dari penobatan Bunda Inklusi Provinsi Jawa Timur yang sebelumnya disematkan kepada Ketua DWP Kanwil Kemenag Jatim oleh Penasihat DWP Kemenag RI, Ny. Helmi Nasaruddin Umar, pada 10 Desember 2025 lalu.
Langkah ini menjadi bentuk konkret keseriusan DWP dalam mendorong kesadaran dan praktik inklusi, dimulai dari keluarga ASN hingga menjangkau masyarakat luas.
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas penguatan peran Bunda Inklusi di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Ia menilai amanah tersebut bukan sekadar simbol, melainkan tanggung jawab moral untuk menghadirkan layanan keagamaan dan pendidikan yang ramah bagi semua.
“Penyematan Bunda Inklusi ini bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi amanah mulia yang menegaskan komitmen DWP dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan sosial, khususnya bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” ujar Bahtiar.
Menurutnya, kehadiran Bunda Inklusi di setiap daerah menjadi wujud nyata pendampingan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memperoleh perhatian, bimbingan, serta dukungan yang layak. Ia meyakini, dengan keteladanan dan kepemimpinan Ketua DWP, budaya inklusi akan tumbuh kuat di lingkungan keluarga ASN, satuan kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.
“Semoga amanah ini membawa keberkahan dan memperkuat kontribusi DWP dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan bermartabat, sebagaimana semangat kamu, kita setara,” pungkasnya.
Dalam sambutannya, Ketua DWP Kanwil Kemenag Jawa Timur Kholilati Bahtiar menegaskan bahwa penyematan Bunda Inklusi bukan sekadar seremoni, melainkan penyerahan amanah besar untuk menghadirkan wajah Kementerian Agama yang lebih empatik dan memanusiakan manusia.
“Penyematan selempang Bunda Inklusi hari ini adalah amanah untuk menghadirkan Kementerian Agama yang ramah, penuh cinta, dan inklusif di seluruh pelosok Jawa Timur,” tuturnya.
Ia mengingatkan pesan Penasihat DWP Kemenag RI bahwa inklusi adalah budaya cinta. Oleh karena itu, para Bunda Inklusi diminta menjadi “mata dan telinga” bagi mereka yang kerap terpinggirkan, memastikan tidak ada lagi sekat diskriminasi di kantor Kemenag, madrasah, maupun KUA.
Kholilati juga menekankan pentingnya menjadikan inklusi sebagai budaya, bukan sekadar regulasi.
Gerakan inklusi harus dimulai dari keluarga ASN, kemudian meluas ke organisasi dan masyarakat. Selain itu, implementasi nyata di satuan pendidikan dan rumah ibadah menjadi perhatian utama agar seluruh layanan benar-benar ramah bagi semua kalangan.
“Menjadi Bunda Inklusi berarti siap menjadi pelukan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan. Satu langkah kecil yang dilakukan dengan cinta akan menjadi harapan besar bagi banyak keluarga,” pesannya.
Ia menutup sambutan dengan mengucapkan selamat bertugas kepada seluruh Bunda Inklusi Kabupaten/Kota se-Jawa Timur, seraya berharap Allah SWT senantiasa membimbing langkah DWP dalam menebar kasih sayang dan memperkuat gerakan inklusi yang tulus dan berdampak.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Sugiyo, menyampaikan bahwa pengukuhan Bunda Inklusi merupakan langkah strategis dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan inklusif agar dapat berjalan secara optimal hingga tingkat Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota serta seluruh madrasah di Jawa Timur.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat penyelenggaraan pendidikan madrasah yang berkeadilan, ramah, dan inklusif, dengan memastikan seluruh peserta didik, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus, memperoleh akses, kesempatan, dan layanan pendidikan yang setara sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. (Kemenag Jatim/Telisik Hati)
















