GRESIK, BN News – Menyambut hari Kemerdekaan RI ke-81, Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur menginisiasi gerakan inovatif mengenal sejarah. Gerakan yang bertajuk “Murid Menjemput Sejarah : 81 Tahun Indonesia Merdeka”, ini mengajak para murid belajar perjuangan dan arti kemerdekaan dari para veteran atau keluarga pejuang RI di wilayahnya masing-masing. Gerakan inspiratif ini berlangsung pada 12-16 Agustus 2026.
Gerakan tersebut melibatkan sekolah SMA, SMK dan SLB di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Para murid bersama guru mendatangi rumah veteran maupun keluarga pejuang di wilayah masing-masing untuk mendengarkan langsung kisah perjuangan sekaligus menggali pesan bagi generasi muda.
Program dari Dindik Jatim ini pun langsung ditindaklanjuti oleh SMAN 1 Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Bahkan, Ibu Kepala Sekolah turun langsung bersama sejumlah guru dan muridnya melakukan anjangsana ke rumah salah seorang Veteran yang tinggal di Jalan Permata No 16 Kota Baru Driyorejo (KBD) Gresik.
Sang Veteran yang dikunjungi tersebut adalah Bapak Suparjo. Beliau adalah Veteran Pembebasan Timor Timur (Tahun 1974-1975), yang sampai saat ini aktif berkegiatan di masyarakat, walaupun kondisi ekonominya cukup memprihatinkan.

“Kami dibuat terkesan sekaligus takjub dengan kisah perjuangan Pak Suparjo. Jiwa Nasionalisme dan rasa cinta tanah airnya sangat luar biasa patut diteladani oleh seluruh generasi muda, khususnya para murid SMAN 1 Kedamean,” ungkap Kepala SMAN 1 Kedamean Hj. Nurul Wafiyah, M.Pd., Minggu (16/8/2026).
Sementara Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, Program Anjangsana ke Veteran ini sengaja dirancang agar pelajar tidak hanya mengenal sejarah dari buku, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pelaku maupun keluarga yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan dari buku pelajaran, upacara, atau cerita di ruang kelas. Kami ingin mereka datang langsung, duduk bersama para veteran dan keluarga pejuang, mendengar kisahnya, melihat keteladanannya, dan memahami bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa,” tegas Aries.
Selain melakukan anjangsana, murid membawa bingkisan sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada para pejuang. Namun, menurut Aries, bingkisan bukan tujuan utama kegiatan. Hal terpenting adalah menghadirkan kepedulian sekaligus mempertemukan generasi muda dengan sejarah secara langsung.
“Sembako, selimut maupun tali asih yang dibawa murid sebenarnya bukan tujuan utamanya. Yang paling penting adalah menghadirkan rasa hormat, kepedulian dan terima kasih generasi hari ini kepada para pejuang,” katanya.
Kadindik kelahiran Makassar ini menegaskan, semangat perjuangan harus diterjemahkan sesuai tantangan generasi saat ini. Mengisi kemerdekaan tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui pendidikan, prestasi, kepedulian sosial dan kontribusi positif bagi bangsa.
“Kami ingin menanamkan kepada murid bahwa mengisi kemerdekaan sekarang tidak lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga persatuan, memiliki kepedulian sosial, serta memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegasnya.
Menurut Aries, setiap kunjungan juga menghasilkan dokumentasi berupa pesan kemerdekaan dari veteran untuk generasi muda. Pesan tersebut dapat dituangkan dalam video berdurasi satu hingga dua menit maupun tulisan tangan.
“Yang membuat gerakan ini berbeda adalah setiap kunjungan menghasilkan pesan kemerdekaan bagi murid di Jawa Timur. Pesan tersebut kemudian tertuang dalam sebuah video berdurasi satu sampai dua menit ataupun tulisan tangan dari para veteran,” jelasnya.
Ia menilai, gerakan tersebut berpotensi berkembang menjadi model pendidikan karakter yang khas Jawa Timur karena memadukan literasi sejarah, kepedulian sosial, penghormatan terhadap pejuang dan dokumentasi sejarah lokal.
“Jika buku mengajarkan sejarah, maka para veteran mengajarkan kepada anak-anak kita tentang harga kemerdekaan,” tutur Aries.
Antusiasme juga datang dari para veteran. Menurut Aries, sejumlah veteran mengaku terharu karena masih ada generasi muda yang datang secara langsung untuk mendengarkan kisah perjuangan mereka.
“Para veteran mengapresiasi yang dilakukan murid-murid dan guru karena mereka terharu masih ada yang peduli dengan sejarah secara langsung, bukan hanya di buku. Mereka bisa mendengarkan langsung dari pelaku sejarah,” katanya.
Dari kegiatan tersebut, para pelajar juga menemukan beragam kondisi kehidupan veteran. Sebagian hidup cukup mapan, tetapi ada pula yang tinggal di rumah sederhana, rumah kontrakan, hingga tempat tinggal yang membutuhkan perbaikan.
Temuan tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sosial bagi para murid bahwa penghormatan kepada pejuang tidak berhenti pada seremoni, tetapi dapat diwujudkan melalui kepedulian nyata.
“Harapan kami, sepulang dari rumah veteran, anak-anak membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang mereka berikan, yaitu cerita perjuangan, keteladanan, semangat pantang menyerah, dan kesadaran bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan melalui pendidikan,” pungkasnya.
Gerakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari visi Dindik Jatim menghadirkan “Jatim Cerdas, Pendidikan Berdampak”, yakni memastikan pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi memberi pengalaman dan nilai yang membentuk karakter serta kepedulian peserta didik terhadap lingkungan dan bangsanya. (*)
















